22.31
Katanya
pintu ijtihad dalam istinbath hukum fikih itu telah tertutup. Menurut pengakuan
beberapa Kiai di tanah Jawa. Disisi lain ada yang berpendapat “bukan telah
tertutup”, tapi saking lamanya pintu tersebut tertutup, sehingga sulit untuk
membukanya kembali. Ada juga yang berpendapat; sebenarnya para Kiai (sebutan
Ulama di Jawa) itu telah berijtihad, karena begitu andap-asornya para Kiai Jawa,
sehingga beliau tidak mengatakan ‘saya telah berijtihad’. Ada juga yang nekad,
tanpa memiliki pengetahuan yang memadai, tapi ia bersikukukuh menolak mengikuti
pendapat Ulama yang terdahulu, dengan dalih kembali pada al-Qur’ân dan hadits
nabi.
Untuk
pendapat yang terakhir diatas sangatlah memilukan, namun demikian lah realita
yang ada. Saya teringat pitutur orang jawa“noto manungso ora gampang koyo
noto boto” kalaw diterjemahkan; Menata Umat itu tidak semudah menata batu
bata.
Pendapat
yang penulis petik dibawah ini dari kitab Ulama Syafi’iyah yang mendapat
kedudukan tinggi dan tidak lagi diragukan ke-‘âliman-nya, baik bagi Ulama
sezaman atau Ulama setelahnya, yaitu; Ḫilyatu ‘Ulamâ Fî Madzâhib al-Fuqahâ
karya Imam Qofal, Abu Bakar Muhammad Ibnu Muhammad Asy-Syâsyi. Shahifah; 39
من أصحابنا
من قال: إذا خاف المجتهد فوت العبادة المؤقتة إذا اشتغل بالإجتهاد جاز له أن يقلد
من يعرفه .
وقال محمد
بن الحسن : يجوز للعالم تقليد من هو أعلم منه .
وفرض
العامي التقليد في أحكام الشرع، ويقلد الأعلم الأروع من أهل الإجتهاد في العلم . وقيل:
يقلد من شاء منهم .
فإن اختلف
عليه اجتهادان . فظاهر كلام الشافعي رحمه الله : أن يقلد آمنهما عنده، فإن استويا
في ذلك عنده أخذ بالأشق من قوليهما . وقيل : يأخذ بالأخف .
وفي تقليد
الميت من العلماء فيما ثبت من قوله : وجهان، أظهرهما : جوازه .
Beberapa
Ulama Madzhab Kami ( Madzhab Syafi’iyah), ada yang mengatakan ; Jika seorang
Mujtahid dikhawatirkan habisnya waktu ibadah yang bergantung pada ketentuan
waktu, ketika disibukkan (istighâl) dengan istinbath hukum (ijtihad),maka
baginya diperbolehkan mengikuti hasil ijtihad Ulama (taqlîd) yang
diketahui kealiman-nya.
Muhammad
ibnu Ḫasan mengatakan; Bagi seseorang
yang ‘Âlim diperbolehkan (jawâz) mengikuti hasil ijtihad Ulama lain (taqlîd)
yang dipandang lebih ‘Âlim dari-nya.
Wajib
bagi orang yang bodoh (‘âmiy) mengikuti hasil ijtihad Ulama (taqlîd)
dalam ketentuan hukum syar’i, ia
mengikuti hasil ijtihad Ulama yang lebih ‘âlim dan yang lebih wira’i dari para
Ulama yang Ahli berijtihad dalam ilmu
agama.
Ada beberapa
pendapat Ulama yang menyatakan (qîl) bagi orang yang bodoh (‘âmiy)
boleh mengikuti ijtihad Ulama (taqlîd) kepada siapa saja yang
dikehendaki (tidak memilih mana yang lebih ‘alim dan wira’i).
