Ulinuha Asnawi

Catatan Ilmu Alat · Nahwu · Shorof · Alfiyah · Balaghah

MACAM-MACAM KEDUDUKAN MUJTAHID

MACAM-MACAM KEDUDUKAN MUJTAHID

1. Mujtahid Mustaqill (المجتهد المستقل)

 

Mujtahid mustaqill adalah mujtahid yang mampu menyusun kaidah ushul fiqh sendiri, lalu membangun hukum-hukum fikih di atas kaidah tersebut. Ia tidak terikat dengan metodologi imam sebelumnya.

 

Termasuk dalam kategori ini adalah para Imam Madzhab Empat; Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’I, dan Imam Hanafi (rahimahumullah) . Syaikh Ibnu ‘Abidin (w. 1252 H) menyebut tingkatan ini sebagai: “Thabaqah al-Mujtahidīn fī asy-Syar‘ ”

 

2. Mujtahid Muthlaq Ghair Mustaqill (المجتهد المطلق غير المستقل)

 

Yaitu mujtahid yang memenuhi seluruh syarat ijtihad mutlak, tetapi tidak menciptakan kaidah sendiri, melainkan mengikuti manhaj salah satu imam mujtahid. Mereka disebut muntasib, bukan mustaqill.

 

Contoh:

Dari Hanafiyah: Abu Yusuf, Muhammad bin al-Hasan, Zufar

Dari Malikiyah: Ibnul Qasim, Asyhab, Asad bin al-Furat

Dari Syafi‘iyah: al-Buwaiti, al-Muzani

Dari Hanabilah: Abu Bakar al-Marwazi

Syaikh Ibnu ‘Abidin menamakan mereka: “Thabaqah al-Mujtahidīn fī al-Madzhab”

 

Mereka mengeluarkan hukum dari dalil syar‘i sesuai metodologi imamnya, walaupun terkadang berbeda pendapat dalam masalah furu‘, namun tetap satu dalam ushul. Mayoritas ulama berpendapat bahwa dua tingkatan pertama ini telah terputus, karena beratnya syarat ijtihad mutlak.

 

3. Mujtahid Muqayyad (المجتهد المقيد)

 

Disebut pula Mujtahid Masā’il atau Mujtahid Takhrīj menurut jumhur. Mereka adalah ulama yang: Berijtihad dalam masalah yang tidak ada nash dari Imam Madzhab. Mengeluarkan hukum berdasarkan kaidah imam. Mereka dikenal sebagai Ashḥābul Wujūh, dan hasil ijtihad mereka disebut wajh dalam madzhab.

 

Contoh:

🟦 HanafiyahAbu Bakr al-Khashshaf — w. 261 H

Abu Ja‘far ath-Thahawi — w. 321 H

Abu al-Hasan al-Karkhi — w. 340 H

Shams al-A’immah as-Sarakhsi — w. 483 H

Fakhr al-Islam al-Bazdawi — w. 482 H

Qadhi Khan — w. 592 H

 

🟨 Malikiyah

Abu Ishaq al-Abhari — w. 375 H

Ibnu Abi Zaid al-Qairawani — w. 386 H

🟩 Syafi‘iyah

Abu Ishaq asy-Syirazi — w. 476 H

Abu al-Hasan al-Marwazi — w. 450 H

Ibnu Khuzaimah — w. 311 H

🟥 Hanabilah

Qadhi Abu Ya‘la al-Farra’ — w. 458 H

Qadhi Abu Ali bin Abi Musa — w. 428 H

Pendapat mereka dinisbatkan kepada diri mereka, bukan kepada Imam Madzhab.

 

4. Mujtahid Tarjīḥ (مجتهد الترجيح)

 

Mujtahid yang mampu menguatkan satu pendapat dari beberapa riwayat dalam madzhab, atau mentarjih pendapat imam dengan murid-muridnya atau imam lain.

 

Contoh:

Hanafiyah: al-Qaduri, al-Marghinani (penulis al-Hidāyah)

Malikiyah: al-‘Allamah Khalil

Syafi‘iyah: ar-Rafi‘i, an-Nawawi

Hanabilah: al-Mardawi, Abul Khaththab al-Kaludzani

 

5. Mujtahid Fatwa (مجتهد الفتوى)

 

Yaitu ulama yang berpegang kuat pada madzhab. Menyampaikan dan menjelaskan pendapat madzhab. Membedakan antara rajih–marjuh, qawi–dha‘if. Namun mereka lemah dalam istinbath dalil dan qiyas. Termasuk ulama periode muta’akhkhirin.

 

Contoh:

Hanafiyah: penulis al-Kanz, ad-Durr al-Mukhtar, al-Wiqayah, Majma‘ al-Anhar

Syafi‘iyah: ar-Ramli, Ibnu Hajar al-Haitami

 

6. Thabaqah al-Muqallidīn (طبقة المقلدين)

 

Yaitu orang yang tidak mampu membedakan pendapat rajih dan marjuh. Tidak dapat melakukan tarjih. Wajib bertaklid kepada ulama madzhab.

 

Catatan Penting

 

Jumhur ulama tidak membedakan antara Mujtahid Muqayyad dan Mujtahid Takhrij. Ibnu ‘Abidin memisahkan Mujtahid Takhrij sebagai tingkatan tersendiri, setelah Mujtahid Muqayyad. Contohnya: Ar-Razi al-Jashshash (w. 370 H)

 

Rujukan: Ketentuan di atas dinukil dari: Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu

Juz 1, halaman 46–48

Tidak ada komentar: