Ulinuha Asnawi

Catatan Ilmu Alat · Nahwu · Shorof · Alfiyah · Balaghah

Imam Syafi'i

Imam al-Syāfi‘ī

(150–204 H) adalah salah satu imam mujtahid terbesar dalam Islam. Nasab beliau bertemu dengan Rasulullah ﷺ pada ‘Abd Manāf, sehingga beliau masih satu kabilah Quraisy dengan Nabi ﷺ.

Beliau lahir di Ghazzah (Palestina) pada tahun 150 H, kemudian dibawa ibunya ke Makkah dan tumbuh besar di sana.

Rihlah Ilmu di Makkah

Di Makkah, Imam al-Shāfi‘ī belajar kepada para ulama besar, di antaranya:

Khalid bin Muslim az-Zanjī (Mufti Makkah saat itu),

  • Al-Fuḍayl bin ‘Iyāḍ,
  • Sufyān bin ‘Uyainah,
  • dan ulama Makkah lainnya.

 

Sejak kecil beliau dikenal memiliki kecerdasan luar biasa, kekuatan hafalan, serta kedalaman pemahaman bahasa Arab dan syair.

Rihlah ke Madinah

Pada usia sekitar 12 tahun, Imam al-Shāfi‘ī melakukan rihlah ke Madinah dan berguru langsung kepada Imam Mālik.

Dari beliau, Imam al-Syāfi‘ī:

  • menghafal kitab al-Muwaṭṭa’,
  • mendalami hadis, fikih, dan adab keilmuan,
  • serta menyerap manhaj Ahl al-Ḥadīth secara langsung.


Disebutkan bahwa pada usia 15 tahun, Imam al-Shāfi‘ī telah diberi izin untuk berfatwa, suatu hal yang sangat jarang terjadi kecuali pada ulama besar.

Rihlah ke Yaman

Setelah itu, beliau rihlah ke Yaman, dan mengambil ilmu dari beberapa ulama, di antaranya:

  • Muṭarrif bin Māzin,
  • Hishām bin Yūsuf al-Qāḍī,
  • ‘Amr bin Abī Salamah,
  • Yaḥyā bin Ḥassān.

Rihlah ke Irak dan Qaul Qadīm

Kemudian Imam al-Shāfi‘ī rihlah ke Irak, pusat keilmuan rasional (ahl ar-ra’y) saat itu. Di sana beliau belajar kepada ulama-ulama besar, seperti:

  • Wakī‘ bin al-Jarrāḥ,
  • Muḥammad bin al-Ḥasan al-Shaybānī,
  • Ḥammād bin Usāmah,
  • Ayyūb bin Suwayd ar-Ramlī,
  • ‘Abd al-Wahhāb bin ‘Abd al-Majīd,
  • Ismā‘īl bin ‘Ulayyah.

Pada fase ini beliau menyusun kitab Al-Ḥujjah, yang merepresentasikan manhaj pemikirannya yang dikenal sebagai qaul qadīm.

Pendapat-pendapat beliau mulai diikuti, dan hadis-hadisnya diriwayatkan oleh para imam besar, di antaranya:

  • Imam Aḥmad bin Ḥanbal,
  • Abū Thawr,
  • dan ulama lainnya.

Hijrah ke Mesir dan Qaul Jadīd

Setelah itu, Imam al-Syāfi‘ī pindah ke Mesir. Di sana beliau melakukan banyak pembaharuan pemikiran fikih, hasil penggabungan:

  • kekuatan hadis Madinah, 
  • kedalaman qiyas Irak, 
  • dan kematangan istidlal pribadi.

Pendapat-pendapat beliau di Mesir dikenal dengan istilah qaul jadīd.

Pada fase ini beliau menyusun karya-karya monumentalnya:

  • Kitab Al-Umm dalam fikih,
  • Kitab ar-Risālah dalam ushul fikih, yang menjadi fondasi ilmu ushul fikih klasik.

Pujian Imam Ahmad

Imam Aḥmad bin Ḥanbal berkata tentang Imam al-Shāfi‘ī:

«كَانَ الشَّافِعِيُّ كَالشَّمْسِ لِلدُّنْيَا، وَكَالْعَافِيَةِ لِلنَّاسِ»

“Imam al-Shāfi‘ī itu bagaikan matahari bagi dunia, dan bagaikan obat (penyembuh) bagi manusia.”


NEGRIKU HARAPAN AGAMAKU DALAM KEJAYAANNYA

Tulisan ini kebanyakan pengambilannya dari tulisan Almarhum Prof. Dr. Hamka, nama beliau adalah H. Abdul Malik Karim Amrullah dalam tulisan beliau Perbendaharaan Lama. Alasan penulis tidak ada yang lain kecuali karena inilah satu-satunya referensi yang utuh yang dapat penulis jumpai. Selain itu, menulis ulang ini terasa bernostalgia kembali ke-zaman qurun awal Islam dan mencari dimana negriku waktu itu. Tulisan ini saya beri judul: Negriku Harapan Agamaku, Dalam Kejayaannya. Penulis lihat dari fakta sekarang, negara Indonesia-lah yang memilki jumlah penduduk Islam terbesar di dunia.

Di dalam catatan sejarah Tiongkok, disebutkan bahwa pada pertengahan qurun ke-tujuh, terdapat kerajaan yang bernama Holing, dan terdapat negri yang bernama Cho’-po. Seorang perempuan yang bernama Simo, adalah ratu yang memegang tampuk kekuasaan di masa itu.

Penulis sejarah Tiongkok itu juga menyebutkan, bagaimana aman dan makmurnya negri itu, di bawah perintah penguasa perempuan itu. Tanahnya subur, padinya menjadi. Upacara kerajaan berjalan lancar. Ratu dijaga, atau di iringkan oleh biti-biti prawara, kipas bulu merak bersabung kiri-kanan, dan singgasana tempat baginda bersemayam bersalutkan emas. Keris pusaka dan pedang kerajaan-pun bersalutkan emas ratna-mutu manikam. Agama yang dipeluk adalah Agama Budha.

Dengan kerjasama antara I Tsing seorang pengembara Tiongkok dan Jnabradha, yang dalam bahasa Tiongkok di tulis Yoh Na Poh T’o Lo, disalinlah buku-buku Agama Budha ke dalam bahasa anak negri.

Tentang keamanan dan kemakmuran negri Holing itu, oleh pencatat sejarah Tiongkok dituliskan; sampailah beritanya ke Ta-Cheh, sehingga tertariklah para pengembara negri Ta-Cheh mengunjungi negri Holing, untuk melakukan kerja-sama meningkatkan perniagaan antara keduanya.

Di antara tahun 674-675 Masehi sampailah satu utusan bangsa Ta-Ceh ke Holing. Kagumlah utusan Ta-Cheh itu, betapa aman negeri Holing di bawah naungan Ratu Simo. Sehingga pada suatu ketika, Raja Ta-Cheh itu mencoba mencecerkan pundi-pundi emas, namun tidak ada seorang-pun yang mengambilnya. Tiga tahun lebih emas itu tetap berada ditempatnya, sampailah putra mahkota kerajaan Holing ditempat itu, kemudian disepaklah barang pundi-pundi, dan bersimpulah emas dari dalamnya.

Perbuatan Putra Mahkota itu rupanya dipandang sebuah kesalahan besar oleh ibunya, Ratu Simo. Amatlah murka Baginda setelah mengetahui kesalahan putranya. Memberikan malu bagi kerajaan dimuka orang asing yang datang hendak menyaksikan keamanan dan kemakmuran negri. Putra Mahkota itu dipandang telah melanggar keluhuran budi.

Oleh sebab itu, kaki yang menyebak pundi-pundi emas itu wajib wajib dipotong. Bagaimanapun para menteri membujuk agar Baginda Ratu mengurungkan hukuman itu. Namun Ratu tidak menginginkan kecuali kaki putra Mahkota dipotong.

Demikianlah, ceritera yang terekam didalam catatan sejarah Tiongkok, yang menjadi penyelidikan dari masa kemasa hingga sekarang ini. Hasil penyelidikan menyatakan bahwa Cho’po adalah Joww, yang sekarang ini pulau Jawa. Kerajaan Holing adalah kerajaan Kalingga yang oleh beberapa penyelidik dikatakan pernah berdiri di Jawa Tengah. Ada pula yang beranggapan di Jawa Timur. Yang berdiri antara qurun ke-tujuh Masehi, dan memang terdapat Ratu yang bernama Sima atau Simo.

Ta-Cheh adalah Raja Arab, sebab Ta-Cheh adalah nama yang diberikan oleh orang Tiongkok untuk Bangsa Arab di zaman itu.

Setelah dilakukan penghitungan, ternyata tahun 674 Masehi adalah 42 tahun setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Beliau wafat pada kisaran tahun 632 Masehi atau tahun ke 11 setelah hijrah beliau dari Makkah ke Madinah. Jadi, tahun 674 adalah bertepatan dengan 51 tahun Hijaratul Musthafa. Dan khalifah di masa itu adalah Yazid bin Mu’awiyah, khalifah yang ke-dua dari Bani Umayyah.

Dari masa ke masa, para peneliti sejarah mencari kecocokan data, mengupayakan ketepatan potret di zaman itu. Namun tidak mengetahui siapa ‘Raja’ Arab yang datang mencecerkan pundi-pundi emas ke Holing. Akan tetapi bagi kita yang menyelami tarikh bangsa Arab, tidak diperbolehkan untuk mengatakan tidak tahu menahu. Sebab Nabi Muhammad SAW sendiri telah menentukan peraturan; apabila sekelompok musafir yang melakukan perjalanan jauh, hendaknya mereka merajakan seseorang diantara mereka yang lebih tua usianya, atau yang lebih banyak ilmunya, atau yang lebih gagah-berani meski usianya lebih muda, dan yang fasih lisannya terutama ketika dijadikan seorang imam dalam shalat.

Itulah kepala rombongan yang disebut di dalam Bahasa Arab, Amir dalam perjalanan merangkap menjadi imam shalat. Dan Amir itu juga diartikan seorang raja.

Pencatat sejarah Tiongkok yang lain mengatakan, yang mengembara di tahun 674 itu juga terdapat di Pesisir barat pulau Sumatra. Telah didapati pula satu kelompok Bangsa Arab yang membuat kampung di tepi pantai.

Catatan inilah yang mengubah pandangan orang, tentang sejarah masuknya Agama Islam ke tanah air kita. Kebanyakan orang berasumsi masuknya Agama Islam di Nusantara pada abad 11 Masehi, sekarang kita naikkan 4 abad ke-atas, yaitu abad ke-tujuh Masehi.

Tidak ada yang tercatat dalam Tarikh Islam, tentang masuknya Islam di Nusantara, sebab pengembara muslim yang datang ke-Indonesia, bukanlah ekspedisi resmi dari utusan khalifah di Damaskus atau Baghdad. Selain itu pengebaraannya bukan seseorang yang menggunakan senjata, melainkan mereka berniaga dan berdagang. Mereka datang ke tanah air kita dengan suka-rela.

Kerajaan Hindu-Budha masih begitu kuat dan kokoh; kerajaan Sriwijaya di Sumatra, kerajaan Kalingga di Jawa, dan kerajaan-kerajaan Hindu-Budha di  tempat lain masih sangat kental kekuasaannya. Oleh sebab itu para pengembara Arab yang datang dibegitu leluasa menyampaikan dakwah-nya kepada penduduk pribumi. Bahkan ketika mencecerkan pundi-pundi emas di tengah jalan, tidak ada seorangpun yang berani mengambilnya karena takut akan murka sang Ratu. Dan sang Ratu tidak ragu-ragu menjatuhkan hukuman memotong kaki putra Mahkota, ketika  mencoba menyepakkan kaki pundi-pundi emas kepunyaan orang Arab.

Pelajaran Agama Islam masih sukar diterima, akan tetapi orang Arab atau orang Islam itu masih tetap meramaikan pelayaran dan perniagaan di Selat Malaka hingga sampai ke Tiongkok. Di Kanton (daerah Tiongkok) pernah berdiri markas perdagangan orang Arab. Oleh karena itu, tersebutlah nama pulau-pulau yang terdapat di Negri kita ini dalam catatan al-Idrisi atau yang masyhur dengan nama al-Qurtubi dan pencatatn sejarah lain seperti; al-Mas’udi yang mashur Abu al-Hasan Ali ibn al-Husayn ibn Ali al-Mas'udi. Dan kemudian lebih jelas lagi oleh tulisan Ibnu Bathutah yang menuliskan satu buku khusus tentang negri Nusantara.

Di Tambah lagi belum populernya para pengembara muslim itu, akan tetapi mereka sangat dihormati karena kebersihannya, mencuci muka sekurang-kurannya 5 kali dan mandi sekuran-kurannya dua kali. Akan tetapi belum diikuti, karena raja masih dianggap Tuhan.

