Ulinuha Asnawi

Catatan Ilmu Alat · Nahwu · Shorof · Alfiyah · Balaghah

AL-HIKAM Ibnu Athaillah | Seni Berdamai Dengan Takdir

مَا تَرَكَ مِنَ الْجَهْلِ شَيْئًا مَنْ أَرَادَ أَنْ يُحَدِّثَ فِي الْوَقْتِ غَيْرَ مَا أَظْهَرَهُ اللهُ فِيهِ

 

“Tidaklah tersisa satu pun bentuk kebodohan pada diri orang yang berkehendak menghadirkan suatu perbuatan pada waktu yang tidak Allah tampakkan (tetapkan) padanya.”

 

Kebodohan terbagi menjadi dua:

1.      Kebodohan sederhana (الجهل البسيط / jāhil basīṭ), yaitu tidak mengetahui sesuatu, namun ia sadar bahwa dirinya tidak tahu.

2.      Kebodohan majemuk (الجهل المركب / jāhil murakkab), yaitu seseorang tidak mengetahui, dan tidak pula mengetahui bahwa dirinya bodoh. Inilah kebodohan yang paling parah dan paling sulit disembuhkan.

 

Asy-Syaikh Ibnu Atha’illah rahimahullāh menjelaskan bahwa:

orang yang terus berada dalam kebodohan, atau tidak memiliki kehendak untuk keluar darinya, adalah orang yang menginginkan sesuatu selain keadaan yang sedang ia hadapi; yakni selain apa yang Allah tampakkan pada waktunya.

 

Dengan kata lain, ketidakridhaan terhadap keadaan waktu adalah sumber kebodohan yang berlapis-lapis.

 

Realitas manusia dalam menghadapi waktu, kebanyakan manusia awam menginginkan perubahan keadaan bukan karena ketaatan, melainkan karena: dorongan nafsu, kenyamanan pribadi, atau keinginan dipuji manusia.

 

Contohnya: ingin kaya agar bisa bersyukur, ingin sehat agar bisa beramal, atau—yang lebih berbahaya—ingin tampak baik agar dianggap baik oleh manusia. Padahal, semua itu adalah pilihan terhadap waktu, bukan kepasrahan terhadap-Nya.

Manusia dalam Menghadapi Waktu Terbagi Menjadi Tiga Golongan

 

1.      Golongan yang rendah dan hina

Yaitu orang yang menginginkan perubahan keadaan untuk bermaksiat, baik disadari maupun tidak. Contohnya: ingin tampak saleh agar dipuji dan diagungkan manusia.

 

2.      Golongan orang baik

Yaitu orang yang menginginkan perubahan keadaan dengan berdoa dan berikhtiar, agar dapat melakukan kebaikan lain. Seperti orang miskin yang berdoa menjadi kaya agar bisa bersyukur. Hakikatnya, ia ingin berpindah dari maqām sabar menuju maqām syukur.

 

3.      Golongan orang yang sangat baik

Yaitu orang yang menerima setiap keadaan sepenuhnya, dengan kuatnya husnuzan kepada Allah, tanpa memilih-milih keadaan, dan tanpa menawar takdir.

 

Padahal Allah SWT telah berfirman dalam hadits qudsi-Nya:


مَنْ لَمْ يَرْضَ بِقَضَائِيْ، وَلَمْ يَصْبِرْ عَلىَ بَلَائِيْ، فَلْيَخْرُجْ مِنْ تَحْتِ سَمَائِيْ وَلْيَتَّخِذْ رَبًّا سِوَايَ

 

“Barang siapa tidak ridha terhadap ketetapan-Ku, dan tidak sabar atas ujian-Ku, maka hendaklah ia keluar dari bawah langit-Ku dan mencari tuhan selain Aku.”

 

Dan Allah berfirman (QS. Yunus: 99):

وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي اْلأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيْعًا، أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ.

“Sekiranya Tuhanmu menghendaki, niscaya seluruh manusia di bumi akan beriman semuanya. Maka apakah engkau hendak memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman?”

 

Ayat ini menegaskan bahwa kehendak Allah selalu berjalan sesuai hikmah-Nya, bukan sesuai keinginan makhluk.

 

Kawan, alangkah baiknya jika seorang hamba tidak memilih selain apa yang telah Allah kehendaki baginya. Sebab sikap tidak memilih itulah tata krama seorang sālik di hadapan Tuhannya.

 

وَاللّٰهُ أَعْلَمُ


AL-HIKAM | Macam-macam Amal

Maqalah Ibnu Athailah Asakandary. rahimahulLah, wa amiddana bi asrarih:

Berbagai macam jenis amal, tergantung dengan berbagai macam waridatul ahwal (keadaan hati)
  
al-A’māl adalah; ibrah dari pergerakan al-Jism (anggota badan). Wāridātul -aḣwāl adalah; ibrah dari al-Khawatir ~pergerakan hati atau bisikan hati atau omong-omongan didalam hati~. Baik al-Khatr, al-Waridāt ataupun al-ḣal semuanya bersemayam dalam satu tempat yaitu al-Qalb (hati). Selagi hati ini tercampur antara al-Khawāthirun –Nuraniyah dan adz-Dzulmaniyah maka disebut al-Khawātir. Akan tetapi jika memutus segala al-Khawāthirudz –Dzulmaniyah maka disebut al-Waridāt atau al-ḣāl. Jika terus-menerus dalam kebaikan maka kesepakatan Ulama Tasawuf disebut al-Maqām.
 
Maksud dari maqalah Syaikh Ibnu Athailah disini; Jenis amal dzahir itu tergantung pada keadaan hati. Hati yang baik akan menampilkan perilaku-perilaku yang baik, begitu juga sebaliknya hati yang kotor akan menampilkan amalan-amalan yang kotor juga. Oleh karenanya penting bagi seorang salik (pejalan mencari kebenaran) untuk membersihkan hati dari sifat-sifat yang kotor dan rendah bahkan hina.
 
Dalam hadits yang masyhur dikatakan:

    “Sungguh, didalam jasad terdapat gumpalan daging, jika gumpalan ini baik maka baiklah jasad itu, bahkan keseluruhannya. Sebaliknya, jika gumpalan ini buruk maka buruklah jasad ini, bahkan keseluruhannya. Ingat.. inilah yang disebut al-Qalb (hati)”

Dari maqalah inilah, dapat disimpulkan oleh Ulama Tasawuf maqam-maqam yang rumit, seperti az-Zuhād (Ahli Zuhud), ‘Ubbād (Ahlul Ibadah), al-Muridīn, bahkan sampai al-‘Arifīn bilLāh.
 
Oleh karenanya wahai kawan-kawanku yang aku cintai, penting bagi kita untuk berbenah diri, membersihkan hati dari sifat-sifat keji seperti; ar-Riyā’ (pamer), al-‘Ujub (suka membanggakan diri), at-Takabur (Sombong) dan lain seterusnya. Penting sekiranya, jangan-jangan amal kebaikan kita hanya pamrih supaya dipandang baik orang lain. Wallahu A’lam.. Semoga bermanfaat untukku dan juga kalian semua. Amiin

Ketika Hasan Basri Melamar Rabiah



Waktu ada temen datang, saya lagi baca/muthala’ah kitab. “baca kiab apa mas?” katanya. ingintahu. “Ini low, cerita” jawabku, singkat. “Cerita apa?” tanya temen saya. Cerita Rabi’ah al-Adawwiyah. Waliyah yang masuyhur itu loh” kata saya tegas. “aku pernah denger, bagaimana sih cerita detailnya?” saya lihat dia semangat. ingin tahu. begini ceritanya:
lammaa maata zauj rabi’ah al-adaiyah. saya memulai.membacakan kitab Durrah an-Nasihih, yang sejak tadi saya baca: Ketika suami Rabi’ah al-Adawiyah telah wafat, kemudian sowan Hasan Bashri beserta santri sejawatnya, kepada Rabi’ah al-Adawiyah. Duduk Hasan Basri & santri-santrinya di ruang tamu. Rabi’ah menjamu, duduk dibalik satir yang membatasi antara mereka.

