Ulinuha Asnawi

Catatan Ilmu Alat · Nahwu · Shorof · Alfiyah · Balaghah

Nadham 00001


بسم الله الرحمن الرحيم


كَلَامُنَا لَفْظٌ مُفِيْدٌ كَاسْتَقِمْ * وَ اسْمٌ وَفِعْلٌ ثُمَّ حَرْفٌ الْكَلِمْ
Berkata Muhammad, yaitu; Ibnu Malik: Aku memuji keharibaan Tuhan, yaitu; Allah Dzat Yang Maha Memiliki.


Bismillahirrahmȁnir rahîm, (qâla muhammadun):  Berkata al-Imam, al-‘Alâmah Abu Abdullah, Jamaluddîn, Ibnu Abdullah, Ibnu Malik yang bernasab ath-Thâ’iy. Bermadhab Syafi’iyah, yang tinggal di al-Jazany al-Andalusy (Andalusia) Ad-Dimisqy (Damaskus). beliau wafat pada 12 Sya’ban tahun 672 H, dengan usia 75 tahun.

Lafal: amadu rabbillâha khaira maliki, bermakna aku memuji keharibaan Tuhan-ku, yaitu Allah, Dzat Yang Maha Memilik. (Amadu): Menggunakan kalimat Fi’il Mudlari’, disini menunjukkan makna terus-menerus (al-istimrâr). Asal dari alamdu lillâh adalah amdu atau amadtu amdallâh, kemudian kalimat fi’il (amadu) dibuang, karena sudah mencukupi dengan keberadaan isim masdar yaitu: amdun. Kemudian dibaca rafa’, supaya menunjukkan makna ad-dawâm (terus menerus) dan ats-tsubût (kelanggengan). Kemudian dimasukkan al, supaya menunjukkan makna istighrâq (dilebih-lebihkan).

Ar-Rabb, adalah Dzat Yang Maha Memiliki. Sedangkan lafal Allah Isim ‘Alam, Yang  wajib keberadaan-Nya (Adz-Dzât wâjib al-wujûd). Yang Memiliki otoritas penuh atas segala puji, dan tidak ada yang berhak memakai nama Allah selain Allah, seperti  yang dijelaskan dalam al-Qur’ân al-Karîm: hal ta’lamu lahu samiyyâ (apakah kamu mengetahui sesuatupun yang dinamakan Allah selain Allah). Menurut kebanyakan Ulama Nahwu lafal Allah berakar dari Bahasa Arab. Sedangkan menurut al-‘Ulamâ’ al-muhaqqiqûn (Ulama Ahli Hakikat), bahwa lafal Allah adalah ismullâh al-a’dzâm (nama Allah Yang Maha Agung). Didalam al-Qur’an lafal Allah disebutkan sebanyak 2360 kali.

Menurut ijtihad Imam Nawawi, ismullâh al-A’dzâm (Nama Allah Yang Maha Agung) adalah al-ayyu al-Qayyûm. Pendapat ini sekaligus mengikuti pendapat otoritas kebanyakan Ulama. Imam Nawawii juga mengatakan: Oleh karena-nya lafal al-ayyu al-Qayyûm tidak disebutkan didalam al-Qur’ân al-Karîm kecuali pada tiga tempat, yaitu; Dalam Surah al-Baqarah, Ali ‘Imrân dan Thâhâ.  Wallahu a’lam..

Perlu diperhatikan, Fi’il Madli yang menggunakan makna mustaqbâl (menunjukkan makna telah lampau), terkadang mengandung makna peringatan dan terkadang menunjukkan makna kekuatan kepastian apa yang akan terjadi dalam waktu yang dekat. Seperti dalam al-Qur’ân al-Karîm: Atâ amrullâhi falâ tasta’jilûh (Pasti akan datang keputusan Allah, maka janganlah kalian meminta disegerakan). 

Susunan kalimat Huwa ibnu maliki, adalah jumlah mu’taridlah, yang memisahkan antara kalimat qâla, disini tidak ber-maal apapun jika dilihat dari i’rab-nya (lâ mahalata min al-i’râb).
Lafal: Rabb, ber-i’rab-kan nashab, yang dikira-kirakan (taqdiry). Jika dilihat dari asalnya penyusunan kalimat setelah lafal Rabb, ada dlamir ya’ mutakallim wahdah, dan ya’ tersebut ber-mahal jar, karena menjadi mudlaf dari lafal Rabb.
 
Lafal: Allah, berkedudukan nashab karena menjadi badal /bayan, dari lafal Rabb. Sedangkan lafal khaira, ber-i’rab-kan nashab juga karena berkedudukan sebagai badal atau âl. Lafal ini menggunakan jumlah khabariyah (menceritakan terjadinya perkara), akan tetapi mengandung makna insya’iyah (sesuatu yang memang benar-benar terjadi). Hal serupa dapat dilihat dalam al-Qur’ân al-Karîm: Da’awtu allâha samî-â (Aku berdoa kepada Allah Yang Maha Mendengar). Disini lafal samî-‘â, bukan menceritakan bahwa Allah itu Maha Mendengar, tapi Allah memang benar-benar Maha Mendengar.
Wallahu A’lam..

Tidak ada komentar: