22.45
الْكَلَامُ وَمَا يَتَأَلَّفُ مِنْهُ
Bab: Kalam dan Sesuatu yang Kalam Tersusun Darinya
كَلاَمُنَا لَفْظٌ مُفِيْدٌ كَاسْتَقِمْ وَاسْمٌ وَفِعْلٌ ثُمَّ حَرْفٌ الْكَلِمْ
Kalam menurut kami
(ulama nahwu) adalah lafaz yang memberi faedah (makna sempurna), seperti
ucapan “Istaqim!”.
Adapun kalim (unsur pembentuk kalam) terdiri dari isim, fi‘il,
dan huruf.
وَاحِدُهُ كَلِمَةٌ وَالْقَوْلُ عَمْ وَكِلْمَةٌ بِهَا كَلاَمٌ قَدْ يُؤمْ
Satu dari kalim
disebut kalimah, adapun qaul
itu bersifat umum
Dan terkadang satu kalimah saja sudah dapat bermakna kalam (seperti kata
perintah).
بِالْجَرِّ وَالتَّنْوِيْنِ وَالنِّدَا وَاَلْ وَمُسْنَدٍ لِلِاسْمِ تَمْيِيْزٌ
حَصَلْ
Dengan jar, tanwin, nida’, al-,
dan menjadi musnad ilaih,
maka tampaklah tanda pembeda kalimah isim.
بِتَا فَعَلْتَ وَأَتَتْ وَيَا افْعَلِي وَنُوْنِ أَقْبِلَنَّ فِعْلٌ
يَنْجَلِي
Dengan ta’ pada fa‘alta, ta’ pada atat,
ya’ pada if‘alī,
dan nun taukid pada aqbilanna, maka jelaslah bahwa itu adalah
fi‘il.
سِوَاهُمَا الْحَرْفُ كَهَلْ وَفِي وَلَمْ وَفِعْلٌ مُضَارِعٌ
يَلِي لَمْ كَيَشْمْ
Selain isim dan fi‘il, maka itu adalah huruf, seperti hal,
fī, dan lam.
Dan tanda fi‘il mudhāri‘ adalah dapat dimasuki “lam”, seperti lam
yasyam.
وَمَاضِيَ الأَفْعَالِ بِالتَّا مِزْ وَسِمْ بِالنُّوْنِ فِعْلَ
الأَمْرِ إِنْ أَمْرٌ فُهِمْ
Dan fi‘il māḍī dapat dibedakan dengan ta’.
Sedangkan fi‘il amr, tandanya adalah menerima nun taukid,
jika kata tersebut memang dipahami sebagai perintah.
وَالأَمْرُ إِنْ لَمْ يَكُ لِلنُّوْنِ مَحَلْ فِيهِ هُوَ اسْمٌ
نَحْوُ صَهْ وَحَيَّهَلْ
Kata perintah jika tidak memungkinkan dimasuki nun taukid,
maka ia dikategorikan sebagai isim fi'il, seperti ṣah! dan ḥayya-hal!
22.44
مقدمة
Muqaddimah
قَـالَ مُحَمَّدٌ هُوَ ابنُ مَـالِكِ||
أَحْمَدُ رَبِّي اللَّهَ
خَيْرَ مَالِكِ
Syaikh
Muhammad—ia adalah Ibnu Mālik—telah berkata:
Aku memuji Allah, Tuhanku, sebaik-baik Pemilik.
مُصَلِّيَاً عَلَى النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى || وَآلِـــهِ الْمُسْــتَكْمِلِينَ الْشَّــرَفَا
Aku
bershalawat kepada Nabi yang terpilih,
dan kepada keluarga beliau yang sempurna kemuliaannya.
وَأسْتَـعِيْنُ اللهَ فِيْ ألْفِــيَّهْ ||
مَقَاصِدُ الْنَّحْوِ بِهَا مَحْوِيَّهْ
Aku memohon
pertolongan kepada Allah dalam penyusunan Alfiyah ini,
yang dengan nazham ini tercakup seluruh tujuan ilmu nahwu.
تُقَرِّبُ الأَقْصَى بِلَفْظٍ مُوْجَزِ ||
وَتَبْسُـطُ
الْبَذْلَ بِوَعْدٍ مُنْجَزِ
Nazham
Alfiyah ini mendekatkan makna-makna yang jauh dengan lafaz yang ringkas,
dan menjelaskan pembahasan yang luas dengan janji penjelasan yang terpenuhi.
