Ulinuha Asnawi

Catatan Ilmu Alat · Nahwu · Shorof · Alfiyah · Balaghah

RAJA NAMRUD| DIMATIAKAN SEBAB NYAMUK

Kalian kenal Namrud kan? Raja yang menguasai hampir semua belahan bumi dimasanya, raja yang gagah dengan alih-alih kekuasaannya, raja yang berasal dari negri Babilonia, raja yang memushuhi KhalilulLah Ibrahim 'alaihis salam.

Raja yang mengaku mampu menghidupkan, dan mematikan, dengan kekuasaannya, siapapun akan ditebas batang lehernya dan membiarkannya hidup jika menuruti perintahnya, hujjahnya dimatikan oleh  KhaliluLah Ibrahim 'alaihis salam, jika memang kamu tuhan, terbitkanlah matahari dari barat, yang sebelumnya terbit dari ufuk timur [QS: 2: 258]

Raja yang hidup selama empat ratus tahun, menolak ajakan baik KhalilulLah Ibrahim 'alahis salam, justru malah memusuhi-nya, bukan cuma demikian bahkan dia membakar hidup-hidup kekasih AllAh itu. [QS; 21; 69].

Fir'aun pertama, yang bernama Namrud, putra Kan’an bin Kausy bin Syam bin Nuh (seorang nabi), adajuga yang mengatakan Namrud adalah putra  Falih bin ‘Abir bin Shalih (seorang Nabi).

Al Mujahid rahimahullah mengatakan, ada empat raja dunia yang menguasai belahan dunia, dua diantaranya dari golongan kafir dan selainnya dari golongan muslim, dua dari golongan muslim yaitu Nabi Sulaiman dan Raja Dzul Qarnain, sedangkan dua dari golongan kafir adalah Namrud dan Bukhtanasr.

Lalu apa yang dihebatkan, Raja yang berjaya beberapa ratus tahun oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dihinakan dengan dimatikan oleh seekor nyamuk.

Setelah Namrud menantang kepada KhalilLah Ibrahim ‘alaihis salam” kalaw memang tuhan-Mu berkuasa, buktikan.. apakah dia mempunyai tentara” kata Namrud.

lalu AllAh Subhanahu wa Ta’ala mengirimkan jutaan nyamuk, hingga terlihat menutupi sinar matahari dipagihari, semua tentara Namrud ludes dimakan nyamuk, hingga tinggal tulang belulang. Namrud lari ke-istana kerajaan, dan dikejar hingga masuklah se-ekor nyamuk ke-kepala Namrud, melalui lobang hidung-nya. Sesekali Namrud memerintahkan orang terdekatnya untuk memukul kepalanya, supaya nyamuk keluar dari tubuhnya akan tetapi Allah ‘Azza Wajalla menghendaki Namrud terbunuh, lantaran otaknya termakan oleh se-ekor nyamuk.

Kisah ini dinukil dari Qashashu Al Anbiya’, Ibnu Katsir. Hal: 184

Wasiat Mbah Arwani Kudus, Untuk Santri Tahfidz

 
Kiai Arwani Amin & Kiai Turaikhan 
1. Dadi wong sing iso syukur (Jadi orang harus bisa bersyukur).
2. Nek ngaji jo dipekso sing penting usaha (Kalau belajar jangan terlalu dipaksakan, yang penting usaha).

3. Jo ngejar cepet, ngejaro lanyah(Jangan mengejar cepatnya, tapikejarlah penguasaan).

4. Eleng, cobone wong dewe-dewe (Ingat, cobaan seseorangitu sendiri-sendiri ).

5. Saben dino dungakno kyaimu(Setiap hari doakanlah guru/b kyaimu).
6. Jo cepet sambat kabeh nengkene cobo (Jangan mudah
mengeluh, semua mengalamicobaan).

7. Maqamku diziyarahi (Makamkuziarahilah).
8. Jo kakean guyon (Jangankebanyakan bergurau).
9. Nek ibadah sing istiqomah(Kalau beribadah istiqamahlah).
10. Sholate sing ati-ati (Shalatnyayang hati-hati)
11. Nek hajat sing ati-ati (Kalauberhajat yang hati-hati).
12. Sing eman karo wong tuwo(Yang murah hati terhadaporangtua).
13. Jo podo sembrono (Janganmudah tergesa-gesa).
14. Sopo gelem obah bakal mamah(Siapa yang mau bergerak jangantakut tidak makan).

15. Aku wekas karo sliramu: wiwitmongso iki sliramu saben-sabenderes supoyo tartil. Mergo senejanmung setitik nanging tartil ikuluwih utama lan manfaattinimbang olih akeh nanging oratartil. (Aku berpesan kepadamu:mulai sekarang setiap kali kamu deres’ supaya ‘tartil’. Karenameskipun dapat sedikit tapi tartilitu ebih utama dan bermanfaatdaripada dapat banyak tapi tidaktartil).

16. Mulo wiwit saiki dibiasaakensing tartil senejan mung olih sa’juz rong juz sedino. Pengendikanesohabat Abdulloh bin Abbas mengkene “La an aqro-a surotanurottiliha ahabbu ilayya min an aqro-al qur-aanakullahu” (Makanya mulai darisekarang dibiasakan yang tartilwalau hanya dapat satu atau duajuz sehari. Sabdasahabat Abdullahbin Abbas begini: “Jika akumembaca satu surat dengan tartiladalah lebih aku sukai daripadamembaca keseluruhan al-Quran.”).
17. Kejobo iku sing wis kelakontur nyoto, yen kulinone derestartil iku sa’mongso-mongs okepengin deres rikat temtu biso.Nanging sebalike yen biasane deres rikat bahayane iku yendeweke dikon deres tartil temtuora biso jalan. Mulo sliramu yenati-ati yen deres. Cukup semene wasiatku. (Selain itu hal yangsudah nyata, jika terbiasa deres tartil sewaktu-waktu ingin derescepat tentu bisa. Tapi sebaliknya jika terbiasa deres cepatbahayanya jika disuruh deres tartil tentu tidak bisa jalan.makanya kamu hati-hati kalau deres. Cukup sekian wasiatku).(Tanda tangan beliau).