Jika
dari hasil ijtihad Ulama terdapat perbedaan dua perbedaan pendapat (ikhtilâf),
maka kejelasan pendapat Imam Syafi’i raḫimahulLâh, maka ia mengikuti
pendapat Ulama yang lebih amanah dari keduanya, jika sama-sama amanah maka
dalam permasalahan ini boleh menjadikan pegangan dengan salah satu pendapat
yang ia kehendaki.
Beberapa
Ulama ada yang mengatakan (qîl) berpegang teguh pada pendapat yang lebih
memberatkan dari kedua pendapat tersebut. Ada juga yang mengatakan (qîl)
bersikukuh pada pendapat yang lebih ringan.
Dalam
permasalahan mengikuti hasil ijtihad (taqlîd) kepada Ulama yang telah
wafat, yang telah dikukuhkan dalam suatu pendapat dalam suatu permasalahan hukum,
disini terdapat dua wajah, yang dzahir, hokum-nya boleh (jawaz). WalLâhu
a’lam..
05.08
Pelupa
merupakan sifat yang lazim pada diri manusia. Sifat pelupa ini sudah tidak pandang bulu, wa qila bahkan rasulullah shallallahu 'alaihi wasalam dalam suatu riwayat beliau menyatakan, terkadang aku lupa supaya menjadi pelajaran bagi
kalian [HR Imam Malik].
Maksudnya,
dengan lupanya Nabi Shallallâh ‘alaihi wasallam para sahabat bisa mengambil
pelajaran dan tahu apa yang harus dilakukan ketika ingat atau sadar. Terutama lupa dalam ibadah mahdhah.
Di
antara bentuk kealpaan yang sering terjadi ialah lupa rakaat shalat. Didalam shalat acap kali
pikiran kita melayang dan mengkhayal entah ke mana sehingga shalat pun tidak
fokus, jauh daari kata khusyu'. Terkadang ketika kalimat salam terucap dari mulut, barulah kita sadar
bahwa kita sedang mengerjakan shalat. Malahan ada yang setelah salam dan diam sejenak
baru kita menyadari ada satu atau dua rakaat yang tidak ditunaikan.
Apabila
kondisi ini menimpa seseorang, ada beberapa hal yang dapat dilakukan
berdasarkan penjelasan al-Qaffal dalam kitabnya Hilyatul Ulama fi Ma’rifatil
Madzahibil Fuqaha. Berikut kutipannya:
وإن نسي ركعة من ركعات
الصلاة وذكرها بعد السلام فإن لم يتطاول الفصل أتى بها وبنى على صلاته وإن تطاول
الفصل استأنفها
وفي حد التطاول أوجه
أحدها قال أبو إسحاق إن مضى قدر ركعة فهو تطاول وقد نص عليه الشافعي رحمه الله في
البويطي والثاني أنه يرجع فيه إلى العرف والعادة فإن مضى ما يعد تطاولا استأنف وإن
مضى ما لايعد تطاولا بنى والثالث قال أبو علي بن أبي هريرة إن مضى قدر الصلاة التى
نسي فيها استأنف وإن كان دون ذلك بنى
Jika
lupa sebagian raka’at shalat dan baru ingat setelah salam, kita boleh
menambahkan rakaat yang dilupakan secara langsung bila selang waktunya tidak
terlalu lama. Apabila jeda keduanya terlalu lama, kita wajib mengulang shalat
secara keseluruhan. Ulama berbeda pendapat perihal seberapa lama selang
waktunya. Menurut Abu Ishaq, jeda keduanya hanya kisaran durasi satu rakaat.
Jika jedanya kurang dari durasi satu rakaat, dia boleh menambahkan bilangan
rakaat yang terlupakan. Tetapi bila melebihi kadar satu rakaat shalat, ia
diwajibkan mengulang shalat. Pendapat ini merupakan pandangan Imam asy-Syafi’i
sebagaimana dikutip al-Buwaithi.
Pendapat
kedua mengatakan, takaran jeda keduanya didasarkan pada kebiasaan atau tradisi
masyarkat setempat. Bila menurut kebiasaan masyarakat, durasi jeda sudah
terlalu lama, ia harus mengulang shalat. Tetapi jika durasi jedanya sebentar,
ia hanya diwajibkan menambah raka‘at yang dilupakan.