Meniliki sejarah ini, dapatlah kita menentukan arah sejarah masuknya Agama Islam ke Negri ini sejak qurun abadnya yang pertama. Penulis sejarah Dunia Islam dari Princeton University di Amerika sudah memegang ketentuan ini, dan masuknya Agama Islam ke Nusantara ialah di abad yang ke-tujuh, tegasnya di qurun munculnya Islam pertama.

Akan tetapi Ulama terdahulu, salah satu yang tertarik mengkaji sejarah masuknya Islam di Indonesia dan semenanjung melayu adalah Mufti kerajaan Johor Said Ali bin Taher al-Hadad, mengikuti pendapat bahwa masuknya Agama Islam di Nusantara lebih awal dari zaman khalifah Yazid bin Mu’awiyah, tepatnya di zaman kekhalifahan Khalifah yang ke-tiga Usman bin Affan radliyallahu ‘anh. Beliau menunjukkan referensi buku-buku petunjuk yang berasal dari Museum di Jakarta. Sehingga salah stu sarjana yang terkenal, Za’ba pada tahun 1956 datang ke-Jawa dan melakukan penelitian, akn tetapi tidak mendapati buku yang dijadikan referensi Mufti kerajaan Johor itu.

Malahan adalagi yang mengatakan menanatu dan juga khalifah yang ke-tiga Ali bin Abu Thalib, belakangan disebut pernah di utus oleh Nabi Muhammad Saw mengunjungi Nusantara ini. Akan tetapi pendapat ini terkesan memaksa yang secara ilmiyah belum bisa dibuktikan.

Memang dalam Tarikh Islam tidak disebutkan satu-pun ekspedisi yang dikirim ke-khalifahan resmi ke-Indonesia. Sebab yang datang ke Nusantara bukanlah ekspedisi kan tetapi personil atau beberap orang saja. Kalaw demikian, sangat dimungkinkan pendapat yang terakhir akan tetapi bukan sahabat Ali yang diutus. Akan tetapi tidak ada dari mereka yang datang di Nusantara generasi awal yang wafat di negri ini. Dari sini sangat dimungkinkan karena mereka berdatangan silih-berganti dan kembali lagi ketempat asal.

Abad XIII Penentuan Perebutan Pengaruh Terakhir

Barulah di akhir abad 13, terjadi perebutan pengaruh yang terakhir antara yang lama dengan yang baru. 1292 adalah tahun mangkatnya Kertanegara Prabu Majapahit yang pertama. Yaitu, Baginda yang menggabungkan agama Shiwa dan Budha sebagai agama kerajaan.

Prabu Wangi, Prabu Niskalawastu, dan Prabu Dawaniskala berganti-ganti sebagai penguasa di kerajaan Galuh (Jawa Barat) dalam keadaan yang tidak tentram lagi.

Akan tetapi di tahun itu juga, kepala kampung di Negri Pasai (Sekarang: Aceh), yang bernama Marah Situ, memaklumkan dirinya sebagai Sultan yang pertama dari kerajaan Islam pertama di Nusantara. Dan jika dilihat pada tahun 1500 Masehi pengaruh Hindu-Budha sudah mulai muram dan pengaruh Islam mulai gemilang. Sehingga pantaslah jika dikatakan tahun 1300 adalah awal bersy’arnya Islam dan tahun 1500 adalah tahun kejayaan Agama Islam di Nusantara.
Semoga Tulisan ini menginspirasi kita dalam menjelajah menuju lautan sejarah, besar harapan penulis ini semoga menambah kemanfaatan. Jas-Merah, kata Bapak Prsiden RI yang pertama "Jangan Lupakan Sejarah"

RAJA NAMRUD| DIMATIAKAN SEBAB NYAMUK

Kalian kenal Namrud kan? Raja yang menguasai hampir semua belahan bumi dimasanya, raja yang gagah dengan alih-alih kekuasaannya, raja yang berasal dari negri Babilonia, raja yang memushuhi KhalilulLah Ibrahim 'alaihis salam.

Raja yang mengaku mampu menghidupkan, dan mematikan, dengan kekuasaannya, siapapun akan ditebas batang lehernya dan membiarkannya hidup jika menuruti perintahnya, hujjahnya dimatikan oleh  KhaliluLah Ibrahim 'alaihis salam, jika memang kamu tuhan, terbitkanlah matahari dari barat, yang sebelumnya terbit dari ufuk timur [QS: 2: 258]

Raja yang hidup selama empat ratus tahun, menolak ajakan baik KhalilulLah Ibrahim 'alahis salam, justru malah memusuhi-nya, bukan cuma demikian bahkan dia membakar hidup-hidup kekasih AllAh itu. [QS; 21; 69].

Fir'aun pertama, yang bernama Namrud, putra Kan’an bin Kausy bin Syam bin Nuh (seorang nabi), adajuga yang mengatakan Namrud adalah putra  Falih bin ‘Abir bin Shalih (seorang Nabi).

Al Mujahid rahimahullah mengatakan, ada empat raja dunia yang menguasai belahan dunia, dua diantaranya dari golongan kafir dan selainnya dari golongan muslim, dua dari golongan muslim yaitu Nabi Sulaiman dan Raja Dzul Qarnain, sedangkan dua dari golongan kafir adalah Namrud dan Bukhtanasr.

Lalu apa yang dihebatkan, Raja yang berjaya beberapa ratus tahun oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dihinakan dengan dimatikan oleh seekor nyamuk.

Setelah Namrud menantang kepada KhalilLah Ibrahim ‘alaihis salam” kalaw memang tuhan-Mu berkuasa, buktikan.. apakah dia mempunyai tentara” kata Namrud.

lalu AllAh Subhanahu wa Ta’ala mengirimkan jutaan nyamuk, hingga terlihat menutupi sinar matahari dipagihari, semua tentara Namrud ludes dimakan nyamuk, hingga tinggal tulang belulang. Namrud lari ke-istana kerajaan, dan dikejar hingga masuklah se-ekor nyamuk ke-kepala Namrud, melalui lobang hidung-nya. Sesekali Namrud memerintahkan orang terdekatnya untuk memukul kepalanya, supaya nyamuk keluar dari tubuhnya akan tetapi Allah ‘Azza Wajalla menghendaki Namrud terbunuh, lantaran otaknya termakan oleh se-ekor nyamuk.

