12.52
Maqalah Habib Ahmad Al-‘Athas,
dalam kitab As-Shufiyatu Fil Miizaan, ngendikane Al-Habib Abu Bakar bin
Abdullah Al-‘Athas (Qaddasallaahu sirrah) “Sungguh tempat yang tidak dihuni
manusia akan dihuni bangsa Jin, dan tempat yang dipakai buat ngopi tidak akan
dihuni oleh bangsa Jin , bahkan tidak akan didekati oleh mereka".
وكان الحبيب أبو بكر بن عبد الله العطاس يقول:
إن المكان الذي يترك خالياً يسكنون فيه الجن ، والمكان الذي تفعل فيه القهوة لا
يسكنونه الجن ولا يقربونه
Pada Shahifah ke-199 dijelaskan,
apa yang ditetapkan oleh Mushanif, Qaddasallaahu Sirrah, beliau menukil
keterangan dari gurunya Al-Habib Abu Bakar bin Abdullah Al-Athas, sungguh dia
berkata: Sayyid Ahmad bin Ali Al-Qadimi bertemu dengan Rosulullah saw dalam
keadaan terjaga, dia berkata:
“Wahai Rosulullah, aku ingin mendengarkan sebuah hadits darimu
langsung, dengan tanpa perantara”.
Rosulullah saw bersabda: aku
mengajarkan kepadamu tiga hadits,
Pertama, selagi aroma kopi masih
melekat pada bibirmanusia maka para Malaikat akan selalu beristighfar kepadanya.
Ke-dua, Siapa yang mengambil
tasbihnya untuk berdzikir, maka ditetapkan baginya termasuk orang yang banyak
berdzikir, baik dia berdzikir atau tidak melakukan dzikir.
Ke-tiga, siapa yang berkumpul
dengan (waliyullah) kekasih Alloh baik dalam keadaan hidup atau setelah wafat
maka dia bagaikan menghamba kepada Alloh hingga bumi terbelah-belah.
ما نصه: وذكر رضي الله عنه عن شيخه الحبيب أبي
بكر بن عبد الله العطاس أنه قال: كان السيد أحمد بن علي القُديمي يجتمع بالنبي صلى الله عليه وسلم يقظة ،
فقال: يا رسول الله أريد أن أسمع منك حديثاً بلا واسطة. فقال له صلى الله عليه
وسلم: أحدثك بثلاثة أحاديث: الأول: ما زال ريح قهوة البن في فم الإنسان تستغفر له
الملائكة ، الثاني: من اتخذ سبحة ليذكر الله بها كتب من الذاكرين الله كثيراً إن
ذكر بها أو لم يذكر ، الثالث: من وقف بين يدي ولي لله حي أو ميت فكأنما عبد الله
في زوايا الأرض حتى تقطع إرباً إرباً.
03.16
Pertama kali saya bertemu
dengan pemuda ini, dulu.. sangat dulu sekali, kurang lebih tahun 2000-an,
digubug yang sangat bersahaja, pondok pesantren yang berderet dengan beberapa
komplek, ada ribuan santri putra dan putri yang tiap hari ngangsu kawruh disana,
dengan bimbingan pengasuh, guru kami Alm KH A. Syahid. Anehnya pesanteren ini
dulunya waktu simbah yai masih sugeng, tidak ada papan nama/ Bord Of Plank,
bahkan tidak ada nama pesantren, orang-orang menyebutnya “Pondok kemadu”
pesantren yang ada didesa Kemadu, kemudian setelah beberapa tahun simbah yai
kapundut atas usulan beberapa pengurus pesantren ini diberi nama Pesantren
Al-Hamdulillah.
Iyaa.. Mbah Syahid, begitu
orang menyebutnya.. atau beberapa orang menyebutnya Kiai Al Hamdulillah, bagi
kami sebenarnya sangat kecil, jika kami menyebutkan santri beliau ini. Kami dan
beliau sangat devergen, senjang yang sangat jauh. baik keilmuan, ahlaaqul
karimah, haibah yang sangat tinggi, berkarisma, dan berdasarkan penuturan
orang-orang yang pernah sowan kepada beliau, begitu melihat wajah beliu maka
semua sumpek hilang, apalagi ketika beliau ucapkan kalimah “Al hamdulillâh..”
Pasal orang-orang menyebutnya
Kiai Al Hamdulillah, karena pada setiap sela-sela tutur sapanya, selalu
diselingi kalimah Al Hamdulillaah, dulu kami sempat berfikir ketika sowan
pertama kali ke-dhalem. Ada tamu menceritakan keburukan, beliau baca “Al
hamdulillaah”, ada tamu cerita berita senang beliau baca “Al Hamdulillah”,
bahkan ada tamu yang minta didoakan agar anak perempuannya cepet dapat jodoh
karena sudah tua “Pra-one tua” sekalipun beliau juga baca kalimah “Al
hamdulillâh..”
“Al Hamdulillâh…, ‘alâ kulli hâl” ternyata
itu yang beliau amalkan - yaitu merasa bersyukur kepada Allah dalam segala
keadaan.
Saya juga pernah baca, postingan
dari Gus Yahya Tsaqub, Wakil Suryah PB NU KH. Yahya Cholil Staquf pada FP-nya
“Terong Gosong” seklumit tentang beliau.