Sementara
menurut pendapat ketiga sebagaimana dikatakan Abu ‘Ali Ibnu Abu Hurairah,
durasi jeda antara lupa dan menyempurnakan kekurangan raka’at diukur
berdasarkan ukuran lamanya rakaat shalat yang dilupakan. Apabila jedanya
kelewat lama, ia mesti mengulang dari awal. Kalau hanya sebentar, ia cukup
menyempurnakan kekurangan raka’at yang terlupa.
Kesimpulannya, apabila kita mengerjakan shalat dzuhur, kemudian setelah salam baru ingat bahwa ada beberapa rakaat yang terlupa, kita diperbolehkan untuk langsung berdiri menyempurnakan rakaat yang tertinggal. Namun jika selang waktunya terlalu lama, kita diwajibkan untuk mengulang shalat dzuhur dari awal sebanyak empat rakaat. Terkait berapa lama selang waktunya, para ulama berbeda pendapat sebagaimana yang disebutkan di atas.
WalLaahu a’lam…
07.19
MACAM-MACAM KEDUDUKAN MUJTAHID
1. Mujtahid Mustaqill (المجتهد المستقل)
Mujtahid mustaqill adalah mujtahid
yang mampu menyusun kaidah ushul fiqh sendiri, lalu membangun hukum-hukum fikih
di atas kaidah tersebut. Ia tidak terikat dengan metodologi imam sebelumnya.
Termasuk dalam kategori ini adalah
para Imam Madzhab Empat; Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’I, dan Imam Hanafi
(rahimahumullah) . Syaikh Ibnu ‘Abidin (w. 1252 H) menyebut tingkatan ini
sebagai: “Thabaqah al-Mujtahidīn fī asy-Syar‘ ”
2. Mujtahid Muthlaq Ghair
Mustaqill (المجتهد المطلق غير المستقل)
Yaitu mujtahid yang memenuhi
seluruh syarat ijtihad mutlak, tetapi tidak menciptakan kaidah sendiri,
melainkan mengikuti manhaj salah satu imam mujtahid. Mereka disebut muntasib,
bukan mustaqill.
Contoh:
Dari Hanafiyah: Abu Yusuf,
Muhammad bin al-Hasan, Zufar
Dari Malikiyah: Ibnul Qasim,
Asyhab, Asad bin al-Furat
Dari Syafi‘iyah: al-Buwaiti,
al-Muzani
Dari Hanabilah: Abu Bakar
al-Marwazi
Syaikh Ibnu ‘Abidin menamakan
mereka: “Thabaqah al-Mujtahidīn fī al-Madzhab”
Mereka mengeluarkan hukum dari
dalil syar‘i sesuai metodologi imamnya, walaupun terkadang berbeda pendapat
dalam masalah furu‘, namun tetap satu dalam ushul. Mayoritas ulama berpendapat
bahwa dua tingkatan pertama ini telah terputus, karena beratnya syarat ijtihad
mutlak.
3. Mujtahid Muqayyad (المجتهد المقيد)
Disebut pula Mujtahid Masā’il atau
Mujtahid Takhrīj menurut jumhur. Mereka adalah ulama yang: Berijtihad dalam
masalah yang tidak ada nash dari Imam Madzhab. Mengeluarkan hukum berdasarkan
kaidah imam. Mereka dikenal sebagai Ashḥābul Wujūh, dan hasil ijtihad mereka
disebut wajh dalam madzhab.
Contoh:
🟦 HanafiyahAbu Bakr al-Khashshaf — w. 261 H
Abu Ja‘far ath-Thahawi — w. 321 H
Abu al-Hasan al-Karkhi — w. 340 H
Shams al-A’immah as-Sarakhsi — w.
483 H
Fakhr al-Islam al-Bazdawi — w. 482
H
Qadhi Khan — w. 592 H
🟨 Malikiyah
Abu Ishaq al-Abhari — w. 375 H
Ibnu Abi Zaid al-Qairawani — w.
