01.23
اسْمُ الإِشَارَةِ
Bab Isim Isyarah (Kata Tunjuk)
Isim isyarah adalah kata yang digunakan untuk menunjuk sesuatu, baik
yang dekat maupun jauh.
(82) بِذَا لِمُفْرَدٍ
مُذَكَّـرٍ أَشِرْ
بِذِي وَذِهْ تِي تَا عَلَى الأُنْثَى اقْتَصِرْ
Gunakanlah ذَا untuk menunjuk pada isim mufrad
mudzakkar (musyar ‘ilaih/yang ditunjuk berupa kata mudzakar, seperti: هذا الكتاب ) dan
cukupkanlah penggunaan ذِي، ذِهْ، تِيdan تَا untuk (musyar ilaih) isim mufrad mu’annats (contoh untuk semua bentuk
isim isyarah disesuaikan seperti contoh sebelumnya).
(83) وَذَانِ تَانِ
لِلْمُثَنَّى الْمُرْتَفِعْ
وَفِي سِوَاهُ ذَيْنِ تَيْنِ اذْكُرْ تُطِعْ
Adapun kata tunjuk untuk isim mutsanna (isim yang bermakna dua)
terbagi menurut maḥal i‘rāb-nya; jika maḥal Rafa‘ maka menggunakan ذَانِ
(untuk mudzakar) dan تَانِ (untuk
muannats), dan jika isim mutsanna berada pada selain rafa‘ (yakni
nashab atau jar), maka digunakan: ذَيْنِ
(untuk mudzakkar), dan تَيْنِ (untuk
munnats).
(84) وَبِأُوْلَى
أَشِرْ لَجِمْعٍ مُطْلَقَــاً
وَالْمَدُّ أَوْلَى وَلَدَى الْبُعْدِ انْطِقَا
Gunakanlah أُولَى
untuk menunjuk kata tunjuk jamak secara mutlak (baik laki-laki maupun
perempuan). Dan memanjangkannya (menjadi أُولَاءِ) lebih utama.
(85) بِالْكَافِ
حَرْفًا دُونَ لَامٍ أَوْ مَعَهْ
وَاللَّامُ إِنْ قَدَّمْتَ هَا مُمْتَنِعَهْ
(Isim isyarah jauh ditunjukkan) dengan menambahkan huruf Kaf,
baik tanpa Lam maupun bersama Lam (menjadi ذاك atau ذالك), adapun dengan menambahkan Lam, apabila kamu mendahului isim isyarah
dengan huruf tanbih هَا maka Lam itu terlarang (menjadi هذاك tidak boleh هذالك ).
(86) وَبِهُنَا أَوْ ههُنَا
أَشِرْ إِلَى
دَانِي الْمَكَانِ وَبِهِ الْكَافَ صِلَا
Dan dengan lafadz هُنَا
atau هَهُنَا,
tunjukkanlah tempat yang dekat. Dan sambungkanlah dengan huruf Kaf
(pada isim isyarah tempat) untuk menunjukkan tempat yang jauh (menjadi هناك atau ههناك)
(87) فِي الْبُعْدِ أَوْ بِثَمَّ
فُهْ أَوْ هَنَّا
أَوْ بِهُنَالِكَ انْطِقَنْ أَوْ هِنَّا
(Untuk menunjuk) tempat yang jauh, maka ucapkanlah dengan
memilih:
ثَمَّ atau هَنَّا,
atau ucapkan pula dengan هُنَالِكَ atau هِنَّا.
22.09
العلم
Bab Isim ‘Alam
[Definisi
Isim ‘Alam]
(72) اسْمٌ يُعَيِّنُ
الْمُسَمَّى مُطْلَقَا
عَلَمُـــهُ كَجَعْـــفَرٍ وَخِـرْنِقَا
Isim yang
secara mutlak menunjukkan sesuatu yang dinamai disebut isim ‘alam,
seperti: Ja‘far (nama untuk laki-laki), dan Khirniq (nama untuk
perempuan)
(73) وَقَــرَنٍ وَعَـدَنٍ
وَلاَحِقٍ
وَشَذْقَمٍ وَهَيْلَةٍ وَوَاشِقِ
Juga seperti kata “Qaran” (nama suatu kabilah di Yaman, diantara
yang masyhur Uwais al-Qarni), “‘Adan” (nama tempat di Yaman), “Lāḥiq”
(nama kuda), “Syadzqam” (nama unta), “Hailah” (nama kambing), dan
“Wāsyiq” (nama anjing).
(74) وَاسْمَـاً أَتَى
وَكُنْـيَةً وَلَـقَبَا
وَأَخِّرَنْ ذَا إِنْ سِوَاهُ صَحِبَا
Isim ‘alam itu datang dalam bentuk “nama” (nama asli), “kun-yah”
(nama kekerabatan), dan “laqab” nama julukan; dan
akhirkanlah laqab apabila ia disertai oleh selainnya (berkumpul dalam
suatu kalimat nama, laqab, dan kun-yah).
(75) وَإِنْ يَكُوْنَا
مُفْرَدَيْنِ فَأَضِفْ
حَتْمًا وَإِلَّا أَتْبِعِ الَّذِي رَدِفْ
Apabila kedua ‘alam (‘alam isim dan ‘alam laqab) sama-sama
mufrad (satu kata), maka wajib kamu idhafahkanlah, seperti: عَبْد اللهِ (kata: الله dimudhafkan dengan kata عبد); dan jika tidak demikian (bukan
sama-sama mufrad), maka ikutkanlah (tabi‘kan) kata yang berada di
belakang, seperti: أحمد تقي الدين (susunan kata; تقي الدين dihukumi tabi’ pada kata أحمد ).
[Macam-Macam ‘Alam Berdasarkan Asal-Nya]
(76) وَمِنْهُ مَنْقُولٌ
كَفَضْلٍ وَأَسَدْ
وَذُو ارْتِجَال كَسُعَــــادَ وَأُدَدْ
Diantara ‘alam itu (dilihat dari asalnya) ada “‘alam manqul” (yaitu ‘alam
pindahan dari kata yang sebelumnya telah dipakai untuk perbedaharaan kata),
seperti kata: فضل (artinya; keutamaan) dan أسد (artinya: singa, jika dipakai
untuk nama seseorang maka menjadi ‘alam manqul). Adajuga “’alam murtajal”
(yaitu ‘alam yang memang sebelumnya tidak dipakai untuk penyebutan
perbendaharaan kata), seperti: سُعَاد (nama perempuan) dan أُدَد (nama laki-laki).
[Macam-Macam ‘Alam Berdasarkan
Susunan-Nya]
(77) وَجُمْلَةٌ وَمَـا
بِمَزْجٍ رُكِّبَا
ذَا إنْ بِغَيْرِ وَيْهِ تَمَّ أُعْرِبَا
Dan diantara isim ‘alam itu ada “‘alam jumlah” (yaitu
isim ‘alam dari susunan
beberapa kata, seperti: جَادَ الْحَقّ),
dan ada juga “‘alam tarkib majzi” (yaitu isim ‘alam dari susunan dua
kata digabung menjadi satu, seperti: حَضْرَمَوْت), yang demikian itu, apabila tidak diakhiri dengan ‘ويه’, maka dihukumi sebagai isim yang mu‘rab
(78) وَشَاعَ فِي الأَعْلاَمِ
ذُو الْإِضَافَهْ
كَعَــــــبْدِ شَمْــسٍ وَأَبِي قُحَـــافَهْ
Dan telah banyak
tersebar dalam penggunaan isim-isim ‘alam yang memiliki bentuk susunan idhafah
(tarkib ‘dhafi), seperti عبد الشمس (nama seorang tokoh Quraisy, saudara kandung Hasyim bin ‘Abdi Manaf
kakek rosulullah SAW) dan أبي قحافة (laqab untuk Abu Bakar As-Siddiq RA)
(79) وَوَضَعُوا لِبَعْضِ
الأَجْنَاسِ عَلَمْ
كَعَلَمِ الأَشْخَاصِ لَفْظًا وَهْوَ عَمْ
Dan orang-orang Arab telah menetapkan bagi sebagian isim jinis menjadi
suatu nama (‘alam), seperti ‘alam syakhṣ (nama individu), namun
secara makna tetap bersifat umum (mewakili seluruh jenis).
