Ulinuha Asnawi

Catatan Ilmu Alat · Nahwu · Shorof · Alfiyah · Balaghah

Bab: Kalam dan Sesuatu yang Kalam Tersusun Darinya

الْكَلَامُ وَمَا يَتَأَلَّفُ مِنْهُ

Bab: Kalam dan Sesuatu yang Kalam Tersusun Darinya


كَلاَمُنَا لَفْظٌ مُفِيْدٌ كَاسْتَقِمْ   وَاسْمٌ وَفِعْلٌ ثُمَّ حَرْفٌ الْكَلِمْ

Kalam menurut kami (ulama nahwu) adalah lafaz yang memberi faedah (makna sempurna), seperti ucapan “Istaqim!”.
Adapun kalim (unsur pembentuk kalam) terdiri dari isim, fi‘il, dan huruf.


وَاحِدُهُ كَلِمَةٌ وَالْقَوْلُ عَمْ      وَكِلْمَةٌ بِهَا كَلاَمٌ قَدْ يُؤمْ

Satu dari kalim disebut kalimah, adapun qaul itu bersifat umum
Dan terkadang satu kalimah saja sudah dapat bermakna kalam (seperti kata perintah).


بِالْجَرِّ وَالتَّنْوِيْنِ وَالنِّدَا وَاَلْ    وَمُسْنَدٍ لِلِاسْمِ تَمْيِيْزٌ حَصَلْ

Dengan jar, tanwin, nida’, al-, dan menjadi musnad ilaih,
maka tampaklah tanda pembeda kalimah isim.


بِتَا فَعَلْتَ وَأَتَتْ وَيَا افْعَلِي    وَنُوْنِ أَقْبِلَنَّ فِعْلٌ يَنْجَلِي

Dengan ta’ pada fa‘alta, ta’ pada atat,
ya’ pada if‘alī,
dan nun taukid pada aqbilanna, maka jelaslah bahwa itu adalah fi‘il.


سِوَاهُمَا الْحَرْفُ كَهَلْ وَفِي وَلَمْ         وَفِعْلٌ مُضَارِعٌ يَلِي لَمْ كَيَشْمْ

Selain isim dan fi‘il, maka itu adalah huruf, seperti hal, , dan lam.
Dan tanda fi‘il mudhāri‘ adalah dapat dimasuki “lam”, seperti lam yasyam.


وَمَاضِيَ الأَفْعَالِ بِالتَّا مِزْ وَسِمْ         بِالنُّوْنِ فِعْلَ الأَمْرِ إِنْ أَمْرٌ فُهِمْ

Dan fi‘il māḍī dapat dibedakan dengan ta’.
Sedangkan fi‘il amr, tandanya adalah menerima nun taukid,
jika kata tersebut memang dipahami sebagai perintah.


وَالأَمْرُ إِنْ لَمْ يَكُ لِلنُّوْنِ مَحَلْ          فِيهِ هُوَ اسْمٌ نَحْوُ صَهْ وَحَيَّهَلْ

Kata perintah jika tidak memungkinkan dimasuki nun taukid,
maka ia dikategorikan sebagai isim fi'il, seperti ṣah! dan ḥayya-hal!


Muqaddimah

مقدمة

Muqaddimah

قَـالَ مُحَمَّدٌ هُوَ ابنُ مَـالِكِ||  أَحْمَدُ رَبِّي اللَّهَ خَيْرَ مَالِكِ

Syaikh Muhammad—ia adalah Ibnu Mālik—telah berkata:
Aku memuji Allah, Tuhanku, sebaik-baik Pemilik.

مُصَلِّيَاً عَلَى النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى  ||  وَآلِـــهِ الْمُسْــتَكْمِلِينَ الْشَّــرَفَا

Aku bershalawat kepada Nabi yang terpilih,
dan kepada keluarga beliau yang sempurna kemuliaannya.

وَأسْتَـعِيْنُ اللهَ فِيْ ألْفِــيَّهْ || مَقَاصِدُ الْنَّحْوِ بِهَا مَحْوِيَّهْ

Aku memohon pertolongan kepada Allah dalam penyusunan Alfiyah ini,
yang dengan nazham ini tercakup seluruh tujuan ilmu nahwu.

تُقَرِّبُ الأَقْصَى بِلَفْظٍ مُوْجَزِ ||   وَتَبْسُـطُ الْبَذْلَ بِوَعْدٍ مُنْجَزِ

Nazham Alfiyah ini mendekatkan makna-makna yang jauh dengan lafaz yang ringkas,
dan menjelaskan pembahasan yang luas dengan janji penjelasan yang terpenuhi.