وَتَقْتَضِي رِضَاً بِغَيْرِ سُخْطِ || فَـائِقَةً أَلْفِــــيَّةَ ابْنِ مُعْطِي
Kitab ini
menuntut keridaan tanpa kemarahan,
serta menjadi Alfiyah yang lebih unggul daripada Alfiyah karya Ibnu Mu‘ṭī
وَهْوَ بِسَبْقٍ حَائِزٌ تَفْضِيْلاً ||
مُسْـتَوْجِبٌ
ثَنَائِيَ الْجَمِيْلاَ
Dan karena
lebih dahulu disusun, ia memperoleh keutamaan,
sehingga berhak atas sanjungan yang indah dariku.
وَاللَّهُ يَقْضِي بِهِبَـاتٍ
وَافِرَهْ || لِي
وَلَهُ فِي دَرَجَاتِ الآخِرَهْ
Semoga Allah
menetapkan karunia-karunia-Nya yang berlimpah
bagiku dan baginya pada derajat-derajat yang tinggi di akhirat.
23.31
Muqaddimah Penulis
Bismillah, alhamdulillah.. puji
syukur kami langitkan teruntuk Allah SWT, Tuhan semesta alam, teriring shalawat
serta salam semoga memenuhi alam kepada nabi agung Muhammad SAW. Dimalam
Nisfu Sya’ban 1447 H, atau bertepatan tgl 2 Februari ini keinginanku memuncak
meskipun lama terpendam, untuk menuliskan bait-bait “Alfiyah Ibnu Malik”
berikut terjemah dan penjelsannya.
Semoga Allah SWT, Yang Maha Memilih
dari semua makhluk dan segala kejadian menuntun jari-jari ini, meluruskan yang
bengkok dari jalan pencari kebenaran, menuntunnya hingga sampai pada keridha’an.
Dengan harapan, semoga memberikan kemanfaatan untuk para pencari ridho-Nya,
mempermudah mempelajari Bahasa Arab, Bahasanya ahli syurga, dan Bahasa firman
Allah SWT serta Nabi yang paling dikasihiNya, Nabi Muhamad SAW.
Saya akan menulis setiap nadham di
Blog ini dan menerjemahkan dalam bahasa indonesia, kemudian akan saya tambahkan
keterangan jika diperlukan, saya tidak akan menjelaskan tarkib/susunan bait
kecuali jika diperlukan. Dengan ini semoga menjadikan tulisan yang ringkas akan
tetapi tidak membosankan. Dan akan saya awali nadhom yang pertama, sebagaimana tabarrukan
dimalam nisfu Sya’ban ini.
قَـالَ مُحَمَّد هُوَ ابنُ مَـالِكِ *** أَحْمَدُ رَبِّي اللَّهَ خَيْرَ مَالِكِ
Syaikh Muhammad Ibnu Malik
berkata: Aku memuji kepada Allah Tuhanku sebaik-baiknya Dzat Yang Maha
Memiliki.
Keterangan
Syaikh Muhammad bin Malik, Nama lengkap beliau adalah Syaikh
Muhammad bin Abdullah bin Malik al-Tha'i al-Jayyani, yang lebih dikenal dengan
sebutan Ibnu Malik. Beliau lahir di Jayyan (Jaén), Andalusia (sekarang
Spanyol), pada tahun 600 H (1204 M).
Ibnu Malik tumbuh di masa keemasan ilmu pengetahuan di Andalusia.
Namun, demi memperdalam ilmunya, beliau melakukan rihlah (perjalanan) ke Timur
Tengah: Damaskus: Beliau menetap lama di sini, mengajar, dan menulis
karya-karya besarnya.
Aleppo (Halab): Tempat beliau menimba ilmu dari ulama-ulama besar
pada masanya.
Beliau dikenal sebagai pakar bahasa Arab (Lughah), Nahwu, Shorof, dan Qira'at
yang tak tertandingi pada zamannya.
Meskipun memiliki banyak karangan, kitab Al-Khulashah al-Alfiyyah
(yang kita kenal sebagai Alfiyah Ibnu Malik) adalah mahakaryanya. Kitab ini
terdiri dari 1.002 bait nadhom (syair) yang merangkum kaidah-kaidah rumit Nahwu
dan Shorof dengan gaya bahasa yang ringkas namun padat.
Ibnu Malik dikenal sebagai sosok yang sangat religius, tawadhu,
dan tekun. Beliau wafat di Damaskus pada tahun 672 H (1274 M). Keikhlasan
beliau dalam mengajar terbukti dari warisan ilmunya yang tetap dipelajari dan
dihafalkan hingga hari ini, lebih dari 700 tahun setelah kewafatannya.
Sejenak, patut kita mengingat kembali perkataan Imam Syafi’I rahimahullah
"Barangsiapa yang mempelajari bahasa Arab, maka akan lembut
tabiatnya." Maka mempelajari Alfiyah Ibnu Malik bukan sekadar menghafal
bait syair, melainkan upaya menjaga kemurnian pemahaman terhadap sumber hukum
Islam.