(80) مِنْ ذَاكَ أُمُّ عِرْيَطٍ
لِلْعَقْرَبِ
وَهَكَذَا ثُعَالَةٌ لِلثَّعْلَبِ
Di antara contoh ‘alam jinsi ialah أم عريط (Ummu ‘Iryaṭ), yang merupakan nama
jenis bagi kalajengking (maka seluruh kalajengking seluruh dunia disebut ‘Umu
‘Iryath) dan demikian pula ثعالة
(Tsu‘alah)
sebagai nama jenis bagi rubah.
(81) وَمِثْلُـــهُ بَرَّةُ
لِلْمَبَرَّهْ
كَذَا فَجَارِ عَلَمٌ لِلْفَجرَهْ
Dan seperti itu juga برة (Barrah) alami
jenis untuk tabi’at baik, demikian juga فجار (Fujjar) alami jenis untuk tabi’at
buruk (akan tetapi perlu diketahui bahwa
dua jinis dalam nadham ini disebut ‘alam dari segi makna, sedangkan dua jenis sebelumnya
disebut ‘alam dari segi dzat-nya)
23.14
النَّكِرَةُ
وَالْمَعْرِفَةُ
BAB NAKIRAH -MA’RIFAT
[Isim Nakirah]
(52) نَكِرَةٌ قَابِلُ أَلْ مُؤَثِّرَا
أَوْ وَاقِعٌ
مَوْقِعَ مَا قَدْ ذُكِرَا
Isim nakirah adalah isim yang dapat menerima “ال” yang memberi pengaruh,
atau isim yang menempati posisi isim yang dapat menerima “ال” tersebut.
[Isim
Ma’rifat]
(53)وَغَيْرُهُ مَعْرِفَةٌ كَهُمْ وَذِي
وَهِنْدَ وَابْنِي
وَالْغُلَامِ وَالَّذِي
Selain itu disebut isim
ma‘rifat, seperti: هُمْ (isim
dhamir), ذِي (isim isyarah), هِنْدَ (isim ‘alam),ابْنِي (isim mudhaf), الْغُلَامِ
(isim ber-al), dan الَّذِي (isim
maushul).
[Isim Ḍhamīr]
(54) فَمَا لِذِي غَيْبَةٍ أَوْ حُضُورِ
كَأَنْتَ وَهْوَ سَمِّ بِالضَّمِيرِ
Setiap isim yang menunjukkan makna
ghaib atau hadir,
seperti أنتَ dan هو,
maka namailah ia adalah isim dhamir.
[Isim Ḍhamīr
Muttashil]
(55) وَذُو اتِّصَالٍ مِنْهُ مَا لَا
يُبْتَدَا
وَلَا يَلِي إِلَّا
اخْتِيَارًا أَبَدَا
Dhamir yang muttashil ialah
dhamir yang tidak bisa menjadi awal kalam,
dan tidak boleh mengikuti إلا selama masih bisa memilih bentuk lain.
(56) كَالْيَاءِ وَالْكَافِ مِنِ ابْنِي
أَكْرَمَكْ
وَالْيَاءِ وَالْهَا
مِنْ سَلِيهِ مَا مَلَكْ
Seperti ya’ dan kaf
pada lafaz ابني أكرمك
dan ya’ serta ha’ pada lafaz سليه ما ملك
(57) وَكُلُّ مُضْمَرٍ لَهُ الْبِنَا يَجِبْ
وَلَفْظُ مَا جُرَّ
كَلَفْظِ مَا نُصِبْ
Setiap isim dhamir wajib mabni
(I’rab-nya tidak berubah baik rafa’, nashab, atau jar)
dan bentuk isim dhamir yang majrur sama dengan yang manshub.
