Ulinuha Asnawi

Catatan Ilmu Alat · Nahwu · Shorof · Alfiyah · Balaghah

KOPI DAN JIN

Maqalah Habib Ahmad Al-‘Athas, dalam kitab As-Shufiyatu Fil Miizaan, ngendikane Al-Habib Abu Bakar bin Abdullah Al-‘Athas (Qaddasallaahu sirrah) “Sungguh tempat yang tidak dihuni manusia akan dihuni bangsa Jin, dan tempat yang dipakai buat ngopi tidak akan dihuni oleh bangsa Jin , bahkan tidak akan didekati oleh mereka".

وكان الحبيب أبو بكر بن عبد الله العطاس يقول: إن المكان الذي يترك خالياً يسكنون فيه الجن ، والمكان الذي تفعل فيه القهوة لا يسكنونه الجن ولا يقربونه
Pada Shahifah ke-199 dijelaskan, apa yang ditetapkan oleh Mushanif, Qaddasallaahu Sirrah, beliau menukil keterangan dari gurunya Al-Habib Abu Bakar bin Abdullah Al-Athas, sungguh dia berkata: Sayyid Ahmad bin Ali Al-Qadimi bertemu dengan Rosulullah saw dalam keadaan terjaga, dia berkata:
“Wahai Rosulullah, aku ingin mendengarkan sebuah hadits darimu langsung, dengan tanpa perantara”.
Rosulullah saw bersabda: aku mengajarkan kepadamu tiga hadits,

Pertama, selagi aroma kopi masih melekat pada bibirmanusia maka para Malaikat akan selalu beristighfar kepadanya.
Ke-dua, Siapa yang mengambil tasbihnya untuk berdzikir, maka ditetapkan baginya termasuk orang yang banyak berdzikir, baik dia berdzikir atau tidak melakukan dzikir.
Ke-tiga, siapa yang berkumpul dengan (waliyullah) kekasih Alloh baik dalam keadaan hidup atau setelah wafat maka dia bagaikan menghamba kepada Alloh hingga bumi terbelah-belah.
ما نصه: وذكر رضي الله عنه عن شيخه الحبيب أبي بكر بن عبد الله العطاس أنه قال: كان السيد أحمد بن علي القُديمي يجتمع بالنبي صلى الله عليه وسلم يقظة ، فقال: يا رسول الله أريد أن أسمع منك حديثاً بلا واسطة. فقال له صلى الله عليه وسلم: أحدثك بثلاثة أحاديث: الأول: ما زال ريح قهوة البن في فم الإنسان تستغفر له الملائكة ، الثاني: من اتخذ سبحة ليذكر الله بها كتب من الذاكرين الله كثيراً إن ذكر بها أو لم يذكر ، الثالث: من وقف بين يدي ولي لله حي أو ميت فكأنما عبد الله في زوايا الأرض حتى تقطع إرباً إرباً.




BERTEMU DENGAN WALIYULLAH ALHAMDULILLAAH.



Pertama kali saya bertemu dengan pemuda ini, dulu.. sangat dulu sekali, kurang lebih tahun 2000-an, digubug yang sangat bersahaja, pondok pesantren yang berderet dengan beberapa komplek, ada ribuan santri putra dan putri yang tiap hari ngangsu kawruh disana, dengan bimbingan pengasuh, guru kami Alm KH A. Syahid. Anehnya pesanteren ini dulunya waktu simbah yai masih sugeng, tidak ada papan nama/ Bord Of Plank, bahkan tidak ada nama pesantren, orang-orang menyebutnya “Pondok kemadu” pesantren yang ada didesa Kemadu, kemudian setelah beberapa tahun simbah yai kapundut atas usulan beberapa pengurus pesantren ini diberi nama Pesantren Al-Hamdulillah.


Iyaa.. Mbah Syahid, begitu orang menyebutnya.. atau beberapa orang menyebutnya Kiai Al Hamdulillah, bagi kami sebenarnya sangat kecil, jika kami menyebutkan santri beliau ini. Kami dan beliau sangat devergen, senjang yang sangat jauh. baik keilmuan, ahlaaqul karimah, haibah yang sangat tinggi, berkarisma, dan berdasarkan penuturan orang-orang yang pernah sowan kepada beliau, begitu melihat wajah beliu maka semua sumpek hilang, apalagi ketika beliau ucapkan kalimah “Al hamdulillâh..”

Pasal orang-orang menyebutnya Kiai Al Hamdulillah, karena pada setiap sela-sela tutur sapanya, selalu diselingi kalimah Al Hamdulillaah, dulu kami sempat berfikir ketika sowan pertama kali ke-dhalem. Ada tamu menceritakan keburukan, beliau baca “Al hamdulillaah”, ada tamu cerita berita senang beliau baca “Al Hamdulillah”, bahkan ada tamu yang minta didoakan agar anak perempuannya cepet dapat jodoh karena sudah tua “Pra-one tua” sekalipun beliau juga baca kalimah “Al hamdulillâh..”

“Al Hamdulillâh…, ‘alâ kulli hâl” ternyata itu yang beliau amalkan - yaitu merasa bersyukur kepada Allah dalam segala keadaan.
Saya juga pernah baca, postingan dari Gus Yahya Tsaqub, Wakil Suryah PB NU KH. Yahya Cholil Staquf pada FP-nya “Terong Gosong” seklumit tentang beliau.