Keterangan:
• “Nderes” adalah kegiatan santriuntuk menjaga hafalan al-Qurannya dengan caramengulang-ulang setiap harisecara kontinyu, atau istilahArabnya; Muraja’ah atau Takrir.
• “Tartil” adalah cara membaca al-Quran sesuai dengan tata aturanTajwid beserta memperhatikanMakharijul Ahruf, sehingga tidakterjadi kesamaran kata ataupunhilangnya kata-kata tertentudalam bacaan. Dan membaca tartilini relatif susah bila dilafalkandengan tempo cepat, harus pelan.


Dihadirkan kembali disini supaya dimanfa'ati oleh santri-santri tahfidz, khususnya, dan semua umat muslim pada umumnya.

Doa Untuk Orang Mati

بسم الله الرحمن الرحيم

‘Auf bin Malik Al-Asyja’iy radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan salat jenazah dan aku menghafalkah do’anya:
اللهُمَّ، اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ - أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ 
“Ya Allah, ampunilah dosanya, rahmatilah ia, selamatkanlah ia, maafkanlah ia, muliakanlah tempat persinggahannya, luaskanlah kuburannya, mandikanlah ia dengan air, salju, dan embun, bersihkanlah ia dari segala kesalahan sebagaimana Engkau membersihkan pakaian putih dari kotoran, gantikanlah rumahnya dengan rumah yang lebih baik, keluarganya dengan keluarga yang lebih baik, istri/suaminya dengan istri/suami yang lebih baik, masukkanlah ia ke dalam surga, dan lindungilah ia dari siksaan kubur – atau dari siksaan neraka –“. [Sahih Muslim]

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan salat jenazah dan berdo’a:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا، وَمَيِّتِنَا، وَصَغِيرِنَا، وَكَبِيرِنَا، وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا، وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا، اللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى الْإِيمَانِ، وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى الْإِسْلَامِ، اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ، وَلَا تُضِلَّنَا بَعْدَهُ
“Ya Allah, ampunilah yang masih hidup dari kami, yang telah mati, yang masih kecil, yang dewasa, yang laki-laki, yang perempuan, yang sedang bersama kami, dan yang tidak bersama kami. Ya Allah, siapa yang Engkau hidupkan dari kami maka hidupkanlah ia dalam keimanan, dan siapa yang Engkau matikan darikami maka matikanlah ia dalam keadaan Islam. Ya Allah, janganlah Engkau halangi kami dari pahalanya, dan jangalah Engkau sesatkan kami setelah kepergiannya”. [Sunan Abu Daud: Sahih]

Watsilah bin Al-Asqa’ radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyalati jenazah seorang muslim, dan aku mendengarnya berdo’a:
«اللَّهُمَّ إِنَّ فُلَانَ بْنَ فُلَانٍ فِي ذِمَّتِكَ، وَحَبْلِ جِوَارِكَ، فَقِهِ مِنْ فِتْنَةِ الْقَبْرِ، وَعَذَابِ النَّارِ، وَأَنْتَ أَهْلُ الْوَفَاءِ وَالْحَقِّ، فَاغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ»
“Ya Allah, sesungguhnya si Fulan bin Fulan (menyebutkan nama orang yang meninggal) berada dalam lindungan dan penjagaanmu, maka lindungilah ia dari cobaan kubur dan siksaan neraka. Engkaulah yang paling berhak menunaikan janji dan hak, maka ampunilah ia dan rahmatilah ia, sesungguhnya Engkau Yang Maha Pengampun dan Penyayang”. [Sunan Ibnu Majah: Sahih]

Yazid bin Abdillah bin Rukanah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mendirikan salat jenazah membaca:
«اللَّهُمَّ عَبْدُكَ، وَابْنُ أَمَتِكَ احْتَاجَ إِلَى رَحْمَتِكَ، وَأَنْتَ غَنِيٌّ عَنْ عَذَابِهِ إِنْ كَانَ مُحْسِنًا فَزِدْ فِي إِحْسَانِهِ، وَإِنْ كَانَ مُسِيئًا فَتَجَاوَزَ عَنْهُ»
“Ya Allah, hamba-Mu dan anak dari hamba-Mu ini sangat membutuhkan rahmat-Mu, dan Engkau Maha Kaya (tidak membutuhkan) dari siksaannya, jika ia dulunya berbuat baik maka tambahkanlah kebaikannya, dan jika dulunya ia berbuat buruk maka abaikanlah keburukannya”. [Mustadrak Al-Hakim: Sahih]

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya pada kematian itu ada ketakutan, maka jika datang kepada seorang dari kalian berita kematian saudaranya, maka ucapkanlah:
" إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ، اللهُمَّ اكْتُبْهُ فِي الْمُحْسِنِينَ، وَاجْعَلْ كِتَابَهُ فِي عِلِّيِّينَ، وَأَخْلِفْ عَلَى عَقِبِهِ فِي الْآخَرِينَ، اللهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ، وَلَا تَفْتِنَّا بَعْدَهُ "
"Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami, Ya Allah .. catatlah ia pada orang-orang yang berbuat kebaikan, dan jadikanlah catatan amalannya di tempat yang tinggi (mulia), dan tinggalkanlah sesudahnya pada orang tersisa, Ya Allah .. janganlah Engkau halangi kami dari pahalanya dan janganlah Engkau beri cobaan pada kami setelahnya”. [Al-Mu’jam Al-Kabiir karya Ath-Thabaraniy: Hasan]

Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu jika salat untuk orang mati, ia berdo’a:
اللَّهُمَّ عَبْدُك أَسْلَمَهُ الأَهْلُ ، والمالُ ، وَالْعَشِيرَةُ ، وَالذَّنْبُ عَظِيمُ ، وَأَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Ya Allah, hamba-Mu ini telah diserahkan kepadamu oleh keluarganya, hartanya, dan kerabatnya. Dan dosanya sangat banyak, dan Engkaulah Yang Maha Pengampun dan Penyayang”. [Mushannaf Ibnu Abi Syaibah]

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu membaca do’a ini tiga kali untuk jenazah:
اللَّهُمَّ أَصْبَحَ عَبْدُكَ فُلَانٌ، - إِنْ كَانَ صَبَاحًا، وَإِنْ كَانَ مَسَاءً قَالَ: أَمْسَى عَبْدُكَ - قَدْ تَخَلَّى مِنَ الدُّنْيَا وَتَرَكَهَا لِأَهْلِهَا، وَافْتَقَرَ إِلَيْكَ وَاسْتَغْنَيْتَ عَنْهُ، وَكَانَ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ فَاغْفِرْ لَهُ، وَتَجَاوَزْ عَنْهُ
“Ya Allah, hamba-Mu si Fulan berada di waktu pagi (jika di pagi hari, dan jika di sore hari mengatakan: Berada di waktu sore), ia telah berlepas dari dunia dan meninggalkannya pada penghuninya, dan ia membutuhkan Engkah sedangkan Engkau tidak membutuhkannya, ia telah bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau, dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan Rasul-Mu, maka ampunilah ia, dan abaikanlah dosa-dosanya”. [Mushannaf Abdurrazzaaq]

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berdo’a untuk orang mati:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأَحْيَائِنَا وَأَمْوَاتِنَا، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاجْعَلْ قُلُوبَنَا عَلَى قُلُوبِ أَخْيَارِنَا، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ، اللَّهُمَّ أَرْجِعْهُ إِلَى خَيْرٍ مِمَّا كَانَ فِيهِ، اللَّهُمَّ عَفْوَكَ
“Ya Allah .. ampunilah yang masih hidup dari kami dan yang sudah mati, satukanlah hari kami, dan perbaikilah hubungan kami, dan jadikanlah hati kami seperti hati orang terbaik dari kami. Ya Allah .. ampunilah ia, Ya Allah .. rahmatilah ia, Ya Allah .. kembalikanlah ia kepada yang lebih baik dari pada ia yang dulu, Ya Allah .. kami mengharapkan ampunan-Mu”

Dan jika datang padanya berita kematian seorang yang berada jauh, ia berdo’a:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، اللَّهُمَّ ارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي الْمُهْتَدِينَ، وَاخْلُفْهُ فِي تَرِكَتِهِ فِي الْغَابِرِينَ، وَنَحْتَسِبُهُ عِنْدَكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ، اللَّهُمَّ وَلَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلَا تَفْتِنَّا بَعْدَهُ
"Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali, Ya Allah .. angkatlah derajatnya pada derajat orang-orang yang mendapat hidayah, dan berikanlah peninggalannya pada orang-orang yang tersisa, dan kami mengharapkan kebaikannya di sisi-Mu wahai Tuhan semesta alam, Ya Allah .. janganlah Engkau halangi kami dari pahalanya, dan janganlah Engkau memalingkan kami setelahnya”. [Mushannaf Abdurrazzaaq]

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu takbir pada jenazah Yaziid bin Al-Mukaffaf empat kali, kemudian duduk di atas kuburan saat ia mengubutkannya dan berdo’a:
«اللَّهُمَّ عَبْدُكَ وَوَلَدُ عَبْدِكَ، نَزَلَ بِكَ الْيَوْمَ وَأَنْتَ خَيْرُ مَنْزُولٍ بِهِ، اللَّهُمَّ وَسِّعْ لَهُ فِي مُدْخَلِهِ، وَاغْفِرْ لَهُ ذَنْبَهُ، فَإِنَّا لَا نَعْلَمُ مِنْهُ إِلَّا خَيْرًا وَأَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ»
“Ya Allah hamba-Mu dan anak hamba-Mu datang kepada-Mu hari ini, dan Engkaulah sebaik-baik yang didatangi, Ya Allah .. luaskanlah tempat masuknya, dan ampunilah dosanya, karena sesungguhnya tidak ada yang kami ketahui darinya kecuali yang baik, dan Engkaulah yang lebih tahu tentangnya”. [Mushannaf Abdurrazzaaq]

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu jika salat untuk jenazah, ia berdo’a:
اللَّهُمَّ عَبدُك، وَابْنُ عَبدِك، وَابْنُ أَمَتِك، أَنْتَ خلقتَه، وَأَنتَ هديتَه لِلْإِسْلَامِ، وَأَنتَ قبضتَ روحَه، وَأَنتَ أعلمُ بسريرتِهِ وعلانيتِهِ، جِئْنَا نشفع لَهُ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَجِيره بِحَبلِ جِوارِك، إِنَّك ذُو وَفَاء، وَذمَّة، فَقِهِ فتْنَة الْقَبْر وَعَذَاب النَّار، اللَّهُمَّ إِن كَانَ مُحسنًا فزدْ فِي إحسانه، وَإِن كَانَ مُسيئًا فَتَجَاوزْ عَن سيئاته، اللَّهُمَّ نوِّر لَهُ فِي قَبرِه، وألحقْه بِنَبِيِّهِ
“Ya Allah .. ini hamba-Mu, anak hamba laki-laki-Mu, dan anak hamba perempuan-Mu, Engkau yang telah menciptakannya, dan Engkau memberinya hidayah memeluk Islam, Engkau mencabut ruhnya, dan Engkau lebih tahu tentang rahasianya dan yang ia perlihatkan, kami datang untuk memberi syafa'at untuknya. Ya Allah .. kami meminta perlindungan untuknya dengan tali perlindungan-Mu, sesungguhnya Engkau Yang menepati janji dan jaminan, maka lindungilah ia dari cobaan kubur dan siksa neraka. Ya Allah .. jika ia melakukan kebaikan maka tambahkanlah kebaikannya dan jika ia melakukan keburukan maka abaikanlah keburukannya. Ya Allah .. berilah cahaya dalam kuburannya, dan pertemukanlah ia dengan nabinya". [Tahdziib Al-Atsar karya Ath-Thabariy]

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma takbir pada salat jenazah kemudian berselawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berdo’a:

اللَّهُمَّ بَارِكْ فِيهِ وَصَلِّ عَلَيْهِ وَاغْفِرْ لَهُ وَأَوْرِدْهُ حَوْضَ نَبِيِّكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Ya Allah berilah berkah padanya, dan selawat kepadanya, ampunilah ia, dan berikanlah ia minum dari telaga Nabi-Mu shallallahu ‘alaihi wa sallm”. [Fadhl Ash-Shalah ‘alaa An-Nabiy oleh Al-Jahdhamiy]

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berdo’a dalam salat jenazah:
اللَّهُمَّ عَبْدُكَ، وَابْنُ عَبْدِكَ، وَابْنُ أَمَتِكَ، يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ، وَيَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ، أَصْبَحَ فَقِيرًا إِلَى رَحْمَتِكَ، وَأَصْبَحْتَ غَنِيًّا عَنْ عَذَابِهِ، يُخَلَّى مِنَ الدُّنْيَا وَأَهْلِهَا، إِنْ كَانَ زَاكِيًا فَزَكِّهِ، وَإِنْ كَانَ مُخْطِئًا فَاغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ، وَلَا تُضِلَّنَا بَعْدَهُ
“Ya Allah .. ini hamba-Mu, anak hamba laki-laki-Mu, dan anak hamba perempuan-Mu, ia telah bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau semata, tiada sekutu bagi-Mu, dan ia telah bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Mu, ia sekarang membutuhkan rahmat-Mu dan engkau tidak memerlukan siksaannya, ia meninggalkan dunia dan isinya, jika ia terpuji maka pujilah ia dan jika ia melakukan keburukan maka ampunilah ia. Ya Allah ... janganlah engkau halangi kami dari pahalanya dan janganlah engkau sesatkan kami setelahnya". [Mustadrak Al-Hakim]

Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu berkata: Salat untuk jenazah dengan berdo’a:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَصَغِيرِنَا وَكَبِيرِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا اللَّهُمَّ مَنْ تَوَفَّيْتهُ مِنْهُمْ فَتَوَفَّهُ عَلَى الإِيمَانِ وَمَنْ أَبْقَيْته مِنْهُمْ فَأَبْقِهِ عَلَى الإِسْلاَمِ.
“Ya Allah .. ampunilah yang masih hidup dari kami dan yang sudah mati, yang masih kecil dan yang sudah besar, laki-laki dan perempuan, yang hadir dan yang gaib. Ya Allah .. siapa yang Engkau wafatkan dari mereka maka wafatkanlah ia dalam keadaan beriman, dan siapa yang Engkau biarkan tetap hidup dari mereka maka biarkanlah ia hidup dalam keadaan Islam”. [Mushannaf Ibnu Abi Syaibah]

Abu Ad-Dardaa’ radhiyallahu ‘anhu mendo’akan orang mati:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لأَحْيَائِنَا وَأَمْوَاتِنَا الْمُسْلِمِينَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَاجْعَلْ قُلُوبَهُمْ عَلَى قُلُوبِ خِيَارِهِمَ , اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِفُلاَنِ بْنِ فُلاَنٍ ذَنْبَهُ , وَأَلْحِقْهُ بِنَبِيِّهِ مُحَمَد صلى الله عليه وسلم , اللَّهُمَّ ارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي الْمُهْتَدِينَ , وَاخْلُفْهُ فِي عَقِبِهِ فِي الْغَابِرِينَ , وَاجْعَلْ كِتَابَهُ فِي عِلِّيِّينَ , وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ رَبَّ الْعَالَمِينَ , اللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ ، وَلاَ تُضِلَّنَا بَعْدَهُ
"Ya Allah .. ampunilah yang masih hidup dari kami dan yang sudah mati dari umat Islam. Ya Allah .. ampunilah umat Islam yang laki-laki dan perempuan, orang beriman laki-laki dan perempuan. Perbaikilah hubungan mereka, dan satukanlah antara hari mereka, dan jadikanlah hati mereka di atas hati yang terbaik dari mereka. Ya Allah .. ampunilah dosa si Fulan bin Fulan, pertemukanlah ia dengan nabinya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, Ya Allah .. angkatlah derajatnya pada derajat orang-orang yang mendapat hidayah, dan tinggalkanlah di belakangnya pada orang-orang yang tersisa, jadikanlah catatan amalannya di tempat yang tinggi, dan ampunilah kami dan ia wahai Tuhan semesta alam. Ya Allah .. janganlah Engkau halangi kami dari pahalanya dan jangalah Engkau menyesatkan kami setelahnya". [Mushannaf Ibnu Abi Syaibah]

Jika kuburan jenazah sudah di tutup, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berdiri dan berdo’a:
اللَّهُمَّ عَبْدُك رُدَّ عَلَيْك , فَارْأَفْ بِهِ وَارْحَمْهُ ، اللَّهُمَّ جَافِ الأَرْضَ عَنْ جَنْبَيْهِ وَافْتَحْ أَبْوَابَ السَّمَاءِ لِرُوحِهِ , وَتَقَبَّلْهُ مِنْك بِقَبُولٍ حَسَنٍ ، اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ مُحْسِنًا فَضَاعِفْ لَهُ فِي إحْسَانِهِ ، وَإِنْ كَانَ مُسِيئًا فَتَجَاوَزْ عَن سَيِّئَاتِهِ
“Ya Allah .. hamba-Mu ini telah dikembalikan kepada-Mu, maka kasihilah ia dan rahmatilah ia, Ya Allah .. jauhkanlah bumi dari sisinya, dan bukakanlah pintu-pintu langit untuk ruhnya, dan terimalah ia di sisi-Mu dengan penerimaan yang baik. Ya Allah .. jika ia melakukan kebaikan maka lipat gandakanlah kebaikannya, dan jika ia melakukan keburukan maka abaikanlah keburukannya". [Mushannaf Ibnu Abi Syaibah]

Habib bin Maslamah Al-Fahriy radhiyallahu ‘anhu berkata: Perbanyaklah berdo’a untuk saudara kalian (yang telah meninggal), dan hendaklah do’a yang kalian panjatkan:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِهَذِهِ النَّفْسِ الْحَنِيفِيَّةِ الْمُسْلِمَةِ , وَاجْعَلْهَا مِنَ الَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ , وَقِهَا عَذَابَ الْجَحِيمِ
“Ya Allah ... ampunilah jiwa yang suci dan muslim ini, jadikanlah ia dari orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan-Mu, dan jauhkanlah ia dari siksa jahanam". [Mushannaf Ibnu Abi Syaibah]



Wallahu a’lam!