وَتَقْتَضِي رِضَاً بِغَيْرِ سُخْطِ  ||  فَـائِقَةً أَلْفِــــيَّةَ ابْنِ مُعْطِي

Kitab ini menuntut keridaan tanpa kemarahan,
serta menjadi Alfiyah yang lebih unggul daripada Alfiyah karya Ibnu Mu‘ṭī

وَهْوَ بِسَبْقٍ حَائِزٌ تَفْضِيْلاً ||   مُسْـتَوْجِبٌ ثَنَائِيَ الْجَمِيْلاَ

Dan karena lebih dahulu disusun, ia memperoleh keutamaan,
sehingga berhak atas sanjungan yang indah dariku.

وَاللَّهُ يَقْضِي بِهِبَـاتٍ وَافِرَهْ ||  لِي وَلَهُ فِي دَرَجَاتِ الآخِرَهْ

Semoga Allah menetapkan karunia-karunia-Nya yang berlimpah
bagiku dan baginya pada derajat-derajat yang tinggi di akhirat.

Muqadimah Penulis

Muqaddimah Penulis

            Bismillah, alhamdulillah.. puji syukur kami langitkan teruntuk Allah SWT, Tuhan semesta alam, teriring shalawat serta salam semoga memenuhi alam kepada nabi agung Muhammad SAW. Dimalam Nisfu Sya’ban 1447 H, atau bertepatan tgl 2 Februari ini keinginanku memuncak meskipun lama terpendam, untuk menuliskan bait-bait “Alfiyah Ibnu Malik” berikut terjemah dan penjelsannya.

            Semoga Allah SWT, Yang Maha Memilih dari semua makhluk dan segala kejadian menuntun jari-jari ini, meluruskan yang bengkok dari jalan pencari kebenaran, menuntunnya hingga sampai pada keridha’an. Dengan harapan, semoga memberikan kemanfaatan untuk para pencari ridho-Nya, mempermudah mempelajari Bahasa Arab, Bahasanya ahli syurga, dan Bahasa firman Allah SWT serta Nabi yang paling dikasihiNya, Nabi Muhamad SAW.

            Saya akan menulis setiap nadham di Blog ini dan menerjemahkan dalam bahasa indonesia, kemudian akan saya tambahkan keterangan jika diperlukan, saya tidak akan menjelaskan tarkib/susunan bait kecuali jika diperlukan. Dengan ini semoga menjadikan tulisan yang ringkas akan tetapi tidak membosankan. Dan akan saya awali nadhom yang pertama, sebagaimana tabarrukan  dimalam nisfu Sya’ban ini.

قَـالَ مُحَمَّد هُوَ ابنُ مَـالِكِ ***  أَحْمَدُ رَبِّي اللَّهَ خَيْرَ مَالِكِ

Syaikh Muhammad Ibnu Malik berkata: Aku memuji kepada Allah Tuhanku sebaik-baiknya Dzat Yang Maha Memiliki.

Keterangan

Syaikh Muhammad bin Malik, Nama lengkap beliau adalah Syaikh Muhammad bin Abdullah bin Malik al-Tha'i al-Jayyani, yang lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Malik. Beliau lahir di Jayyan (Jaén), Andalusia (sekarang Spanyol), pada tahun 600 H (1204 M).

Ibnu Malik tumbuh di masa keemasan ilmu pengetahuan di Andalusia. Namun, demi memperdalam ilmunya, beliau melakukan rihlah (perjalanan) ke Timur Tengah: Damaskus: Beliau menetap lama di sini, mengajar, dan menulis karya-karya besarnya.

Aleppo (Halab): Tempat beliau menimba ilmu dari ulama-ulama besar pada masanya.
Beliau dikenal sebagai pakar bahasa Arab (Lughah), Nahwu, Shorof, dan Qira'at yang tak tertandingi pada zamannya.

Meskipun memiliki banyak karangan, kitab Al-Khulashah al-Alfiyyah (yang kita kenal sebagai Alfiyah Ibnu Malik) adalah mahakaryanya. Kitab ini terdiri dari 1.002 bait nadhom (syair) yang merangkum kaidah-kaidah rumit Nahwu dan Shorof dengan gaya bahasa yang ringkas namun padat.

Ibnu Malik dikenal sebagai sosok yang sangat religius, tawadhu, dan tekun. Beliau wafat di Damaskus pada tahun 672 H (1274 M). Keikhlasan beliau dalam mengajar terbukti dari warisan ilmunya yang tetap dipelajari dan dihafalkan hingga hari ini, lebih dari 700 tahun setelah kewafatannya.

Sejenak, patut kita mengingat kembali perkataan Imam Syafi’I rahimahullah "Barangsiapa yang mempelajari bahasa Arab, maka akan lembut tabiatnya." Maka mempelajari Alfiyah Ibnu Malik bukan sekadar menghafal bait syair, melainkan upaya menjaga kemurnian pemahaman terhadap sumber hukum Islam.