Atau juga pernah dituliskan oleh
Gus Mus, dalam WEB beliau www.Gusmus.net
“Setiap
kiai mempunyai semacam dzikir unggulan yang selau mewarnai kalimat-kalimat yang
diucapkannya. Ayah saya, al-Maghfur lah KH Bisri Mustofa, misalnya, dalam
setiap pembicaraannya sehari-hari tak pernah sepi dari ucapan Laa ilaaha
illallah. Ada kiai yang sebentar-sebentar mengucap Subhanallah; ada yang Astaghfirullah;
Laa haulaa walaa quwwata illa billah; dsb. Kiai Ahmad Syahid Kemadu lain lagi.
Begitu seringnya menyebut Alhamdulillah,sampai-sampai ada yang menjulukinya
Kiai Alhamdulillah dan menjuluki pesantrennya dengan Pesantren Alhamdulillah”
Begitu sedikit kutipan Gus Mus
tentang beliau. yang paling mengesankan ketika
disana bagi saya ketika masak bareng pada tiap kelompok, saya ingat betul dulu
orang tua saya, ketika saya mondok disana, tiap kali pulang sebulan sekali,
saya dikasih sangu 10Kg beras dan uang seratus ribu, bagi kami seratus ribu
sudah sangat cukup pada waktu itu. Kami disana tidak lama menurut ukuran santri
mondok, iyaa.. sekitar kurang lebih empat tahunan.
Kami sebenarnya ingin banyak
cerita, tapi saya khawatir memori yang saya dapat lebih tebal dari pada ilmu
kami, meskipun memang kami juga tidak tebal atau banyak dalam keilmuan.
Demikian cerita kami awal
bertemu pemuda tersebut, wal afwu minkum… semoga bermanfaat!
01.55
Abu Thalhah, begitu sebutan suami
Ummu Sulaim radlial laahu 'anhaa, dia sedang keluar rumah untuk keperluannya.
tangan-tangan takdir berkata lain, setelah kepergian Abu Thalhah putra dari
keduanya meninggal dunia.
Begitu suaminya kembali, dia
menyiapkan makan malam, berdandan sebagaimana layaknya istri shalihah ketika
suami dirumah, menyambut kedatangan sang pujaan jiwa, suami tercinta "Abu
Thalhah" dengan wajah riang dan bibir manisnya mengatakan:
"Sedang dalam keadaan tenang"
ketika suami bertanya "sedang apa putra kita?"
setelah keduanya makan malam bersama, mereka melaksanakan sunahrasul layaknya
temanten anyar.
setelah terpenuhi hajatnya, barulah
Ummu sulaim, bercerita tentang keadaan sesungguhnya "putra tercinta telah
meninggaldunia"
setelah senjatiba, Abu Thalhah ra
mendatangi Rosulullah saw dan mengkhabarkan keadannya kepada Rosulullah saw,
lalu Rosulullah saw mendoakannya "Allaahumma baarik lahummaa"
Allaah...semoga keberkahan teruntuk keduanya..
dalam riwayat Imam Muslim
dijelaskan, setelah melakukan sunahrasul dan Ummu Sulaim berkata kepada
suaminya:
“Bagaimana pendapatmu jika ada suatu kaum meminjamkan sesuatu kepada salah satu
keluarga, lalu mereka meminta pinjaman mereka lagi, apakah tidak dibolehkan
untuk diambil?”
Abu Tholhah menjawab, “Tidak.”
Ummu Sulaim, “Bersabarlah dan
berusaha raih pahala karena kematian puteramu.”
lalu Abu Tholhah marah kemudian berkata,
“Engkau biarkan aku tidak mengetahui hal itu hinggga aku berlumuran janabah,
lalu engkau kabari tentang kematian anakku?”
Abu Tholhah pun bergegas ke tempat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan apa yang terjadi
padany
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam pun mendo’akan, “Semoga Allah memberkahi kalian berdua dalam malam
kalian itu.” Akhirnya, Ummu Sulaim pun hamil lagi. dan putanya diberi nama
"Abdullah".
Diambil dari
dua riwayat hadits, riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim dan disederhanakan
oleh al Faqiir.
05.05
اللَّهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلاَمًا تَامًّا
عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ تُنْحَلُ بِهَ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ
وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِيْمِ
وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ عَدَدَ
كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ
Allahumma shalli shalatan kaamilataw wasallim
salaaman, taamaman ‘alaa sayyidinaa Muhammadin Alladzii tanhallu bihil ‘uqad,
wa tanfariju bihil kurabu, wa tuqdhaa bihil hawaa’ij, wa tunaalu bihir
raghaa’ib, wa husnul khawaatimi wa yustasqal ghamaamu bi wajhihil kariimi, wa
‘alaa aalihi, wa shahbihi ‘adada kulli ma’luumil laka
Artinya:
Ya Allah, berikanlah kesejahteraan
yang sempurna dan keselamatan yang sempurna kepada penghulu kami Nabi Muhammad yang dengannya terlepas dari
ikatan (kesusahan) dan dibebaskan dari kesulitan. Dan dengannya pula ditunaikan
hajat dan diperoleh segala keinginan dan kematian yang baik, dan memberi
siraman (kebahagiaan) kepada orang yang sedih dengan wajahnya yang mulia, dan
kepada keluarganya, para shahabatnya, dengan seluruh ilmu yang engkau miliki.