Kisah ini dinukil dari Qashashu Al Anbiya’, Ibnu Katsir. Hal: 184

KEMASYHURAN QIRA'AT 'ASHIM RIWAYAT HAFS DI DUNIA ISLAM (Bagian III)

Ilustrasi Image, oleh Syyidfajar.blogspot.com

1.Jika dilihat dari segi materi ilmiah, maka riwayat Hafsh adalah riwayat yang relatif mudah dibaca bagi orang yang non Arab mengingat beberapa hal :

Pertama : tidak banyak bacaan Imalah, kecuali pada kata : (مجراها ) pada surah Hud. Hal ini berbeda dengan bacaan Syu’bah, Hamzah, al-Kisa’i, Abu ‘Amr dan Warsy yang banyak membaca Imalah.
Kedua : tidak ada bacaan Shilah Mim Jama’ sebagaimana apa yang kita lihat pada bacaan Qalun dan Warsy. Bacaan Shilah membutuhkan kecermatan bagi pembaca, mengingat bacaan ini tidak ada tanda tertulisnya.

Ketiga : Dalam membaca Mad Muttashil dan Munfashil, bacaan riwayat Hafsh terutama thariq Syathibiyyah tidak terlalu panjang sebagaimana bacaan Warsy dan Hamzah yang membutuhkan nafas yang panjang. Bahkan dalam thariq Thayyibah, yaitu yang melalui jalur ‘Amr bin ash-Shabbah thariq Zar’an dan al-Fil bacaan Hafsh dalam Mad Munfashil bisa Qashr (2 harakat).
Keempat : dalam membaca Hamzah baik yang bertemu dalam satu kalimah atau pada dua kalimah, baik berharakat atau sukun, riwayat Hafsh cenderung membaca tahqiq yaitu membaca dengan tegas (syiddah) dengan tekanan suara dan nafas yang kuat, sehingga terkesan kasar. Hal ini berbeda dengan bacaan Nafi’ melalui riwayat Warsy, Qalun.

Bacaan Abu ‘Amr melalui riwayat ad-Duri dan as-Susi. Bacaan Ibn Katsir melalui riwayat al-Bazzi dan Qunbul yang banyak merubah bacaan Hamzah menjadi bacaan yang lunak. Contohnya adalah pada Hamzah sakinah atau jika ada dua Hamzah bertemu dalam satu kalimah atau dua kalimah. Imam Hafsh mempunyai bacaan tashil baina baina hanya pada satu tempat saja yaitu pada kalimat : ( ءأعجمى ) pada surah Fushshilat : 44. Kelima :
Hafsh mempunyai bacaan Isymam hanya pada satu tempat yaitu pada kata : ( لا تأمنا ) sebagaimana juga bacaan imam lainnya selain Abu Ja’far.

Keenam: Hafsh mempunyai bacaan Mad Shilah Qashirah hanya pada kalimat : (ويخلد فيه مهانا ) pada surah al-Furqan: 69. Hal ini berbeda dengan bacaan Ibn Katsir yang banyak membaca Shilah Ha’ Kinayah.
2.Jika dilihat dari awal kemunculan bacaan ‘Ashim yaitu di Kufah atau Iraq, secara politis, negeri Kufah (Iraq) adalah negerinya pengikut Ali (Syi’ah). Bacaan Hafsh juga bermuara kepada sahabat Ali. Kemudian Negeri Baghdad, dimana Hafsh pernah mengajar disini, adalah Ibukota negara (Abbasiyyah) pada masa itu, pusat kegiatan ilmiah, sehingga penyebarannya relatif lebih mudah.

Jika kemudian Hafsh bermukim di Mekah kiblat kaum Muslimin yang banyak dihuni mukimin dari berbagai penjuru dunia dan mengajar Al-Qur’an di sini, maka bisa dibayangkan pengaruh bacaannya. Penulis juga melihat adanya hubungan yang cukup signifikan antara madzhab fikih dan Qira’at. Sebagai contoh: riwayat Warsy adalah riwayat yang banyak diikuti oleh masyarakat di Afrika Utara. Di sana madzhab fikih yang banyak dianut adalah madzhab Maliki.

Masa hidup Imam Malik adalah sama dengan masa hidup Imam Nafi’. Keduanya di Madinah. Bisa jadi pada saat masyarakat Afrika Utara berkunjung ke Madinah untuk haji atau lainnya, mereka belajar fikih kepada Imam Malik dan belajar Qira’atnya kepada Imam Nafi’. Kita tahu bahwa Hafsh pernah bermukim dan mengajar Al-Qur’an di Mekah. Imam Syafi’i juga hidup di Mekah. Boleh jadi pada saat hidupnya kedua Imam tersebut kaum Muslimin memilih madzhab kedua Imam tersebut. Kemudian jika kita melihat sanad bacaan riwayat Hafsh pada guru-guru dari Indonesia, semisal sanad Kiai Munawwir Krapyak, akan kita jumpai banyak ulama madzhab Syafi’i pada sanad tersebut, seperti Zakariyya al-Anshari dan lain sebagainya.

3.Hafsh mempunyai jam mengajar yang demikian lama, sebagaimana dikatakan oleh Ibn al-Jazari sehingga murid-muridnya bertebaran di berbagai tempat. Hal ini berbeda dengan Syu’bah yang tidak begitu lama mengajar.

4.Hafsh dianggap sebagai perawi Imam ‘Ashim yang demikian piawai dan menguasai terhadap bacaan gurunya. Sebagaimana diketahui Hafsh adalah murid yang sangat setia pada ‘Ashim. Mengulang bacaan berkali-kali, dan menyebarkan bacaan ‘Ashim di beberapa negeri dalam rentang waktu yang demikian lama.

Makki al-Qaisi menyebutkan bahwa ‘Ashim mempunyai kefashihan membaca yang tinggi, validitas sanadnya juga sangat kuat dan para perawinya juga tsiqah (sangat dipercaya).
5.Ghanim Qadduri al-Hamd menyebutkan bahwa mushaf pertama yang di cetak di Hamburg (Jerman) pada tahun 1694 M/1106 H, diharakati dengan bacaan Hafsh yang ada di perpustakaan-perpustakaan di beberapa negeri Islam. Hal ini mempunyai banyak pengaruh pada masyarakat, dimana mereka menginginkan adanya mushaf yang sudah dicetak. Para penerbit mushaf di Hamburg sudah tentu melihat terlebih dahulu kecenderungan masyarakat Islam pada saat itu.
Bahkan Blacher, seorang orientalis yang cukup terkemuka dalam bidang studi Al-Qur’an pernah mengatakan :