386 H
🟩 Syafi‘iyah
Abu Ishaq asy-Syirazi — w. 476 H
Abu al-Hasan al-Marwazi — w. 450 H
Ibnu Khuzaimah — w. 311 H
🟥 Hanabilah
Qadhi Abu Ya‘la al-Farra’ — w. 458
H
Qadhi Abu Ali bin Abi Musa — w.
428 H
Pendapat mereka dinisbatkan kepada
diri mereka, bukan kepada Imam Madzhab.
4. Mujtahid Tarjīḥ (مجتهد الترجيح)
Mujtahid yang mampu menguatkan
satu pendapat dari beberapa riwayat dalam madzhab, atau mentarjih pendapat imam
dengan murid-muridnya atau imam lain.
Contoh:
Hanafiyah: al-Qaduri,
al-Marghinani (penulis al-Hidāyah)
Malikiyah: al-‘Allamah Khalil
Syafi‘iyah: ar-Rafi‘i, an-Nawawi
Hanabilah: al-Mardawi, Abul
Khaththab al-Kaludzani
5. Mujtahid Fatwa (مجتهد الفتوى)
Yaitu ulama yang berpegang kuat
pada madzhab. Menyampaikan dan menjelaskan pendapat madzhab. Membedakan antara
rajih–marjuh, qawi–dha‘if. Namun mereka lemah dalam istinbath dalil dan qiyas. Termasuk
ulama periode muta’akhkhirin.
Contoh:
Hanafiyah: penulis al-Kanz,
ad-Durr al-Mukhtar, al-Wiqayah, Majma‘ al-Anhar
Syafi‘iyah: ar-Ramli, Ibnu Hajar
al-Haitami
6. Thabaqah al-Muqallidīn (طبقة المقلدين)
Yaitu orang yang tidak mampu
membedakan pendapat rajih dan marjuh. Tidak dapat melakukan tarjih. Wajib
bertaklid kepada ulama madzhab.
Catatan Penting
Jumhur ulama tidak membedakan
antara Mujtahid Muqayyad dan Mujtahid Takhrij. Ibnu ‘Abidin memisahkan Mujtahid
Takhrij sebagai tingkatan tersendiri, setelah Mujtahid Muqayyad. Contohnya:
Ar-Razi al-Jashshash (w. 370 H)
Rujukan: Ketentuan di atas dinukil
dari: Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu
Juz 1, halaman 46–48
01.34
ر م
Syihâb ad-Dîn Ahmad bin Hamzah ( ar-Ramly al-Kabîr ).
مـر
Syams ad-Dîn Muhammad bin Ahmad ( ar-Ramly As-
Saghîr 919 - 1004 H. ).
حـج
Ibn Hajar al-Haitamy ( 909 - 973 H. )
خـط
Al-Khathîb as-Syirbîny ( … - 977 H. ).
ز ي
Nûr ad-Dîn
'Ali az-Zayâdy atau az-Ziyâdy ( … - 1024 H.).
س م / س ب
Syihâb ad-Din bin Qâsîm al-Abâdy ( 964 - 922 /
994 H.)
ظ ب
Nashîr ad-Dîn Manshûr at-Thablawy ( … - 1014 H.).
ب ر
Abû Abdillâh Muhammad bin Abd ad-Daim Al-Barmawy
.( 763 - 831 H.).
با ج
Al-Baijury ( 1198 - 1277 H.).
أ ج
Al- 'Allâmah 'Athiyyatullâh bin Athiyah al-Burhân
( … - 190 H.).
ح ف
Asy-Syamsu Muhammad bin Sâlim al-Hafnawy ( 1101 -
1181 H.).
ش ق / ش ر ق
Abdullâh bin Hijâz bin Ibrâhîm as-Syarqawy ( 1150
- 1226 / 1227 H.).