KEUTAMAAN SHOLAT

Kalaw sholat dikatakan sebagai tiang agama, mafhumnya jika sholat tdk kokoh maka sudah pasti, runtuhlah agama-nya.
Firman Alloh dlm Surah Al-Ankabut:
"Sungguh sholat adalah mencegah dr melakukan perbuatan yng keji dan kemungkaran". [QS Al-Ankabut: 45]

Al-Baghowy, menafsiri kata “Al-Fakhsya'” disini adalah; amal perbuatan yang buruk, sedangkan “Al-Munkar” adalah; amalan yang tdk sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Sareat agama islam.

Ibnu Mas'ud Radliallohu 'anh, dan beberapa Ulama lainnya mengatakan; yang dimaksud dengan ayat ini adalah, melakukan sholat lima waktu pada akhir waktunya, meskipun sholat berjalan, tapi maksiat tetap berlanjut. Beliau juga mengatakan, "Barangsiapa yang sholat-nya tdk menambah kebaikan dan tdk menjadikannya jauh dari kemungkaran tdk akan menjadikannya, kecuali jauh dari Alloh Swt.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah Ra,- Ada seseorang yang datang sowan kpd Nabi Muhammad Saw, kemudian dia katakan, Sungguh.. Si Fulan melakukan sholat dimalam hari dan pagi harinya mencuri. Beliau bersabda Sesungguhnya apa yang dikerjakan percuma. [HR Imam Ahmad]

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah Ra,- juga. Dia katakan bahwa aku mendengar Nabi Muhammad Saw bersabda, Apakah kalian tau, jika ada sungai yang digunakan untuk mandi tiap harinya lima kali, apakah masih ada kotoran (dibadan)-nya? Para Sahabat yang mulia menjawab, tentu tidak wahai rosululloh. Beliau kemudian bersabda, demikianlah perumpamaan sholat lima waktu, Alloh ta'ala menjadikannya penghapus pelebur dosa-doaanya. [HR Muttafaq 'alaih]

Diriwayatkan oleh Sahabat Jabir Radliallohu 'anh,- dia katakan, bahwa telah bersabda Nabi Muhammad Saw,-

وعن جابرٍ – رضي الله عنه – ، قَالَ؛ قَالَ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : مَثَلُ الصَّلَواتِ الخَمْسِ كَمَثَلِ نَهْرٍ جَارٍ غَمْرٍ عَلَى بَابِ أحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَومٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ. ( رواه مسلم(

Perumpamaan shalat lima waktu seperti sungai besar yang jernih yang berada di depan rumah salah seorang diantara kalian, yang mana kalian mandi sehari lima kali. [HR. Muslim

An-Nawawi Rahimahullah, dalam kitab-nya Riyadlush-Shalihin mengomentari hadits ini, Nabi Muhammad Saw mengumpamakan dlm hadits ini Shalat maktubah bagaikan Sungai yang mengalir jernih, sedang kesalahan laksana kotoran yang bersih setelah dibersihkan didalam sungai, hal ini senada dengan Sabda beliau yang mengatakan bahwa “Antara Sholat Fardlu lima waktu, Sholat Jumu'ah sampai jumu'ah berikutnya, Ramadlan sampai dengan Ramadlan berikutnya terdapat kafarat peleburan dosa diantaranya”,- yang dimaksud disini adalah dosa-dosa kecil.

Dari Ibnu Mas'ud Radliallahu 'anh, sungguh ada seseorang mendatangi istrinya dan menciumnya, kemudian sowan mendatangi Nabi Muhammad Saw,- kemudian menceritakan apa yang dilakukannya,- kemudian turunlah Q.S Hud:144.

Kemudian dia tanyakan, apakah ayat ini untuk aku?, beliau menjawab, untuk semua umatku, ya.. semua umatku.
Sedang permulaan hikayahnya, Seseorang datang sowan kepada Nabi Muhammad Saw,- dia katakan, Wahai rosululla.., sungguh aku telah mendapati istriku dikebun, aku melakukan segala hal, tak terkecuali aku melakukan hubungan badan dengan-nya,- dan aku mencium-nya, dan aku tidak melakukan lebih dari itu wahai rosulullah. Setelah seseorang tersebut menceritakan apa yang dilakukan, Nabi Saw diam saja, setelah laki-laki tersebut pergi Sahabat Umar Radliallahu ‘anh bekata, Sungguh Alloh telah menutupi aib-nya jika dia tidak menceritakannya. Rosulullan Saw mengikuti apa yang dikatakan Umar Ra,- dan dikuti dengan isarat kedipan Rosulullah Saw,- beliau bersabda, kemarilah kamu! Orang tersebut kembali, kemudian Nabi Saw bacakan [Q.S Al-Ahzab: 114].

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ، وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ
[ الأحزاب:114 [
"Dan dirikanlah shalat itu, pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan dari malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu, menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat." (QS. Hud:114)
Sahabat Mua’dz bin Jabal tanyakan, apakah ini untuk orang ini saja atau untuk semua orang wahai rosulullah? Beliau mejawabya, “tidak, ini untuk semua orang”

Berikut diriwayatkan oleh Abu Hurairah Ra,- sungguh Rosulullah Saw telah bersabda, shalat lima waktu, dan antara kedua jumu’ah menjadi kafarat peleburan dosa antara keduanya, sekiranya tidak melakukan dosa besar. [HR Muslim]
Dalam hadits ini dijelaskan bahwa antara kedua shalat maktubah dan shalat jum’ah menjadi kafarat peleburan dosa-dosa kecil antara keduanya, sebagaimana yang diungkapkan dalam Q.S An-Nisa’, ayat 31
Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang mengerjakannya, niscaya Kami (Alloh) hapus kesalahan-kesalahan kalian, dan akan Kami (Alloh) masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga) [Q.S An-Nisa’: 31].
Dari Utsman bin Affan Radliallahu ‘anh, dia katakana bahwa aku telah mendengar Rosulullah Saw,- bersabda, tidak ada seorang pun yang mendatangi shalat maktubah, kemudian memperbaiki wudlunya, khusyu’ dan ruku’-nya, maka tidak lain menjadikan kafarat penebusan dosa kesalahan-kesalahan sebelumnya, selagi tidak melakukan dosa besar, dan demikian itu berlaku pada semua dalam setahun [HR. Muslim]

MENEMPATKAN DIRI PADA SAAT KAYA, DAN TIDAK ADA HARTA.