 ( ان الجماعة الاسلامية لن تعترف فى المستقبل الا بقراءة حفص عن عاصم )
artinya : kaum Muslimin pada masa yang akan datang tidak akan menggunakan bacaan Al-Qur’an kecuali dengan riwayat Hafsh dari ‘Ashim.
Pernyataan Blacher yang pasti didahului oleh pengamatan yang seksama, jelas menggambarkan kecenderungan masyarakat di dunia Islam pada saat itu dan pada masa yang akan datang sehingga dia bisa memastikan hal tersebut.
6.Ghanim Qadduri juga menyebutkan dengan melansir dari kitab “Tarikh Al-Qur’an” karya Muhammad Thahir Kurdi, bahwa penulis mushaf yang sangat terkenal pada masa pemerintahan Turki Usmani, adalah al-Hafizh Usman (w. 1110 H).
Penulis ini sepanjang hidupnya telah menulis mushaf dengan tangannya sendiri, sebanyak 25 mushaf. Dari mushaf yang diterbitkan inilah riwayat Hafsh menyebar ke seantero negeri. Penulis melihat bagaimana hubungan antara keahlian menulis mushaf dengan khat yang indah bisa menjadi unsur yang cukup signifikan dalam penyebaran satu riwayat. Jika kemudian pemerintah Turki Usmani mencetak mushaf sendiri, dan menyebarkannya ke seantero negeri kekuasaannya, maka hal itu akan menambah pesatnya riwayat Hafsh.

Dari sini penulis melihat adanya hubungan antara kekuasaan politik dengan penyebaran satu ideologi tertentu. 7.Peranan para qari’, guru, imam salat, dan radio, kaset, televisi, juga sangat berpengaruh terhadap penyebaran riwayat Hafsh. Kita tahu bahwa rekaman suara pertama di dunia Islam adalah suaranya Mahmud Khalil al-Hushari atas inisiatif dari Labib Sa’id sebagaimana diceritakannya sendiri pada kitabnya “ al-Mushaf al-Murattal atau al-Jam’ash Shauti al-Awwal”
 rekaman ini dengan riwayat Hafsh thariq asy-Syathibiyyah. Suara yang bagus melalui teknologi yang canggih ikut memengaruhi satu bacaan.

8.Lebih dari penyebab lahiriah dari penyebaran riwayat Hafsh, kita tidak boleh melupakan adanya penyebab “maknawiyyah” atau faktor “berkah” atau bisa kita katakan faktor “x” pada diri Hafsh. Unsur-unsur spiritual seperti kesalehan, keikhlasan, ketekunan, pengorbanan Hafsh dalam mengabdi kepada Al-Qur’an ikut menjadi penyebab tersebarnya satu riwayat bahkan madzhab fikih atau lainnya.

Penutup
Riwayat Hafsh telah menjadi femomena tersendiri dalam penyebaran satu riwayat dalam Qira’at. Riwayat Hafsh akan terus melebar dan menyebar ke seantero dunia, bahkan ke negeri-negeri yang menggunakan riwayat lain seperti Warsy, Qalun, ad-Duri dan lain-lainnya, sesuai dengan hukum kemasyarakatan. Dengan semakin menyebarnya riwayat ini, kedudukan Al-Qur’an menjadi semakin kokoh, keorisinilan bacaan Al-Qur’an dan mushaf Al-Qur’an menjadi semakin meyakinkan.
Meredupnya riwayat lain bukan berarti meredupnya kemutawatiran satu bacaan. Bacaan-bacaan tersebut masih tetap mutawatir karena telah diakui oleh para imam-imam Qira’at terdahulu. Nabi sendiri tidak mewajibkan membaca Al-Qur’an dengan seluruh macam bacaan yang pernah diajarkannya kepada para sahabat-sahabatnya.

Tapi Nabi hanya menyuruh para sahabatnya untuk membaca bacaan yang mudah baginya. Dengan demikian Al-Qur’an akan tetap terjaga kemurniannya sampai akhir zaman nanti. Itu pertanda bahwa Al-Qur’an adalah Kalamullah.

Oleh Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, MA
SUMBER: Kemalasan.com

KEMASYHURAN QIRA'AT 'ASHIM RIWAYAT HAFS DI DUNIA ISLAM (Bagian II)

Ilustrasi Image, oleh Syyidfajar.blogspot.com

Mengingat masih hidupnya beberapa bacaan melalui riwayat tersebut di atas, pemerintah Saudi Arabia melalui Mujamma’ Malik Fahd bin Abdul Aziz, telah mencetak beberapa Mushaf Al-Qur’an dengan lima riwayat yaitu : Hafsh, Qalun, Warsy, ad-Duri dan terakhir adalah Syu’bah. Latar Belakang Penyebaran Qira’at di Dunia Islam.
Sebagaimana diketahui bahwa pada masa sahabat Umar bin Khaththab, banyak negeri-negeri di Irak dan Syam jatuh ke tangan kaum Muslimin. Banyak permintaan dari kaum Muslimin di negeri-negeri tersebut kepada sahabat Umar agar mengirimkan guru-guru Al-Qur’an ke negeri-negeri mereka. Maka sahabat Umar mengirimkan beberapa utusannya, antara lain adalah sahabat Ibnu Mas’ud diutus ke Kufah, Abu Musa al-Asy’ari diutus ke Basrah, Abu ad-Darda’ diutus ke Syam (Syiria). Bacaan mereka itulah yang akhirnya menyebar ke negeri negeri tersebut.

Pada masa sahabat Usman, terutama setelah penulisan ulang mushaf Al-Qur’an, sahabat Usman mengirimkan beberapa guru Al-Qur’an bersama dengan mushaf yang baru saja ditulis ke negeri-negeri Basrah, Kufah, dan Syam. Penduduk negeri-negeri tersebut berseteru tentang bacaan Al-Qur’an mereka pada saat perang di Azerbaijan dan Armenia di Uni Soviet.

Pada saat itu sahabat Usman mengutus al-Mughirah bin Abi Syihab al-Makhzumi ke Syam. Dari Syam lalu muncul seorang Qari’ terkenal yaitu Ibn ‘Amir. Ibn al-Jazari mengatakan bahwa bacaan penduduk negeri Syam sampai pada tahun 500 H, menggunakan Qira’at Ibn ‘Amir. Adapun di negeri Basrah di Iraq setelah masa Abu Musa al-Asy’ari muncullah beberapa Imam Qira’at. Di antara mereka adalah Imam Abu ‘Amr al-Bashri dan Ya’qub al-Hadlrami. Sampai pada tahun 200 H, masyarakat Basrah masih menggunakan Qira’at Abu ‘Amr al-Bashri. Kemudian mereka beralih ke Qira’at Ya’qub al-Hadlrami sampai abad ke 5 H sebelum akhirnya beralih ke riwayat Hafsh pada masa Turki Usmani.