حا ل / ح ل
Nûr ad-Dîn 'Ali bin Ibrâhîm al-Halaby ( 975 -
1044 H.).
ع ش
'Ali Syibramalisy; Nûr ad-Dîn Abû Dliyâ' 'Ali bin
'Ali ( 997 - 1087 H.).
ق ل
Syihâb ad-Din Ahmad bin Salâmah al-Qulyûby ( ...
- 1069 H.).
س ل
Sulthân bin Ahmad al-Mazâkhi ( 985 - 1075 H.).
ع ن
Muhammad al-'Inâni ( ... - 1098 H.).
ب ج
Sulaimân
bin Muhammad bin 'Umar al- Bujairamy.
خ ض
Syamsu
Muhammad Syaubary al-Khadry ( 977 - 1069 H.).
م د
Hasan bin 'Ali Ahmad al-Mudâbiry ( … - 1170 H.).
ع ب / ع ب د
Abd al-Hamid; asy-Syekh Abd al-Hamid ad-Daghistâny.
أ ط
Muhammad bin Manshûr al-Ithfihy al-Mishry.
ي
As-Sayyid bin Abdullâh bin 'Umar al-Alawy ( 1209
- 1265 H.).
ك / ك ر
Asy-Syekh Muhammad bin Sulaimân al-Kurdy ( … -
1194 H.).
00.40
Telah dibuktikan didalam kitab-kitab para Imam,
sebagaimana perkara yang disebutkan oleh para Imam seperti diatas walaupun ada
perkara yang telah dikatakan sebagai bid’ah namun perlu diingat bahwa para imam
tidak serta merta menjatuhkannya pada status hukum haram, seperti perkataan
mereka yakni “bid’ah makruhah (bid’ah yang hukumnya makruh, bukan haram)”, juga
“bid’ah ghairu mustahibbah (bid’ah yang tidak dianjurkan)” maka ini status
hukumnya jatuh antara mubah dan makruh. Ada lagi istilah bid’ah munkarah yang
hukumnya makruh, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, perbuatan seperti diatas
tidaklah haram (berdosa) walaupun semisalnya dilakukan. Juga tidak bisa
dijadikan “dalih” mengharamkan tahlilan, sama sekali tidak ada benang merahnya.
Kenapa tidak semua bid’ah jatuh pada status hukum
haram ? Sebab bid’ah bukanlah hukum (status hukum Islam). Bid’ah adalah sebuah
istilah yang digunakan untuk menyebut perkara baru yang tidak berasal dari Nabi
Shallallahu ‘alayhi wa sallam. Adapun hukum Islam ada 5 yakni : wajib, sunnah
(mandub), mubah, makruh dan haram. Ini adalah bahasan tentang status hukum dan
penetapannya.
Maka, apabila ada perkara yang oleh ulama
dianggap sebagai bid’ah, mereka tidak serta merta menjatuhkan status hukum
haram untuk bid’ah tersebut, melainkan mereka (ulama) menimbang dan mengkaji
terlebih dahulu tentang bid’ah tersebut, yakni terkait selaras atau tidaknya
dengan kaidah-kaidah syariat. Sehingga nantinya akan terlihat/dapat disimpulkan
status hukum untuk perkara bid’ah tersebut, apakah masuk dalam hukum wajib,
sunnah/mandub/mustahab, mubah/jaiz, makruh dan haram. Sebab sesuatu harus
ditetapkan status hukumnya. Nikah pun yang jelas-jelas sunnah Rasulullah, tidak
serta merta dihukumi wajib tergantung kondisi dan situasinya. Oleh karena itu
bid’ah juga harus ditinjau dengan kaidah syariat dalam menetapkan hukum :
Jika masuk pada kaidah penetapan hukum makruh,
maka ulama akan menyebutnya sebagai “bid’ah makruhah (bid’ah yang hukumnya
makruh)” ; Jika masuk pada kaidah
penetapan hukum makruh haram maka ulama akan menyebutnya sebagai “bid’ah
muharramah (bid’ah yang hukumnya haram)” ;
Jika masuk pada kaidah penetapan hukum mubah/jaiz maka ulama akan
menyebutnya sebagai “bid’ah mubahah (bid’ah yang hukumnya mubah)” ; Jika masuk
pada kaidah penetapan hukum sunnah/mandub/mustabah maka ulama akan menyebutnya
sebagai “bid’ah mustahabbah (bid’ah yang hukumnya sunnah/ mustahab/ mandub)” ;
Jika masuk pada kaidah penetapan hukum wajib maka ulama akan menyebutnya
sebagai “bid’ah wajibah (bid’ah yang hukumnya wajib)”.
Sebagaimana Imam an-Nawawi
menyebutkan didalam al-Minhaj syarah Shahih Muslim :
قال العلماء البدعة خمسة أقسام واجبة ومندوبة ومحرمة
ومكروهة ومباحة فمن الواجبة نظم أدلة المتكلمين للرد على الملاحدة والمبتدعين وشبه
ذلك ومن المندوبة تصنيف كتب العلم وبناء المدارس والربط وغير ذلك ومن المباح التبسط
في ألوان الأطعمة وغير ذلك والحرام والمكروه ظاهران وقد أوضحت المسألة بأدلتها المبسوطة
في تهذيب الأسماء واللغات
“’Ulama berkata bahwa bid’ah terbagi menjadi 5
bagian (bagian hukum) yakni wajibah (bid’ah yang wajib), mandubah (bid’ah yang
mandub), muharramah (bid’ah yang haram), makruhah (bid’ah yang makruh), dan
mubahah (bid’ah yang mubah)”, diantara bid’abh yang wajib adalah penyusunan dalil oleh ulama mutakallimin
(ahli kalam) untuk membantah orang-orang atheis, ahli bid’ah dan seumpamanya;
diantara bid’ah mandzubah (bid’ah yang sunnah) adalah mengarang kitab ilmu,
membangun madrasah dan tempat ribath serta yang lainnya ; diantara bid’ah yang
mubah adalah mengkreasi macam-macam makanan dan yang lainnya, sedangkan bid’ah
yang haram dan bid’ah yang makruh, keduanya telah jelas dan telah dijelaskan
permasalahannya dengan dalil yang rinci didalam kitab Tahdzibul Asmaa wal
Lughaat”
Syarah Shahih Muslim Lil-Imam An-Nawawi
[6/154-155].
Berikut adalah redaksi dalam kitab
Tahdzibul Asma’ wal Lughaat, yang menjelaskan lebih rinci lagi tentang
pembagian bid’ah tersebut :
قال الشيخ الإمام المجمع على إمامته وجلالته وتمكنه
في أنواع العلوم وبراعته أبو محمد عبد العزيز بن عبد السلام رحمه الله ورضي عنه في
آخر كتاب "القواعد": البدعة منقسمة إلى: واجبة، ومحرمة، ومندوبة، ومكروهة،
ومباحة. قال: والطريق في ذلك أن تعرض البدعة على قواعد الشريعة، فإن دخلت في قواعد
الإيجاب فهي واجبة، أو في قواعد التحريم فمحرمة، أو الندب فمندوبة، أو المكروه فمكروهة،
أو المباح فمباحة، وللبدع الواجبة أمثلة منها: الاشتغال بعلم النحو الذي يفهم به كلام
الله تعالى وكلام رسول الله - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، وذلك واجب؛ لأن حفظ
الشريعة واجب، ولا يتأتى حفظها إلا بذلك وما لا يتم الواجب إلا به، فهو واجب، الثاني
حفظ غريب الكتاب والسنة في اللغة، الثالث تدوين أصول الدين وأصول الفقه، الرابع الكلام
في الجرح والتعديل، وتمييز الصحيح من السقيم، وقد دلت قواعد الشريعة على أن حفظ الشريعة
فرض كفاية فيما زاد على المتعين ولا يتأتى ذلك إلا بما ذكرناه، وللبدع المحرمة أمثلة
منها: مذاهب القدرية والجبرية والمرجئة والمجسمة والرد على هؤلاء من البدع الواجبة،
وللبدع المندوبة أمثلة منها إحداث الرُبِط والمدارس، وكل إحسان لم يعهد في العصر الأول،