Dua Maqalah Al-Hikam Ibnu Athailah Asakandari rahimal laah, tentang menempatan hati bagi  orang kaya dan orang miskin.

إذا المرء لم يعتق من المال نفسه تملكه المال الذي هو مالكه ألا إنما مالي الذي أنا منفق وليس لي المال الذي أنا تاركه إذا كنت ذا مال فبادره بالذي يحق وإلا استهلكته مهالكه
Jika seseorang tak mampu membebaskan jiwanya dari harta kekayaan, harta tersebut pasti akan menjeratnya.
Ingatlah, hartaku adalah apa yang sudah saya berikan, bukanlah yang aku tinggalkan (dirumahku), maka jika kamu mempunyai harta berikanlah segera kepada yang perlu. Jika tidak, bencana akan menghancurkanmu.

Pada maqalah sebelumnya..

لا يكن تأخر أمد العطاء مع الإلحاح في الدعاء موجبا ليأسك، فهو ضمن لك الإجابة، فيما يختاره لك، لا فيما تختاره لنفسك، و في الوقت الذي يريد لا في الوقت الذي تريد.

Seyogyanya, Tertundanya pemberian setelah engkau berulang-ulang memohon kepada Alloh swt, tdk membuatmu putus asa. Dia menjamin pengabulan permintaanmu, sesuai dengan apa yang Dia kehendaki, bukan pada apa yang engkau inginkan. Dan (Dia mengabulkan doa) pada waktu yang dia kehendaki, bukan pada saat yang engkau inginkan.

KOPI DAN JIN

Maqalah Habib Ahmad Al-‘Athas, dalam kitab As-Shufiyatu Fil Miizaan, ngendikane Al-Habib Abu Bakar bin Abdullah Al-‘Athas (Qaddasallaahu sirrah) “Sungguh tempat yang tidak dihuni manusia akan dihuni bangsa Jin, dan tempat yang dipakai buat ngopi tidak akan dihuni oleh bangsa Jin , bahkan tidak akan didekati oleh mereka".

وكان الحبيب أبو بكر بن عبد الله العطاس يقول: إن المكان الذي يترك خالياً يسكنون فيه الجن ، والمكان الذي تفعل فيه القهوة لا يسكنونه الجن ولا يقربونه
Pada Shahifah ke-199 dijelaskan, apa yang ditetapkan oleh Mushanif, Qaddasallaahu Sirrah, beliau menukil keterangan dari gurunya Al-Habib Abu Bakar bin Abdullah Al-Athas, sungguh dia berkata: Sayyid Ahmad bin Ali Al-Qadimi bertemu dengan Rosulullah saw dalam keadaan terjaga, dia berkata:
“Wahai Rosulullah, aku ingin mendengarkan sebuah hadits darimu langsung, dengan tanpa perantara”.
Rosulullah saw bersabda: aku mengajarkan kepadamu tiga hadits,

Pertama, selagi aroma kopi masih melekat pada bibirmanusia maka para Malaikat akan selalu beristighfar kepadanya.
Ke-dua, Siapa yang mengambil tasbihnya untuk berdzikir, maka ditetapkan baginya termasuk orang yang banyak berdzikir, baik dia berdzikir atau tidak melakukan dzikir.
Ke-tiga, siapa yang berkumpul dengan (waliyullah) kekasih Alloh baik dalam keadaan hidup atau setelah wafat maka dia bagaikan menghamba kepada Alloh hingga bumi terbelah-belah.
ما نصه: وذكر رضي الله عنه عن شيخه الحبيب أبي بكر بن عبد الله العطاس أنه قال: كان السيد أحمد بن علي القُديمي يجتمع بالنبي صلى الله عليه وسلم يقظة ، فقال: يا رسول الله أريد أن أسمع منك حديثاً بلا واسطة. فقال له صلى الله عليه وسلم: أحدثك بثلاثة أحاديث: الأول: ما زال ريح قهوة البن في فم الإنسان تستغفر له الملائكة ، الثاني: من اتخذ سبحة ليذكر الله بها كتب من الذاكرين الله كثيراً إن ذكر بها أو لم يذكر ، الثالث: من وقف بين يدي ولي لله حي أو ميت فكأنما عبد الله في زوايا الأرض حتى تقطع إرباً إرباً.




BERTEMU DENGAN WALIYULLAH ALHAMDULILLAAH.



Pertama kali saya bertemu dengan pemuda ini, dulu.. sangat dulu sekali, kurang lebih tahun 2000-an, digubug yang sangat bersahaja, pondok pesantren yang berderet dengan beberapa komplek, ada ribuan santri putra dan putri yang tiap hari ngangsu kawruh disana, dengan bimbingan pengasuh, guru kami Alm KH A. Syahid. Anehnya pesanteren ini dulunya waktu simbah yai masih sugeng, tidak ada papan nama/ Bord Of Plank, bahkan tidak ada nama pesantren, orang-orang menyebutnya “Pondok kemadu” pesantren yang ada didesa Kemadu, kemudian setelah beberapa tahun simbah yai kapundut atas usulan beberapa pengurus pesantren ini diberi nama Pesantren Al-Hamdulillah.


Iyaa.. Mbah Syahid, begitu orang menyebutnya.. atau beberapa orang menyebutnya Kiai Al Hamdulillah, bagi kami sebenarnya sangat kecil, jika kami menyebutkan santri beliau ini. Kami dan beliau sangat devergen, senjang yang sangat jauh. baik keilmuan, ahlaaqul karimah, haibah yang sangat tinggi, berkarisma, dan berdasarkan penuturan orang-orang yang pernah sowan kepada beliau, begitu melihat wajah beliu maka semua sumpek hilang, apalagi ketika beliau ucapkan kalimah “Al hamdulillâh..”