(58) لِلرَّفْعِ وَالنَّصْبِ وَجَرِّ نَا
صَلَحْ
كَاعْرِفْ بِنَا
فَإِنَّنَا نِلْنَا الْمِنَحْ
Dhamir نا
(dhomir mutakallim) layak digunakan untuk rafa‘, nashab, dan jar,
seperti pada اعرفْ بِنا (ketika jar),
فإنّنا (nashab), dan نِلْنا
(rafa‘).
(59) وَأَلِفٌ وَالْوَاوُ وَالنُّونُ لِمَا
غَابَ وَغَيْرِهِ
كَقَامَا وَاعْلَمَا
Dhomir muttashil Alif (-tatsniyah), wau (-jamak), dan nun (-niswah) digunakan
untuk pelaku ghaib dan selainnya (mukhatab),
seperti قَامَا (fi’il madli pelaku ghaib dengan dhomir
alif tatsniyah) dan اِعْلَمَا (fi’il amar pelaku
mukhatab dengan dhomir tatsniyah.
[Isim Ḍhamīr
Mustatir]
(60) وَمِنْ ضَمِيرِ الرَّفْعِ مَا يَسْتَتِرُ
كَافْعَلْ أُوَافِقْ
نَغْتَبِطْ إِذْ تَشْكَرُ
Di antara dhamir rafa‘ ada
yang harus mustatir (fail-nya tidak tampak jelas),
seperti pada اِفْعَل (fi’il amar dhamir mustatir
wujub), أُوَافِق
(fi’il mudhari’ diawali hamzah mutakallim dengan dhomir mustatir wujub),
نَغْتَبِط
(fi’il mudhari’ diawali nun mutakallim dengan dhomir mustatir wujub),
dan تَشْكَر (fi’il mudhari’ diawali ta’ mukhatab
dengan dhomir mustatir wujub)
[Isim Ḍhamīr
Munfashil]
(61) وَذُو ارْتِفَاعٍ وَانْفِصَالٍ أَنَا هُوْ
وَأَنْتَ
وَالْفُرُوعُ لَا تَشْتَبِهُ
Dhamir
munfashil yang rafa‘ ialah أنت، هو، أنا beserta
cabang-cabangnya (أنا cabangnya: نحن, هو cabangnya: هما، هُم، هي، هنّ dan أنتَ cabangnya:( أنتِ، أنتما، أنتم، أنتنَّ semua dhomir tidak
saling menyerupai.
(62) وَذُو انْتِصَابٍ فِي انْفِصَالٍ جُعِلَا
إِيَّايَ
وَالتَّفْرِيعُ لَيْسَ مُشْكِلَا
Dan dhamir yang I’rabnya manshub
dijadikan dalam bentuk terpisah (munfaṣil),
seperti iyyāya (إِيَّايَ), dan perinciannya
(cabang-cabangnya) tidaklah sulit (polanya tetap dan hanya bagian akhir yang
berubah seperti:
إيانا، إيايَ ، إياكنّ، إياكما، إياكِ،
إياكم، إياكُما، إياكَ، إياهُنّ، إياهُما، إياها، إياهُم، إياهُما، إياهُ
[Kaidah Pemakaian Dhamir]
(63) وَفِي اخْتِيَارٍ لَا يَجِيءُ الْمُنْفَصِلْ
إِذَا تَأَتَّى أَنْ
يَجِيءَ الْمُتَّصِلْ
Dan dalam keadaan pilihan
(bukan darurat/penekanan),
tidak boleh digunakan dhamir munfaṣil, apabila memungkinkan untuk
menggunakan dhamir muttasil.