Sementara di negeri Kufah dimana Abdullah bin Mas’ud dikirim untuk mereka, muncul banyak ahli Qira’at. Di antara mereka adalah Imam ‘Ashim. Lalu Imam ‘Ashim sebagaimana diutarakan di atas mengajarkan kepada murid-muridnya antara lain Hafsh dan Syu’bah. Keterkaitan penduduk Kufah dengan Abdullah bin Mas’ud dan Ali bin Abi Thalib adalah sesuatu yang sangat wajar. Penduduk Kufah dalam sejarah perpolitikan adalah pengikut setia (syi’ah) Ali bin Abi Thalib. Sedangkan Ibn Mas’ud adalah orang pertama yang mengajarkan bacaan Al-Qur’an kepada penduduk Kufah. Sehingga mereka bangga dengan Ibn Mas’ud. Disamping bacaan Imam ‘Ashim, di Kufah juga tersebar bacaan Imam Hamzah, perawi Hamzah al-Kisa’i dan Khalaf. Tentang tersebarnya bacaan Hamzah, Ibn Mujahid berkata dalam kitabnya as-Sab’ah, ketika mengutip perkataan Muhammad bin al-Haitsam al-Muqri :

أدركت الكوفة ومسجدها الغالب عليه قراءة حمزة , ولا أعلمنى أدركت حلقة من حلق المسجد يقرءون بقراءة عاصم
 Artinya : “aku menjumpai penduduk Kufah, bacaan yang dibaca di masjid-masjid mereka adalah bacaan Hamzah. Aku tidak menjumpai beberapa kelompok pengajian Al-Qur’an di masjid-masjid Kufah dengan bacaan Imam ‘Ashim.

Akan halnya bacaan al-Kisa’i, dalam banyak hal banyak persamaannya dengan bacaan Imam Hamzah terutama dalam bab Imalah. Ibn Mujahid dalam kitabnya “as-Sab’ah” yang ditulis sekitar tahun 300 H menjelaskan, bahwa bacaan Al-Qur’an pada negeri-negeri Islam adalah sebagai berikut : di Mekah dengan bacaan Ibn Katsir, di Madinah dengan bacaan Nafi’, di Basrah dengan bacaan Abu ‘Amr al-Bashri. Sementara di Kufah dengan bacaan ‘Ashim, Hamzah dan al-Kisa’i. Sementara itu Imam Makki al-Qaisi (w. 437 H) berkata tentang bacaan penduduk negeri-negeri Islam pada masa lalu:
وكان الناس على رأس المائتين بالبصرة على قراء ة أبى عمرو البصرى ويعقوب الحضرمى , وعلى أهل الكوفة قراءة حمزة وعاصم , وبالشام على قراءة ابن عامر , وبمكة على قراءة ابن كثير , وبالمدينة على قراءة نافع , واستمروا على ذلك . فلما كان على رأس الثلاث مئة اثبت ابن مجاهاد اسم الكسائى وحذف يعقوب
Artinya : pada permulaan tahun 200 H, masyarakat di Basrah mengikuti bacaan Abu ‘Amr al-Basri dan Ya’qub. Di Kufah mengikuti bacaan Hamzah dan ‘Ashim. Di Syam mengikuti bacaan Ibn ‘Amir. Di Madinah mengikuti bacaan Nafi’. Kemudian pada penghujung tahun 300 H, Ibn Mujahid memasang nama al-Kisa’i dan mengganti Ya’qub.

Tersebarnya Riwayat Hafsh. Banyak dibicarakan oleh komunitas Al-Qur’an baik di dunia Arab atau lainnya tentang penyebab tersebarnya riwayat Hafsh di dunia Islam. Sebagian kalangan mengatakan bahwa pemerintahan Turki Usmani (sekitar 922 H/1516 M) mempunyai peranan yang sangat signifikan dalam hal ini, yaitu melalui kekuatan politik kekuasaan. Sebagaimana diketahui bahwa pemerintahan Turki Usmani pada saat mencetak mushaf, mereka memilih bacaan riwayat Hafsh. Lalu mereka kembangkan bacaan riwayat ini ke seluruh negeri. Namun pendapat ini dibantah oleh Ghanim Qadduri al-Hamd. Dia mengatakan bahwa riwayat Hafsh sebenarnya telah menyebar di beberapa tempat. Kemudian Ghanim menyebutkan perkataan Abu Hayyan dalam tafsirnya “al-Bahr al-Muhith”: tentang riwayat Warsy dan ‘Ashim :

وهى (رواية ورش ) الرواية التى تنشأ عنها ببلادنا ( الأندلس ) ونتعلمها فى المكتب . وقال عن قراءة عاصم : وهى القراءة التى ينشأ عليها أهل العراق ) ( البحر 115/1(
Ghanim kemudian merujuk kepada perkataan Muhammad al-Mar’asyi yang hidup pada abad ke 12 H (w. 1150 H) yang disebut juga dengan Savhaqli Zadah: ( والمأخوذ فى ديارنا ( عش مدينة فى جنوب تركيا الآن ) قراءة عاصم برواية حفص عنه ) Artinya : yang dijadikan patokan di negeri kami (Turki) adalah bacaan ‘Ashim riwayat Hafsh.


Dalam pandangan penulis ada beberapa penyebab tentang menyebarnya riwayat Hafsh. Ada yang berupa faktor alamiah yaitu riwayat tersebut mengalir dan menyebar dengan sendirinya seperti mengalirnya air sebagaimana juga tersebarnya madzhab-madzhab fikih, dan ada juga faktor ilmiah yaitu dilihat dari materi bacaan Hafsh itu sendiri. Secara garis besar bisa penulis rangkum sebagai berikut : 

Oleh Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, MA
SUMER: Kemalasan.com

KEMASYHURAN QIRA'AT 'ASHIM RIWAYAT HAFS DI DUNIA ISLAM (Bagian I)


Ilustrasi Image, oleh Syyidfajar.blogspot.com
Dalam Ilmu Qira’at ada sepuluh Imam Qira’at yang sangat masyhur, bacaan mereka disepakati oleh Ulama Qira’at sebagai bacaan yang mutawatir, artinya bacaan yang betul-betul asli berasal dari nabi Muhammad dari malaikat Jibril dari Allah. Sepuluh Imam Qira’aat tersebut ialah : 1. Nafi’ bin Abi Nu’aim al-Ashbihani. 2. Ibn Katsir, Abdullah bin Katsir al-Makki. 3. Abu ‘Amr , Zaban bin al-‘Ala’. 4. Ibn ‘Amir Abdullah bin ‘Amir as-Syami. 5. ’Ashim bin Abi an-Najud. 6. Hamzah bin Habib az-Zayyat. 7. Kisa’I, Ali bin Hamzah. 8. Abu Ja’far, Yazid bin al-Qa’qa’. 9. Ya’qub al-Hadlrami dan 10. Khalaf al-bazzar (al-Bazzaz). Setiap Imam tersebut mempunyai banyak murid. Di antara mereka ada murid kenamaan yang sangat mahir meriwayatkan bacaan Al-Qur’an dari imam-imam mereka atau murid-muridnya.