Pasal orang-orang menyebutnya Kiai Al Hamdulillah, karena pada setiap sela-sela tutur sapanya, selalu diselingi kalimah Al Hamdulillaah, dulu kami sempat berfikir ketika sowan pertama kali ke-dhalem. Ada tamu menceritakan keburukan, beliau baca “Al hamdulillaah”, ada tamu cerita berita senang beliau baca “Al Hamdulillah”, bahkan ada tamu yang minta didoakan agar anak perempuannya cepet dapat jodoh karena sudah tua “Pra-one tua” sekalipun beliau juga baca kalimah “Al hamdulillâh..”

“Al Hamdulillâh…, ‘alâ kulli hâl” ternyata itu yang beliau amalkan - yaitu merasa bersyukur kepada Allah dalam segala keadaan.
Saya juga pernah baca, postingan dari Gus Yahya Tsaqub, Wakil Suryah PB NU KH. Yahya Cholil Staquf pada FP-nya “Terong Gosong” seklumit tentang beliau.

Atau juga pernah dituliskan oleh Gus Mus, dalam WEB beliau www.Gusmus.net
“Setiap kiai mempunyai semacam dzikir unggulan yang selau mewarnai kalimat-kalimat yang diucapkannya. Ayah saya, al-Maghfur lah KH Bisri Mustofa, misalnya, dalam setiap pembicaraannya sehari-hari tak pernah sepi dari ucapan Laa ilaaha illallah. Ada kiai yang sebentar-sebentar mengucap Subhanallah; ada yang Astaghfirullah; Laa haulaa walaa quwwata illa billah; dsb. Kiai Ahmad Syahid Kemadu lain lagi. Begitu seringnya menyebut Alhamdulillah,sampai-sampai ada yang menjulukinya Kiai Alhamdulillah dan menjuluki pesantrennya dengan Pesantren Alhamdulillah”
Begitu sedikit kutipan Gus Mus tentang beliau. yang paling mengesankan ketika disana bagi saya ketika masak bareng pada tiap kelompok, saya ingat betul dulu orang tua saya, ketika saya mondok disana, tiap kali pulang sebulan sekali, saya dikasih sangu 10Kg beras dan uang seratus ribu, bagi kami seratus ribu sudah sangat cukup pada waktu itu. Kami disana tidak lama menurut ukuran santri mondok, iyaa.. sekitar kurang lebih empat tahunan.


Kami sebenarnya ingin banyak cerita, tapi saya khawatir memori yang saya dapat lebih tebal dari pada ilmu kami, meskipun memang kami juga tidak tebal atau banyak dalam keilmuan.
Demikian cerita kami awal bertemu pemuda tersebut, wal afwu minkum… semoga bermanfaat!

UMMU SULAIM, ISTRI YANG MAMPU MENYEMBUNYIKA KESEDIHAN-NYA AGAR SUAMI TETAP SENANG.

Abu Thalhah, begitu sebutan suami Ummu Sulaim radlial laahu 'anhaa, dia sedang keluar rumah untuk keperluannya. tangan-tangan takdir berkata lain, setelah kepergian Abu Thalhah putra dari keduanya meninggal dunia.
Begitu suaminya kembali, dia menyiapkan makan malam, berdandan sebagaimana layaknya istri shalihah ketika suami dirumah, menyambut kedatangan sang pujaan jiwa, suami tercinta "Abu Thalhah" dengan wajah riang dan bibir manisnya mengatakan:
"Sedang dalam keadaan tenang"
ketika suami bertanya "sedang apa putra kita?"
setelah keduanya makan malam bersama, mereka melaksanakan sunahrasul layaknya temanten anyar.
setelah terpenuhi hajatnya, barulah Ummu sulaim, bercerita tentang keadaan sesungguhnya "putra tercinta telah meninggaldunia"
setelah senjatiba, Abu Thalhah ra mendatangi Rosulullah saw dan mengkhabarkan keadannya kepada Rosulullah saw, lalu Rosulullah saw mendoakannya "Allaahumma baarik lahummaa" Allaah...semoga keberkahan teruntuk keduanya..
dalam riwayat Imam Muslim dijelaskan, setelah melakukan sunahrasul dan Ummu Sulaim berkata kepada suaminya:
“Bagaimana pendapatmu jika ada suatu kaum meminjamkan sesuatu kepada salah satu keluarga, lalu mereka meminta pinjaman mereka lagi, apakah tidak dibolehkan untuk diambil?”
Abu Tholhah menjawab, “Tidak.”
Ummu Sulaim, “Bersabarlah dan berusaha raih pahala karena kematian puteramu.” 
lalu Abu Tholhah marah kemudian berkata, 
“Engkau biarkan aku tidak mengetahui hal itu hinggga aku berlumuran janabah, lalu engkau kabari tentang kematian anakku?”
Abu Tholhah pun bergegas ke tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan apa yang terjadi padany
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mendo’akan, “Semoga Allah memberkahi kalian berdua dalam malam kalian itu.” Akhirnya, Ummu Sulaim pun hamil lagi. dan putanya diberi nama "Abdullah".
Diambil dari dua riwayat hadits, riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim dan disederhanakan oleh al Faqiir.

SHALAWAT NARIYAH

اللَّهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلاَمًا تَامًّا عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ تُنْحَلُ بِهَ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِيْمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ عَدَدَ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ

 Allahumma shalli shalatan kaamilataw wasallim salaaman, taamaman ‘alaa sayyidinaa Muhammadin Alladzii tanhallu bihil ‘uqad, wa tanfariju bihil kurabu, wa tuqdhaa bihil hawaa’ij, wa tunaalu bihir raghaa’ib, wa husnul khawaatimi wa yustasqal ghamaamu bi wajhihil kariimi, wa ‘alaa aalihi, wa shahbihi ‘adada kulli ma’luumil laka
Artinya:

Ya Allah, berikanlah kesejahteraan yang sempurna dan keselamatan yang sempurna kepada penghulu kami  Nabi Muhammad yang dengannya terlepas dari ikatan (kesusahan) dan dibebaskan dari kesulitan. Dan dengannya pula ditunaikan hajat dan diperoleh segala keinginan dan kematian yang baik, dan memberi siraman (kebahagiaan) kepada orang yang sedih dengan wajahnya yang mulia, dan kepada keluarganya, para shahabatnya, dengan seluruh ilmu yang engkau miliki.