Fudlail bin ‘Iyadl

Fudlail bin ‘Iyadl (w. 87 H) tinggal di Marwa sebelum akhirnya pindah ke Makkah sampai akhir hayatnya, gurunya Imam Syafi’i sebelum bertemu Imam Malik, juga gurunya Sufyan bin ‘Uyainah, Ibnu Al-Mubarak, dlstnya.

Dulunya seorang pembegal/semacam perampok di Mafazah daerah antara Abiward dan Marwa. Kemudian bertaubat dan menjadi Ulama tersohor. Beberapa Ulama mencatat asbab-musabab taubatnya, bahwa ia mempunyai kekasih seorang perempuan, akan tetapi ketika memanjat dinding pembatas untuk menemui kekasihnya, terdengar suara seseorang membacakan:

ألم يأن للذين آمنوا أن تخشع قلوبهم لذكر الله وما نزل من الحق .. الأيه (الحديد: 16)

“Bukankah telah datang saatnya orang-orang beriman mengkhusyu’kan hatinya untuk /mengingat Allah/berdzikir..” QS Al-Hadid: 16. Ia mengatakan “iya.. ya Allah, sekaranglah waktunya.” Kemudian ia bertaubat.

Ibnu Al-Mubarak pernah mengatakan “dibumi (sekarang ini) tidak ada yang lebih utama melebihi Al-Fudlail bin ‘Iyadl.”

Ibrahim bin Syammas pernah mengatakan “aku mengetahui orang yang paling faqih, yang paling wira’i, dan yang paling bagus hafalannya. Orang yang paling bagus hafalannya adalah Ibnu  Al-Mubarak, yang paling wira’i adalah Fudlail bin ‘Iyadl, dan yang paling  faqih adalah Waqi’ bin Jarah.”


Imam Syafi'i

Imam Syafi’i (150- 204 H) nasabnya bertemu rasulullah SAW pada Abdu Manaf, lahir di Ghazzah pada 150 H, rihlah ke Makkah belajar diantaranya dengan Khalid bin Muslim az-Zanji mufti makkah pada waktu itu, Fudlail bin ‘Iyadl, Sufyan bin ‘Uyainah, dlstnya.

            12 tahun dari kelahirannya, Imam Syafi’I rihlah ke Madinah dan belajar dengan Imam Malik, darinya menghafal al-Muwatha’ dan berbagai disiplin ilmu agama, juga mengambil ilmu dari beberapa Ulama Makkah dan Madinah, dan diusianya ke 15 tahun menjadi mufti.

            Kemudian rihlah ke Yaman dan mengambil ilmu diantaranya dari Mutharrif bin Mazan, Hisyam bin Yusuf Al-Qadli, Amar bin Abi Salamah, Yahya bin Hassan.

            Kemudian rihlah ke Iraq dan mengambil ilmu diantaranya dari Waqi’ bin al-Jarrah, Muhammad bin al-Hassan alim-alimnya orang Iraq pada waktu itu, Hammad bin Usamah, Ayyub bin Suwaid ar-Ramli, Abdul Wahhab bin Abdul Majid, Ismail bin ‘Ulayyah.

Menyusun kitab Al-Hujjah, terkumpul padanya manhaj pemikirannya dalam istilah “qaul qadim” dan mulai diantaranya diikuti dan haditsnya diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal, Imam Abu Tsauri, dlstnya. Kemudian pindah ke Mesir dan mulai membuat banyak pembaharuan pemikirannya yang disebut dengan “qaul jadid” dan setelahnya menyusun kitab Al-Umm, dan ushul fiqihnya yang sangat masyhur disebut ar-risalah.

Imam Ahmad bin Hambal pernah mengatakan: Imam Syafi’I itu bagaikan mataharinya dunia, dan bagaikan dawa’, yang artinya penyembuh.


AL-HIKAM IBNU ATHAILAH| Kelanjutan Maqolah II


Assalamu’alaikum WarahmatulLahi WabarakatuH, semoga kita selalu dalam lindungan dan hidayah Allah Ta’ala. Kita lanjutkan membaca memetik kalam-kalam hikmah dari kitab al-Hikam Ibnu Athaillah Assakandary. Semoga kita dipermudah dalam memahami dan mengamalkannya. Al-‘Ilmu an-Nafi’.
BACA JUGA MAQOLAH KE-II (Pertemuan Pertama)
Kali ini pertemuan ke-2 dari maqolah al-Hikam Ibnu Athailah Assakandary:


إرادتك التجريد مع إقامة الله إياك في الأسباب من السهوة الخفية، وإرادتك الأسباب مع إقامة الله إياك في التجريد إنحطاط عن الهمة العلية.