ومنها التراويح، والكلام في دقائق التصوف، وفي الجدل، ومنها جمع المحافل للاستدلال
إن قصد بذلك وجه الله تعالى. وللبدع المكروهة أمثلة: كزخرفة المساجد، وتزويق المصاحف،
وللبدع المباحة أمثلة: منها المصافحة عقب الصبح والعصر، ومنها: التوسع في اللذيذ من
المآكل، والمشارب، والملابس، والمساكن، ولبس الطيالسة، وتوسيع الأكمام. وقد يختلف في
بعض ذلك فيجعله بعض العلماء من البدع المكروهة، ويجعله آخرون من السنن المفعولة في
عهد رسول الله - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فما بعده، وذلك كالاستعاذة في الصلاة
والبسملة هذا آخر كلامه
“Syaikhul Imam Abu Muhammad ‘Abdul ‘Aziz bin
Abdis Salam didalam akhir kitabnya al-Qawaid berkata : “bid’ah terbagi kepada
hukum yang wajib, haram, mandub, makruh dan mubah. Ia berkata : metode yang
demikian untuk memaparkan bid’ah berdasarkan kaidah-kaidah syari’ah, sehingga
1.
Apabila masuk pada qaidah (penetapan) hukum wajib maka itu bid’ah
wajibah,
2.
Apabila masuk pada qaidah (penetapan) hukum haram maka itu bid’ah
muharramah,
3.
Apabila masuk pada qaidah (penetapan) hukum mandub maka itu bid’ah
mandubah,
4.
Apabila masuk pada qaidah (penetapan) hukum makruh maka itu bid’ah
makruhah,
5.
Apabila masuk pada qaidah (penetapan) hukum mubah maka itu bid’ah
mubahah.
Diantara contohnya masing-masing adalah ;
1.
Bid’ah Wajibah seperti : menyibukkan diri belajar ilmu-ilmu sehingga
dengannya bisa paham firman-firman Allah Ta’ala dan sabda Rasulullah
shallallahu ‘alayhi wa sallam, itu wajib karena menjaga menjaga syariah itu
wajib, dan tidak mungkin menjaga kecuali dengan hal itu, dan sesuatu kewajiban
yang tidak sempurna kecuali dengannya maka itu wajib, menjaga bahasa asing
didalam al-Qur’an dan as-Sunnah, mencatat (membukukan) ilmu ushuluddin dan ushul fiqh, perkataan
tentang jarh dan ta’dil, membedakan yang shahih dari buruk, dan sungguh kaidah
syariah menunjukkan bahwa menjaga syariah adalah fardlu kifayah”.
2.
Bid’ah Muharramah seperti : aliran (madzhab) al-Qadariyah, al-Jabariyah,
al-Murji’ah, al-Mujassimah, dan membantah mereka termasuk kategori bid’ah yang
wajib (bid’ah wajibah).
3.
Bid’ah Mandzubah (Bid’ah yang Sunnah) seperti : membangun tempat-tempat
rubath dan madrasah, dan setiap kebaikan yang tidak ada pada masa awal Islam,
diantaranya adalah (pelaknasaan) shalat tarawih, perkataan pada detik-detik
tashawuf, dan lain sebagainya.
4.
Bid’ah Makruhah seperti : berlebih-lebihan menghiasai masjid, menghiasi
mushhaf dan lain sebagainya.
5.