ABU AL-ABBAS AHMAD BIN YAHYA

Tokoh Nahwu dari Kufah; Abu Al-Abbas Ahmad bin Yahya, yang dikenal dengan penyebutan ‘Tsa’lab’, berasal dari Bani Syaiban. Ia dilahirkan di Baghdad, beberapa riwayat mengemukakan bahwa ia pernah bertemu Ibnu Al-A’rabi, Ibnu Qadim, Salimah bin ‘Ashim dan lain seterusnya dari Ulama-ulama yang populer dan berpengaruh.


Tarjamah selengkapnya bisa anda lihat pada kitab-kitab yang masyhur, diantaranya: Nazhatu al-Albaa’ hal; 173. Tarikh Baghdad, juz; 5 hal; 204. Inbaahu ar-Rawah, juz; I hal; 138. Al-A’laam, juz; I hal; 202.  Bughyaat al-Wi’aah, juz; I hal; 396

DOA MALAM LAILATUL QADAR




بسم الله الرحمن الرحيم


إِلَهِيْ وَقَفَ السَّائِلُوْنَ بِبَابِكَ، وَلَا ذَا اْلفُقَرَاءُ بِجَنَابِكَ. وَوَقَفَتْ سَفِيْنَةُ الْمَسَاكِيْنَ عَلَى سَاحِلِ بَحْرِ كَرَمِكَ. يَرْجُوْنَ الْجَوَازَ إِلَى سَاحَةِ رَحْمَتِكَ وَنِعْمَتِكَ. إِلَهِيْ إِنْ كُنْتَ لاَ تُكْرِمُ فِيْ هَذَا الشَّهْرِ الشَّرِيْفِ إِلَّا مَنْ أَخْلَصَ لَكَ فِيْ صِيَامِهِ. فَمَنْ لِلْمُذْنِبِ الْمُقَصِّرِ إِذَا غَرِقَ فِيْ بَحْرِ ذُنُوْبِهِ وَأَثَامِهِ. إِلَهِيْ إِنْ كُنْتَ لَا تَرْحَمُ إِلَّا الطَّائِعِيْنَ فَمَنْ لِلْعَاصِيْنَ. وَإِنْ كُنْتَ لاَ تَقْبَلُ إِلَّا الْعَامِلِيْنَ فَمَنْ لِلْمُقَصِّرِيْنَ. إِلَهِيْ رَبِحَ الصَّائِمُوْنَ وَفَازَ الْقَائِمُوْنَ. وَنَجَا الْمُخْلِصُوْنَ وَنَحْنُ عَبِيْدُكَ الْمُذْنِبُوْنَ فَارْحَمْنَا بِرَحْمَتِكَ وَجُدْ عَلَيْنَا بِفَضْلِكَ وَمِنَّتِكَ. وَاغْفِرْ لَنَا أَجْمَعِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Ilâhî waqafas sâilûna bi bâbika, wa lâ dzal fuqarâu bijanâbik. Wa waqafat safînatul masâkîna ‘alâ sâhili bahri karâmik. Yarjûnal jawâza ilâ sâhati rahmatika wa ni’matik, ilâhî in kunta lâ turimu fî hâdzas syahrisy syarîfi illâ man akhlasha laka fî shiyâmih, fa man lil mudznibil muqashshiri idzâ ghariqa fî bahri dzunûbihî wa âtsamih. Ilâhî in kunta la tarham illath-thâi’îna fa man lil ‘âshîn. Wa in kunta lâ taqbala illal ‘âlimîna fa man lil muqash-shirîn. Ilâhî rabihash shâimûna wa fâzal qâimûn. Wa najal mukhlishûna wa nahnu ‘abîdukal mudznibûna, farhamnâ birahmatika wa jud ‘alainâ bi fadlika wa minnatik. Waghfir lanâ ajma’îna bi rahmatika yâ arhamar râhimîn. Wa shal lallâhu ‘alâ sayyidinâ muhammadiw wa ‘alâ âlihi wa shahbihî wa sallam, wal hamdu lillâhi rabbil ‘âlamîn.
Artinya:
Duhai tuhanku, para pengemis berdiri dipuntu (rahmat Mu), tidak ada orang yang fakir dengan bersimpuh disamping Mu. Perahu-perahu orang-orang miskin berlabuh dipantai (rahmat Mu) yang luas kedermawwanya, mereka berharap memperoleh belas kasih dan nikmat Mu. Duhai tuhanku jika Engkau dibulan (ramdlan) ini tidak dermawan kecuali hanya pada orang yang ikhlas karena Mu dalam berpuasa, lalu bagaimana bagi orang-orang yang ahli bermaksiat yang tidak melaksanakan puasa, yang tenggelam dalam dalam lautan dosa-dosanya. Duahai tuhanku, jika Engkau tidak menganugrahkan rahmat Mu, kecuali hanya kepada orang-orang yang giat beramal (karena Mu), lalu bagaimana dengan orang-orang yang tidak beramal. Duhai tuhanku, keuntungan bagi orang-orang yang berpuasa, keberuntungan bagi orang-orang yang istiqamah, dan keselamatan bagi orang-orang ikhlas, sedangkan aku termasuk hamba Mu yang bersimpuh dosa, oleh karenanya anugrahkanlah rahmat Mu kepada kami, dan temukanlah kami dengan fadlal Mu dan nikmat Mu, dan Ampunkanlah segala dosa-dosaku dengan rahmat Mu, wahai Dzat yang paling pemurah dari para pemberi kemurahan, dan semoga Alloh selalu memberi salam kesejahteraan atas penghulu kami, nabi Muhammad , kepada keluarga serta sahabat-sahabatnya, dan segala puji bagi Alloh tuhan seru semesta alam.