Hasan Basri & para santrinya, mulai membuka percakapan. “Telah wafat Suami Anda, dan tidak dipungkiri, Anda membutuhkan seorang pengganti darinya”

Na’am. benar. akan tetapi siapa gerangan orang ter-‘alim dari kalian, sehingga akan mempersunting diriku? Tanya Rabi’ah.

Mereka serentak mengatakan: Hasan Bashri.

“Jika Anda dapat menjawab empat dari pertanyaanku, maka aku bersedia engkau persunting” Jawab Rabi’ah. memberi sarat.
“Jika Allah memberikan tawfiq-Nya. InsyaaAllah. aku akan menjawab pertanyaan yang Anda ajukan!” tegas jawab Hasan Basri.
“Apa jawaban Anda, jika aku telah mati, dikeluarkan dari kehidupan dunia, apakah aku dikeluarkan dengan membawa iman?” Pertanyaan pertama, dari Waliyah ini.
haadza gaib, wa laa ya’lam al-ghaib illaa allah. Ini adalah termasuk perkara yang ghaib, dan tiada mengetahui yang ghaib, kecuali Allah” jawab Hasan Basri.
Apa yang akan Anda katakan, jika ragaku telah diletakkan di bumi pemakaman, dan telah menanyaiku Munkar-Nakir, apakah aku mampu menjawab pertanyaan darinya?”
Hasan Basri menjawab:  haadza ghaib. aydlan (juga). wa laa ya’lam al-ghaib illaa allah.
Rabi’ah al-Adawiyah mengajukan pertanyaan yang ketiga: Jika manusia telah diarak, di akhirat kelak, masing-masing dari mereka menerima kitab amal perbuatannya. dan aku telah benar-benar menerima kitab amal-perbuatanku, ditangan mana aku menerimanya, apakah tangan kiri atau tangan kanan?
“haadza ghaib aydlan” jawab Hasan Basri.
Pertanyaan terakhir dari Rabi’ah al-Adawiyah “Jika telah dipanggil manusia, beberapa diantara mereka ada yang di syurga, ada yang dineraka, dimanakah aku berada diantara dua golongan ini?”
“haadza ghaib aydlan” Setelah semua pertanyaan, dijawab oleh Hasan Basri. Rabi’ah mengatakan: Seseorang yang baginya ghaib tentang empat hal ini, bagaimana dia disibukkan dengan pernikahan? Wahai Hasan. Rabi’ah melanjutkan perkataannya. akhbirnii kam juz khalaqa allah al-a’ql. kabarkan kepadaku, berapa bagian Allah Membagi akal?
‘asyrah ajzaa’, tis’ah li ar-rijaal wa waahid li an-nisaa’. sepuluh bagian. kata Hasan Bashri. yaitu; sembilan bagian diperuntukkan laki-laki dan satu bagian diperuntukkan perempuan.
Lalu, berapa bagian Allah membagi nafsu? Tanya kembali Rabi’ah.
‘asyrah ajzaa’, tis’ah li an-nisaa’ wa waahid li ar-rijaal. sepuluh bagian. jawab Hasan Basri. yaitu; sembilan bagian diperuntukkan perempuan dan satu bagian diperuntukkan laki-laki.
“Wahai Hasan” kata Rabi’ah, aku dianugrahi kemampuan menjaga sembilan bagian nafsu dengan satu bagian akal, dan engkau tidak mampu menjaga satu bagian nafsu dengan sembilan bagian akal.
Hasan Bashri. Waliyullah, Ulama’, Ahl Haqiqah diangkatan tabi’in ini menangis dari apa yang dikatakan Rabi’ah al-Adawiyah. dan Dia-pun keluar keluar dari kediaman Rabi’ah. Intahaa.
Cerita dari kedua kekasih Allah ini melukiskan keindahan tersendiri dihati keseluruhan salik, pencari jalan menuju Allah, pencela duniawi, ahl al-haqiqah, ma’rifat bilLaah, dan ahl mahabah ilalLaah. Lalu, apakah saya dan Anda sedikit tertarik untuk meniru jejak mereka atau setidaknya mencintai mereka?