Bid’ah Mubahah seperti : bersalaman (berjabat tangan) selesai shalat
shubuh dan ‘asar, jenis-jenis makanan dan minuman, pakaian dan kediaman. Dan
sungguh telah berselisih pada sebagian yang demikian, sehingga sebagian ‘ulama
ada yang memasukkan pada bagian dari bid’ah yang makruh, sedangkan sebagian
ulama lainnya memasukkan perkara sunnah yang dilakukan pada masa Rasulullah
shallallahu ‘alayhi wa sallam dan setelah beliau, dan itu seperti mengucapkan
isti’adzah didalam shalat dan basmalah. Ini akhir perkataan beliau. “
Tahdzibul Asmaa’ wal Lughaat lil-Imam
an-Nawawi [3/22-23] ; Qawaidul Ahkam lil-Imam ‘Izzuddin bin Abdis Salam [2/
204]
Kesimpulannya sudah jelas yaitu bahwa tidak semua
bid’ah dihukumi haram, melainkan harus ditinjau terlebih dahulu status
hukumnya. Semua itu karena ternyata ada bid’ah yang tidak bertentangan dengan
syariat Islam, diistilahkan dengan bid’ah hasanah (baik) dan ada juga bid’ah
yang bertentangan dengan syariat Islam, di istilahkan dengan bid’ah yang buruk.
al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah pernah mengatakan sebagaimana disebutkan olah
al-Muhaddits al-Baihaqi :
أخبرنا أبو سعيد بن أبي عمرو، ثنا أبو العباس محمد بن
يعقوب , ثنا الربيع بن سليمان، قال: قال الشافعي رضي الله عنه: المحدثات من الأمور
ضربان: أحدهما: ما أحدث يخالف كتابا أو سنة أو أثرا أو إجماعا , فهذه لبدعة
الضلالة. والثانية: ما أحدث من الخير لا
خلاف فيه لواحد من هذا , فهذه محدثة غير مذمومة وقد قال عمر رضي الله عنه في قيام شهر
رمضان: «نعمت البدعة هذه» يعني أنها محدثة لم تكن , وإن كانت فليس فيها رد لما مضى
“Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Sa’id bin
Abu ‘Amr, telah menceritakan kepada kami Abul ‘Abbas Muhammad bin Ya’qub, telah
menceritakan kepada kami ar-Rabi’ bin Sulaiman, ia berkata : Imam asy-Syafi’i
pernah berkata : perkara baru (muhdatsaat) itu terbagi menjadi menjadi dua
bagian :
1.
Suatu perkara baru yang menyelisihi al-Qur’an, Sunnah, Atsar atau Ijma’,
maka ini termasuk perkara baru yang disebut bid’ah dlalalah, dan
2.
Suatu perkara baru yang baik yang didalamnya tidak menyelisihi dari
salah satu tersebut, maka ini perkara baru (muhdats) yang tidak buruk,
dan sungguh Sayyidina ‘Umar radliyallahu ‘anh
berkata tentang shalat pada bulan Ramadhan (shalat Tarawih) : “sebaik-baiknya
bid’ah adalah ini”, yakni perkara
muhdats yang tidak ada sebelumnya, walaupun keberadaannya tidaklah bertentangan
dengan sebelumnya.
Al-Madkhal Ilaa Sunanil Kubraa Lil-Imam
Al-Baihaqi [253] ; Disebutkan Juga Didalam Tahdzibul Asmaa’ Wal Lughaat [3/23]
Contoh-contoh semacam ungkapan (istilah) seperti
diatas begitu banyak dikitab-kitab Ulama, diantaranya sebagaimana yang telah
disebutkan. Sehingga menjadi penting ketika membaca perkataan ulama syafi’iyah
juga mengerti pembagian bid’ah menurut ulama syafi’iyah. Perincian Imam
‘Izzuddin bin ‘Abdis Salam tersebut kadang berbeda dengan ulama madzhab
lainnya, sehingga menyebutnya bukan sebagai bid’ah melainkan sebagai maslahah
Mursalah, perbedaan ini terjadi karena memang cara memahaminya pun berbeda
walaupun esensinya sebenarnya sama yaitu sama-sama para ‘ulama menerimanya.
Perbedaan seperti inilah yang sebenarnya terjadi, bukan seperti kalangan yang
selalu menuding-menuding “ini sesat” dan “itu sesat”, bukan seperti pemahaman
mereka itu.