Dalam perjalanan waktu, dan karena seleksi ilmiah dan alamiah, muncul nama-nama yang akhirnya dijadikan sebagai referensi yang sangat valid dan sangat dipercaya sebagai bacaan yang merefleksikan bacaan Imam-Imam qira’at sebagaimana di atas. Mereka yang disebut sebagai para perawi dari Imam-Imam sepuluh adalah : 1. Nafi’ kedua perawinya : Qalun dan Warsy. 2. Ibn Katsir : al-Bazzi dan Qunbul. 3. Abu ‘Amr : ad-Duri dan as-Susi. 4. Ibn ‘Amir : Hisyam dan Ibn Dzakwan. 5. ‘Ashim: Syu’bah dan Hafsh. 6. Hamzah : Khalaf dan Khallad. 7. Al-Kisa’I : Abu al-Harits dan ad-Duri al-Kisa’i. 8. Abu Ja’far : Ibn Jammaz dan Ibn Wardan. 9. Ya’qub : Rauh dan Ruwais. 10. Khalaf : Ishaq dan Idris. 

Yang akan kita bicarakan disini adalah Imam Hafsh perawi utama Imam ‘Ashim. Riwayat Hidup Imam Hafsh. Namanya Hafsh bin Sulaiman bin al-Mughirah, Abu Umar bin Abi Dawud al-Asadi al-Kufi al-Ghadliri al-Bazzaz. Beliau lahir pada tahun 90 H. Pada masa mudanya beliau belajar langsung kepada Imam ‘Ashim yang juga menjadi bapak tirinya sendiri. Hafsh tidak cukup mengkhatamkan Al-Qur’an satu kali tapi dia mengkhatamkan Al-Qur’an hingga beberapa kali, sehingga Hafsh sangat mahir dengan Qira’at ‘Ashim. Sangatlah beralasan jika Yahya bin Ma’in mengatakan bahwa : “riwayat yang sahih dari Imam ‘Ashim adalah riwayatnya Hafsh”. Abu Hasyim ar-Rifa’I juga mengatakan bahwa Hafsh adalah orang yang paling mengetahui bacaan Imam ‘Ashim. Imam adz-Dzahabi memberikan penilaian yang sama bahwa dalam penguasaan materi Qira’at, Hafsh adalah merupakan seorang yang tsiqah (terpercaya) dan tsabt (mantap).

Sebenarnya Imam ‘Ashim juga mempunyai murid-murid kenamaan lainnya, salah satu dari mereka yang akhirnya menjadi perawi yang masyhur adalah Syu’bah Abu bakar bin al-‘Ayyasy. Hanya saja para ulama lebih banyak mengunggulkan Hafsh daripada Syu’bah. Imam Ibn al-Jazari dalam kitabnya “Ghayah an-Nihayah fi Thabaqat al-Qurra’ ” tidak menyebutkan guru-guru Hafsh kecuali Imam ‘Ashim saja. Sementara murid-murid beliau tidak terhitung banyaknya, mengingat beliau mengajarkan Al-Qur’an dalam rentang waktu yang demikian lama. Di antara murid-murid Hafsh adalah : Husein bin Muhammad al-Murudzi, Hamzah bin Qasim al-Ahwal, Sulaiman bin Dawud az-Zahrani, Hamd bin Abi Utsman ad-Daqqaq, al-‘Abbas bin al-Fadl ash-Shaffar, Abdurrahman bin Muhamad bin Waqid, Muhammad bin al-fadl Zarqan, ‘Amr bin ash-Shabbah, Ubaid bin ash-Shabbah, Hubairah bin Muhammad at-Tammar, Abu Syu’aib al-Qawwas, al-Fadl bin Yahya bin Syahi, al-Husain bin Ali al-Ju’fi, Ahmad bin Jubair al-Inthaqi dan lain-lain.

Hafsh memang seorang yang menghabiskan umurnya untuk berkhidmah kepada Al-Qur’an. Setelah puas menimba ilmu Qira’at kepada Imam ‘Ashim, beliau berkelana ke beberapa negeri antara lain Baghdad yang merupakan Ibukota negara pada saat itu. Kemudian dilanjutkan pergi menuju ke Mekah. Pada kedua tempat tersebut, Hafsh mendarmabaktikan ilmunya dengan mengajarkan ilmu Qira’at khususnya riwayat ‘Ashim kepada penduduk kedua negeri tersebut.

Bisa dibayangkan berapa jumlah murid di kedua tempat itu yang menimba ilmu dari beliau. Jika kemudian riwayat Hafsh bisa melebar ke seantero negeri, hal tersebut tidaklah aneh mengingat kedua negeri tersebut adalah pusat keislaman pada saat itu. Sanad Bacaan Hafsh. Sanad ( runtutan periwayatan) Imam Hafsh dari Imam ‘Ashim berujung kepada sahabat Ali bin Abi Thalib. Sementara bacaan Syu’bah bermuara kepada sahabat Abdullah bin Mas’ud. Hal tersebut dikemukakan sendiri oleh Hafsh ketika beliau mengemukakan kepada Imam ‘Ashim, kenapa bacaan Syu’bah banyak berbeda dengan bacaannya ? padahal keduanya berguru kepada Imam yang sama yaitu ‘Ashim. Lalu ‘Ashim menceritakan tentang runtutan sanad kedua rawi tersebut. Runtutan riwayat Hafsh adalah demikian: Hafsh - ‘Ashim - Abu Abdurrahman as-Sulami- Ali bin Abi Thalib. Sementara runtutan periwayatan Syu’bah adalah demikian: Syu’bah- Ashim- Zirr bin Hubaisy-Abdullah bin Mas’ud. Penyebaran Qira’at di Negeri-Negeri Islam.