“Keinginan Anda berada pada suatu maqom tajrid, bersamaan dengan itu Allah Ta’ala mendudukkan Anda pada maqom asbab adalah termasuk syahwat yang samar, sedangkan keinginan Anda berada pada maqom asbab, bersamaan dengan itu Allah Ta’ala mendudukkan Anda pada maqom tajrid adalah terjatuh dari himmah (kedudukan) yang tinggi.”


Dari postingan sebelumnya, kita sudah mempunya tashawwur (gambaran) apa itu tajrid ? apa itu asbab? Seberapa had-batasannya, sehingga kita mempunyai pandangan (an-nadlr) bahwa dalam syahwat yang samar termasuk su’ul adab adalah seorang santri yang belum tamam (sempurna keilmuannya) terburu-buru mendudukkan diri sebagai seorang Guru, Kiai atau bahkan Ulama, apalagi awam atau mu’alaf yang belum banyak mengetahui disiplin ilmu islam.

Ingatan kita tentang ungkapan penyarah kitab asy-Syaikh As-Syarqawi (rahimahulLah) masih segar, bahwa keterlanjuran diterimanya murid yang belum tamam (sempurna keilmuannya), bagaikan racun yang mematikan. Jauh-jauh hari Rasulullah ShallalLahu ‘alaihi wasalam, dari riwayat Abu Hurairah (radlialLahu ‘anh) mengingatkan.

وعن أبي هريرة  رضي الله عنه  قال : بينما كان النبي  صلى الله عليه وسلم يحدث إذ جاء أعرابي فقال : متى الساعة ؟ قال : " إذا ضيعت الأمانة فانتظر الساعة " . قال : كيف إضاعتها ؟ قال : " إذا وسد الأمر إلى غير أهله فانتظر الساعة " . رواه البخاري .
“Dari riwayat Abi Hurairah (radlialLahu ‘anh), bahwa ketika beliau berkhutbah, datang seorang Arab Badui menanyakan, kapan hari kiyamat? Ketika amanah disia-siakan maka pastilah datang hari kiyamat, jawab rasulullah. Bagaimana amanat disia-siakan, ya rasulullah? Jika suatu perkara diserahkan kepada selain ahlinya, tegas rasulullah.”

Al-amru/suatu perkara tersebut menurut syaikh Ali al-Qary (rahimahullah) dalam Mirqat al-Mashabih, adalah urusan kepemimpinan (amr as-Suthan), regulasi pemerintah (imarah), putusan hukum (al-qadla), serta hukum-hukum islam (al-hukumiyah). Sedangkan faktanya dari semua hal tersebut mengalami penurunan yang masif terutama lemahnya nilai-nilai Islam, akibat dari Ulama yang bukan semestinya, awam yang di’ulamakkan.

Nampaknya kita terjebak dalam urusan ini sehingga Ulama yang sesungguhnya pun menghabiskan waktu untuk menjelaskan permasalahan yang sangat serius ini kepada santri dan jama’ahnya, selain itu Ulama-ulamaan tersebut sering merebut panggung bertabrakan dalam arus sosial yang tajam. Sehingga masyarakat awam --seperti alfaqir ini-- sering bertabrakan satu samalain dalam furu’iyah, ubudiyah sosial, serta politik yang tidak sehat.

Mungkin al-Hikam menjawab permasalahan ini dengan cara tetaplah mendudukkan diri pada maqom asbab jika oleh Allah Ta’ala kalian ditakdirkan berada pada maqom asbab, dan tetaplah mendudukkan diri dimaqom tajrid jika Allah Ta’ala menghendaki kalian dimaqom tajrid.

Seseorang yang didudukkan oleh Allah Ta’ala pada maqom tajrid, kedudukan yang bi ghoiri yuhtasab, atau kedudukan tanpa banyak keterkaitan asbab. Jika ia mendudukkan dirinya pada maqom asbab maka dirinya layaknya terlempar dari kedudukan yang tinggi.

Tashawwur (gambanrannya) seperti bos yang mendudukan dirinya sebagai pekerja, guru yang mendudukkan dirinya sebagai murid, atau Ulama yang terlampaui akan tetapi mendudukakan dirinya pada maqom santri bahkan awam. Maka mereka seperti terlempar dari kedudukan yang tinggi, muru’ah serta harga dirinya tertawan oleh tingkah lakunya sendiri.
Demikian, semoga bermanfaat!
InsyaAllah, minggu depan kita lanjutkan dengan maqolah setelahnya. Betapa banyak orang yang terlihat tanpa pengaruh dimata penghuni dunia tapi diperhitungkan oleh penduduk langit, waqila disebabkan memilih selamat dari pada terlihat hebat dimata manusia. Fafham!