Atau juga pernah dituliskan oleh Gus Mus, dalam WEB beliau www.Gusmus.net
“Setiap kiai mempunyai semacam dzikir unggulan yang selau mewarnai kalimat-kalimat yang diucapkannya. Ayah saya, al-Maghfur lah KH Bisri Mustofa, misalnya, dalam setiap pembicaraannya sehari-hari tak pernah sepi dari ucapan Laa ilaaha illallah. Ada kiai yang sebentar-sebentar mengucap Subhanallah; ada yang Astaghfirullah; Laa haulaa walaa quwwata illa billah; dsb. Kiai Ahmad Syahid Kemadu lain lagi. Begitu seringnya menyebut Alhamdulillah,sampai-sampai ada yang menjulukinya Kiai Alhamdulillah dan menjuluki pesantrennya dengan Pesantren Alhamdulillah”
Begitu sedikit kutipan Gus Mus tentang beliau. yang paling mengesankan ketika disana bagi saya ketika masak bareng pada tiap kelompok, saya ingat betul dulu orang tua saya, ketika saya mondok disana, tiap kali pulang sebulan sekali, saya dikasih sangu 10Kg beras dan uang seratus ribu, bagi kami seratus ribu sudah sangat cukup pada waktu itu. Kami disana tidak lama menurut ukuran santri mondok, iyaa.. sekitar kurang lebih empat tahunan.


Kami sebenarnya ingin banyak cerita, tapi saya khawatir memori yang saya dapat lebih tebal dari pada ilmu kami, meskipun memang kami juga tidak tebal atau banyak dalam keilmuan.
Demikian cerita kami awal bertemu pemuda tersebut, wal afwu minkum… semoga bermanfaat!

UMMU SULAIM, ISTRI YANG MAMPU MENYEMBUNYIKA KESEDIHAN-NYA AGAR SUAMI TETAP SENANG.

Abu Thalhah, begitu sebutan suami Ummu Sulaim radlial laahu 'anhaa, dia sedang keluar rumah untuk keperluannya. tangan-tangan takdir berkata lain, setelah kepergian Abu Thalhah putra dari keduanya meninggal dunia.
Begitu suaminya kembali, dia menyiapkan makan malam, berdandan sebagaimana layaknya istri shalihah ketika suami dirumah, menyambut kedatangan sang pujaan jiwa, suami tercinta "Abu Thalhah" dengan wajah riang dan bibir manisnya mengatakan:
"Sedang dalam keadaan tenang"
ketika suami bertanya "sedang apa putra kita?"
setelah keduanya makan malam bersama, mereka melaksanakan sunahrasul layaknya temanten anyar.
setelah terpenuhi hajatnya, barulah Ummu sulaim, bercerita tentang keadaan sesungguhnya "putra tercinta telah meninggaldunia"
setelah senjatiba, Abu Thalhah ra mendatangi Rosulullah saw dan mengkhabarkan keadannya kepada Rosulullah saw, lalu Rosulullah saw mendoakannya "Allaahumma baarik lahummaa" Allaah...semoga keberkahan teruntuk keduanya..
dalam riwayat Imam Muslim dijelaskan, setelah melakukan sunahrasul dan Ummu Sulaim berkata kepada suaminya:
“Bagaimana pendapatmu jika ada suatu kaum meminjamkan sesuatu kepada salah satu keluarga, lalu mereka meminta pinjaman mereka lagi, apakah tidak dibolehkan untuk diambil?”
Abu Tholhah menjawab, “Tidak.”
Ummu Sulaim, “Bersabarlah dan berusaha raih pahala karena kematian puteramu.” 
lalu Abu Tholhah marah kemudian berkata, 
“Engkau biarkan aku tidak mengetahui hal itu hinggga aku berlumuran janabah, lalu engkau kabari tentang kematian anakku?”
Abu Tholhah pun bergegas ke tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan apa yang terjadi padany
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mendo’akan, “Semoga Allah memberkahi kalian berdua dalam malam kalian itu.” Akhirnya, Ummu Sulaim pun hamil lagi. dan putanya diberi nama "Abdullah".
Diambil dari dua riwayat hadits, riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim dan disederhanakan oleh al Faqiir.

SHALAWAT NARIYAH

اللَّهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلاَمًا تَامًّا عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ تُنْحَلُ بِهَ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِيْمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ عَدَدَ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ

 Allahumma shalli shalatan kaamilataw wasallim salaaman, taamaman ‘alaa sayyidinaa Muhammadin Alladzii tanhallu bihil ‘uqad, wa tanfariju bihil kurabu, wa tuqdhaa bihil hawaa’ij, wa tunaalu bihir raghaa’ib, wa husnul khawaatimi wa yustasqal ghamaamu bi wajhihil kariimi, wa ‘alaa aalihi, wa shahbihi ‘adada kulli ma’luumil laka
Artinya:

Ya Allah, berikanlah kesejahteraan yang sempurna dan keselamatan yang sempurna kepada penghulu kami  Nabi Muhammad yang dengannya terlepas dari ikatan (kesusahan) dan dibebaskan dari kesulitan. Dan dengannya pula ditunaikan hajat dan diperoleh segala keinginan dan kematian yang baik, dan memberi siraman (kebahagiaan) kepada orang yang sedih dengan wajahnya yang mulia, dan kepada keluarganya, para shahabatnya, dengan seluruh ilmu yang engkau miliki.