(64) وَصِلْ أَوِ افْصِلْ هَاءَ سَلْنِيهِ وَمَا
أَشْبَهَهُ فِي
كُنْتُهُ الْخُلْفُ انْتَمَى
Gunakanlah dhomir muttasil
atau dhomir munfasil (boleh memilih), dhamir ha pada susunan
kata سَلْنيه dan yang semisal dengannya (fiil yang
menerima dua maf’ul; boleh سَلْنِيه atauسَلْني إياه , artinya: mintakanlah
itu kepadanya untukku), sedangkan
dalam penggunaan susunan kata كنته
terdapat perbedaan pendapat (khilaf).
(65)كَذَاكَ خِلْتَنِيهِ وَاتِّصَالًا
أَخْتَارُ غَيْرِي
اخْتَارَ الانْفِصَالَا
Demikian pula (boleh memilih) pada
susunan kata خِلْتَنِيْهِ (artinya:
kamu mengira diriku adalah dia), akan tetapi aku (muallif) memilih
bentuk muttashil, sedangkan Ulama Nahwu selainku memilih munfashil
(menjadi: خلتني إياه )
(66) وَقَدِّمِ الأَخَصَّ فِي اتِّصَالِ
وَقَدِّمَنْ مَا
شِئْتَ فِي انْفِصَالِ
Dan dahulukanlah dhamir
yang lebih khusus (urutan dhomir: mutakallim – mukhathab – ghaib) ketika
kedua dhomir disambungkan (muttashil),
dan dalam bentuk terpisah (seperti dipisah dengan إيا ) dahulukanlah
yang mana saja yang kamu kehendaki.
(67) وَفِي اتِّحَادِ الرُّتْبَةِ الْزَمْ فَصْلَا
وَقَدْ يُبِيحُ
الْغَيْبُ فِيهِ وَصْلَا
Apabila dua dhamir berada dalam
satu tingkat (urutan yang sama), maka wajib dipisahkan (tidak disambungkan)
seperti: حَسِبْتنِيْ إيّاي
Namun terkadang dhamir ghaib membolehkan keduanya disambungkan, seperti: ظننتُهُمَاهُ
[Nun Wiqayah]
(68) وَقَبْلَ يَا النَّفْسِ مَعَ الْفِعْلِ الْتُزِمْ
نُونُ وِقَايَةٍ
وَلَيْسِي قَدْ نُظِمْ
Sebelum ya’ mutakallim yang
bersama fi‘il,
wajib didahului dengan nun wiqayah, dan susunan kata ليسي (termasuk
fi’il yang bertemu dhamir mutakallim) sebagaimana telah disebutkan dalam nadham.
(69) وَلَيْتَنِي فَشَا
وَلَيْتِي نَدَرَا
وَمَعْ لَعَلَّ
اعْكِسْ وَكُنْ مُخَيَّرَا
Bentuk لَيْتَنِي
(yaitu; ليت bertemu ya’ mutakallim dan didahului dengan nun
wiqayah) tersebar luas (banyak berlaku),
sedangkan لَيْتِي (tanpa nun wiqayah) jarang berlaku.
Adapun bersama لَعَلَّ, maka kebalikannya
berlaku, dan engkau diperbolehkan memilih.
(70) فِي الْبَاقِيَاتِ وَاضْطِرَارًا خُفِّفَا
مِنِّي وَعَنِّي
بَعْضُ مَنْ قَدْ سَلَفَا
(boleh memilih antara mendahuli
ya’ mutakallim dengan nun wiqayah/tidak) pada amil nawasikh yang tersisa (seperti: إني، أني، لكني،
كأني ) dan
dalam keadaan darurat (syi‘ir), sebagian orang terdahulu meringankan susunan
kata مِنِّي dan عَنِّي.
(71) وَفِي لَدُنِّي لَدُنِي قَلَّ وَفِي
قَدْنِي وَقَطْنِي
الْحَذْفُ أَيْضًا قَدْ يَفِي
Pada susunan kata
لَدُنِّي (kata لدن bertemu ya’ mutakallim dan didahului nun
wiqayah) yang banyak berlaku, sedangkan tanpa didahului nun wiqayah jarang
berlaku. Sedangkan pada susunan kata قَدْنِي وَقَطْنِي membuang nun wiqayah
terkadang berlaku.