Pada saat ini Qira’at yang masih hidup di tengah-tengah umat Islam di seluruh dunia tinggal beberapa saja, yaitu : 1. Bacaan Imam Nafi’ melalui riwayat Qalun masih digunakan oleh masyarakat Libia dan Tunisia pada umumnya. Sementara riwayat Warsy masih digunakan oleh masyarakat di Afrika Utara (al-Maghrib al-‘Arabi) seperti Aljazair, Maroko, Mauritania. Sedangkan masyarakat di Sudan masih menggunakan empat riwayat yaitu : Qalun, Warsy, ad-Duri Abu ‘Amr, dan Hafsh. 2. Bacaan riwayat ad-Duri Abu ‘Amr masih banyak digunakan oleh kaum Muslimin di Somalia, Sudan, Chad, Nigeria, dan Afrika tengah secara umum.

Pada waktu-waktu yang lalu riwayat ad-Duri juga digunakan oleh orang Yaman. Hal itu terbukti bahwa Tafsir Fath al-Qadir karya asy-Syaukani tulisan Al-Qur’annya mengikuti riwayat ad-Duri. Adanya riwayat ad-Duri di Yaman barangkali rembesan dari Sudan. Mengingat hubungan kedua negera tersebut telah terjalin sejak dahulu. 3. Bacaan Al-Qur’an riwayat Hafsh dari ‘Ashim adalah bacaan yang paling banyak tersebar di seantero dunia Islam. 


 Oleh Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, MA 

Sumber: Kemalasan.com



NABI JIRJIS

وروي عن حاتم الأصم عن جماعة من أهل العلم أن نبي الله جرجيس (من أنبياء بني إسرائيل) كان في زمانه ملك من ملوكهم وكان كثير الفساد ومصِراً على مظالم العباد فمنع الله عنه القطر حتى أشرف ومن معه على الهلاك
Diriwayatkan dari Hatim al-Ashom dan dari sekelompok ulama bahwasannya NabiAllah Jirjis (Nabi Bani Israil) ada di zaman beliau seorang raja dari beberapa raja-raja mereka, dan Raja ini banyak berbuat kerusakan dan terus-menerus melakukan kedholiman terhadap rakyat, lalu Allah tidak menurunkan hujan sehingga dekat kehancuran kepadanya dan orang- orang yang bersamanya.


فركب هذا الملك الظالم الكافر في عسكره حتى أتوا إلى باب النبي المذكور فوجدوه في صومعته يكثر التسبيح والتقديس فقال: يا جرجيس إني أحملك رسالة إلى ربك تقول له: يأتينا بالمطر وإلا آذيته أذية يسمعها سائر البشر فما يسقينا المطر غيره، فاستعظم جرجيس ذلك وسكت
Maka raja dholim yang kafir ini berkonvoi bersama bala tentaranya hingga sampai ke depan pintu Nabi Jirjis, dan mereka mendapati Nabi Jirjis di tempat Ibadahnya sedang memperbanyak tasbih dan mensucikan Allah,


Lalu raja itu berkata:''wahai Jirjis, sesungguhnya aku membawakan kepadamu surat untuk Tuhanmu, katakan kepada-Nya:''datangkan untuk kami Hujan jika tidak aku akan menyakiti-Nya dengan kesakitan yang akan didengar oleh seluruh manusia dan tidak akan ada yang menurunkan hujan kepada kami selain Dia. maka Nabi jirjis diam

فنزل جبريل إليه وقال: ربك يقول لك: اسأله بماذا تؤذيه؟ فسأله فقال الملك: لا قدرة لي على أذيته إلا من وجه واحد لأنه قوي وأنا ضعيف، وإنما أوذي حباءَه ومن آذى أحباءَه فقد آذاه فجاء جبريل فقال: يا جرجيس قل له: لا تفعل فنحن نأتيك بالمطر
Lalu turun Malaikat Jibril dan berkata:'' Tuhanmu berfirman kepadamu:'' Tanyakan kepadanya dengan apa engkau menyakiti Tuhan? maka Nabi Jirjis bertanya kepadanya, lalu sang Raja menjawab:'' tidak ada kemampuan bagiku untuk menyakiti-Nya kecuali dengan satu cara karna Ia maha Kuat dan aku lemah, hanya saja aku akan menyakiti kekasihnya dan siapa saja yang menyakiti kekasihnya maka sungguh itu akan menyakitiNya. kemudian Jibril datang lagi dan berkata:'' wahai jirjis katakan kepadanya:'' jangan engkau lakukan maka kami akan mendatangkan hujan untukmu.

قثم جادت السماء بالسحاب وامتلأت الصحارى بالسيول وأمر الله الأرض فأنبتت نباتاً لم يعهد مثله. فلما رآه الملك ركب إلى جرجيس وهو في صومعته يسبح ويقدس فخرج إليه وقال: يا هذا ما تريد منا لم تشتغل بمالك عنا؟ وخشي أن يحمله رسالة أخرى فيها فظاعة في المقالة، فقال: يا نبي الله ما أتيت حرباً قد أتيت مسلماً وقد انفتح بصر الضعيف الأعمى فإن من عمل الإحسان مع عدوه لأجل وليه يجب أن تسجد الجباه لعظمته، وإني أريد المصالحة لتكون صفقتي رابحة، فقد ظهرت لي الآن أسرار التوحيد، وأنا أشهد أن لا إله إلا الله ولا معبود بحق سواه.
Kemudian setelah itu turun hujan dan padang pasir di penuhi dengan air (banjir) dan Allah memerintahkan kepada bumi maka tumbuh, tumbuh2an yang tidak ada yang seperti itu sebelumnya.

Ketika raja melihat itu maka ia kembali kepada jirjis dan beliau tetap berada di tempat ibadahnya, maka Nabi Jirjis keluar menemuinya dan berkata:'' hai kamu apalagi yang kamu inginkan dari kami, jangan engkau sibuk dengan hartamu atas kami? dan Nabi Jirjis khawatir kalo2 dibawakan surat yang lain yang isinya meminta sesuatu yang aneh didalam ucapannya.


Maka raja berkata: wahai Nabi Allah, aku tidak datang untuk berperang, sesungguhnya aku datang sebagai orang islam, dan sungguh telah terbuka padangan yang lemah dan buta, sesungguhnya siapa yang melakukan kebaikan bersama musuhnya karna untuk kekasihnya,maka wajib sujud dahi-dahi untuk keagunganNya, dan sesungguhnya aku ingin berdamai agar transaksiku mendapatkan keuntungan, dan telah nampak bagiku sekarang rahasia Tauhid, dan aku bersaksi Tidak ada Tuhan selain Allah, dan tidak ada yang disembah dengan benar selain-Nya