01.02
Fudlail bin ‘Iyadl (w. 87 H) tinggal di Marwa sebelum akhirnya
pindah ke Makkah sampai akhir hayatnya, gurunya Imam Syafi’i sebelum bertemu
Imam Malik, juga gurunya Sufyan bin ‘Uyainah, Ibnu Al-Mubarak, dlstnya.
Dulunya seorang pembegal/semacam perampok di
Mafazah daerah antara Abiward dan Marwa. Kemudian bertaubat dan menjadi Ulama
tersohor. Beberapa Ulama mencatat asbab-musabab taubatnya, bahwa ia mempunyai
kekasih seorang perempuan, akan tetapi ketika memanjat dinding pembatas untuk
menemui kekasihnya, terdengar suara seseorang membacakan:
ألم يأن للذين آمنوا
أن تخشع قلوبهم لذكر الله وما نزل من الحق .. الأيه (الحديد: 16)
“Bukankah telah
datang saatnya orang-orang beriman mengkhusyu’kan hatinya untuk /mengingat Allah/berdzikir..” QS Al-Hadid: 16. Ia mengatakan “iya.. ya Allah,
sekaranglah waktunya.” Kemudian ia bertaubat.
Ibnu Al-Mubarak pernah mengatakan “dibumi
(sekarang ini) tidak ada yang lebih utama melebihi Al-Fudlail bin ‘Iyadl.”
Ibrahim bin Syammas pernah mengatakan “aku
mengetahui orang yang paling faqih, yang paling wira’i, dan yang paling bagus
hafalannya. Orang yang paling bagus hafalannya adalah Ibnu Al-Mubarak, yang paling wira’i adalah Fudlail
bin ‘Iyadl, dan yang paling faqih adalah
Waqi’ bin Jarah.”
00.57
Imam Syafi’i (150- 204 H) nasabnya bertemu rasulullah SAW
pada Abdu Manaf, lahir di Ghazzah pada 150 H, rihlah ke Makkah belajar diantaranya
dengan Khalid bin Muslim az-Zanji mufti makkah pada waktu itu, Fudlail bin
‘Iyadl, Sufyan bin ‘Uyainah, dlstnya.
12 tahun
dari kelahirannya, Imam Syafi’I rihlah ke Madinah dan belajar dengan Imam
Malik, darinya menghafal al-Muwatha’ dan berbagai disiplin ilmu agama, juga mengambil
ilmu dari beberapa Ulama Makkah dan Madinah, dan diusianya ke 15 tahun menjadi
mufti.
Kemudian
rihlah ke Yaman dan mengambil ilmu
diantaranya dari Mutharrif bin Mazan, Hisyam bin Yusuf Al-Qadli, Amar bin Abi Salamah,
Yahya bin Hassan.
Kemudian
rihlah ke Iraq dan mengambil ilmu diantaranya dari Waqi’ bin al-Jarrah, Muhammad
bin al-Hassan alim-alimnya orang Iraq pada waktu itu, Hammad bin Usamah, Ayyub
bin Suwaid ar-Ramli, Abdul Wahhab bin Abdul Majid, Ismail bin ‘Ulayyah.
Menyusun kitab Al-Hujjah, terkumpul padanya manhaj
pemikirannya dalam istilah “qaul qadim” dan mulai diantaranya diikuti dan
haditsnya diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal, Imam Abu Tsauri, dlstnya.
Kemudian pindah ke Mesir dan mulai membuat banyak pembaharuan pemikirannya yang
disebut dengan “qaul jadid” dan setelahnya menyusun kitab Al-Umm, dan ushul
fiqihnya yang sangat masyhur disebut ar-risalah.
Imam Ahmad bin Hambal pernah mengatakan: Imam Syafi’I itu bagaikan
mataharinya dunia, dan bagaikan dawa’, yang artinya penyembuh.
01.21
Assalamu’alaikum WarahmatulLahi
WabarakatuH, semoga kita selalu dalam lindungan dan hidayah Allah Ta’ala. Kita
lanjutkan membaca memetik kalam-kalam hikmah dari kitab al-Hikam Ibnu Athaillah
Assakandary. Semoga kita dipermudah dalam memahami dan mengamalkannya. Al-‘Ilmu
an-Nafi’.
BACA JUGA MAQOLAH KE-II (Pertemuan Pertama)
Kali ini pertemuan ke-2 dari
maqolah al-Hikam Ibnu Athailah Assakandary:
إرادتك التجريد مع إقامة الله
إياك في الأسباب من السهوة الخفية، وإرادتك الأسباب مع إقامة الله إياك في التجريد
إنحطاط عن الهمة العلية.
“Keinginan Anda
berada pada suatu maqom tajrid, bersamaan dengan itu Allah Ta’ala mendudukkan
Anda pada maqom asbab adalah termasuk syahwat yang samar, sedangkan keinginan
Anda berada pada maqom asbab, bersamaan dengan itu Allah Ta’ala mendudukkan
Anda pada maqom tajrid adalah terjatuh dari himmah (kedudukan) yang tinggi.”
Dari postingan sebelumnya, kita
sudah mempunya tashawwur (gambaran) apa itu tajrid ? apa itu asbab?
Seberapa had-batasannya, sehingga kita mempunyai pandangan (an-nadlr)
bahwa dalam syahwat yang samar termasuk su’ul adab adalah seorang santri yang
belum tamam (sempurna keilmuannya) terburu-buru mendudukkan diri sebagai
seorang Guru, Kiai atau bahkan Ulama, apalagi awam atau mu’alaf yang belum
banyak mengetahui disiplin ilmu islam.
Ingatan kita tentang ungkapan penyarah
kitab asy-Syaikh As-Syarqawi (rahimahulLah) masih segar, bahwa keterlanjuran
diterimanya murid yang belum tamam (sempurna keilmuannya), bagaikan racun yang
mematikan. Jauh-jauh hari Rasulullah
ShallalLahu ‘alaihi wasalam, dari riwayat Abu Hurairah (radlialLahu ‘anh)
mengingatkan.
وعن أبي هريرة
رضي الله عنه قال : بينما كان
النبي صلى الله عليه وسلم يحدث إذ جاء
أعرابي فقال : متى الساعة ؟ قال : " إذا ضيعت الأمانة فانتظر الساعة " .
قال : كيف إضاعتها ؟ قال : " إذا وسد الأمر إلى غير أهله فانتظر الساعة
" . رواه البخاري .
“Dari riwayat Abi
Hurairah (radlialLahu ‘anh), bahwa ketika beliau berkhutbah, datang seorang
Arab Badui menanyakan, kapan hari kiyamat? Ketika amanah disia-siakan maka
pastilah datang hari kiyamat, jawab rasulullah. Bagaimana amanat disia-siakan,
ya rasulullah? Jika suatu perkara diserahkan kepada selain ahlinya, tegas
rasulullah.”
Al-amru/suatu perkara tersebut menurut syaikh Ali al-Qary (rahimahullah)
dalam Mirqat al-Mashabih, adalah urusan kepemimpinan (amr as-Suthan),
regulasi pemerintah (imarah), putusan hukum (al-qadla), serta
hukum-hukum islam (al-hukumiyah). Sedangkan faktanya dari semua hal
tersebut mengalami penurunan yang masif terutama lemahnya nilai-nilai Islam,
akibat dari Ulama yang bukan semestinya, awam yang di’ulamakkan.
Nampaknya kita terjebak dalam
urusan ini sehingga Ulama yang sesungguhnya pun menghabiskan waktu untuk
menjelaskan permasalahan yang sangat serius ini kepada santri dan jama’ahnya,
selain itu Ulama-ulamaan tersebut sering merebut panggung bertabrakan dalam
arus sosial yang tajam. Sehingga masyarakat awam --seperti alfaqir ini-- sering
bertabrakan satu samalain dalam furu’iyah, ubudiyah sosial, serta politik yang
tidak sehat.
Mungkin al-Hikam menjawab
permasalahan ini dengan cara tetaplah mendudukkan diri pada maqom asbab jika
oleh Allah Ta’ala kalian ditakdirkan berada pada maqom asbab, dan tetaplah
mendudukkan diri dimaqom tajrid jika Allah Ta’ala menghendaki kalian dimaqom
tajrid.
Seseorang yang didudukkan oleh
Allah Ta’ala pada maqom tajrid, kedudukan yang bi ghoiri yuhtasab, atau
kedudukan tanpa banyak keterkaitan asbab. Jika ia mendudukkan dirinya pada
maqom asbab maka dirinya layaknya terlempar dari kedudukan yang tinggi.
Tashawwur (gambanrannya) seperti
bos yang mendudukan dirinya sebagai pekerja, guru yang mendudukkan dirinya
sebagai murid, atau Ulama yang terlampaui akan tetapi mendudukakan dirinya pada
maqom santri bahkan awam. Maka mereka seperti terlempar dari kedudukan yang
tinggi, muru’ah serta harga dirinya tertawan oleh tingkah lakunya sendiri.
Demikian, semoga bermanfaat!
InsyaAllah, minggu depan kita
lanjutkan dengan maqolah setelahnya. Betapa banyak orang yang terlihat tanpa
pengaruh dimata penghuni dunia tapi diperhitungkan oleh penduduk langit, waqila
disebabkan memilih selamat dari pada terlihat hebat dimata manusia. Fafham!