Ulinuha Asnawi

Catatan Ilmu Alat · Nahwu · Shorof · Alfiyah · Balaghah

Ketika Hasan Basri Melamar Rabiah



Waktu ada temen datang, saya lagi baca/muthala’ah kitab. “baca kiab apa mas?” katanya. ingintahu. “Ini low, cerita” jawabku, singkat. “Cerita apa?” tanya temen saya. Cerita Rabi’ah al-Adawwiyah. Waliyah yang masuyhur itu loh” kata saya tegas. “aku pernah denger, bagaimana sih cerita detailnya?” saya lihat dia semangat. ingin tahu. begini ceritanya:
lammaa maata zauj rabi’ah al-adaiyah. saya memulai.membacakan kitab Durrah an-Nasihih, yang sejak tadi saya baca: Ketika suami Rabi’ah al-Adawiyah telah wafat, kemudian sowan Hasan Bashri beserta santri sejawatnya, kepada Rabi’ah al-Adawiyah. Duduk Hasan Basri & santri-santrinya di ruang tamu. Rabi’ah menjamu, duduk dibalik satir yang membatasi antara mereka.

Hasan Basri & para santrinya, mulai membuka percakapan. “Telah wafat Suami Anda, dan tidak dipungkiri, Anda membutuhkan seorang pengganti darinya”

Na’am. benar. akan tetapi siapa gerangan orang ter-‘alim dari kalian, sehingga akan mempersunting diriku? Tanya Rabi’ah.

Mereka serentak mengatakan: Hasan Bashri.

“Jika Anda dapat menjawab empat dari pertanyaanku, maka aku bersedia engkau persunting” Jawab Rabi’ah. memberi sarat.
“Jika Allah memberikan tawfiq-Nya. InsyaaAllah. aku akan menjawab pertanyaan yang Anda ajukan!” tegas jawab Hasan Basri.
“Apa jawaban Anda, jika aku telah mati, dikeluarkan dari kehidupan dunia, apakah aku dikeluarkan dengan membawa iman?” Pertanyaan pertama, dari Waliyah ini.
haadza gaib, wa laa ya’lam al-ghaib illaa allah. Ini adalah termasuk perkara yang ghaib, dan tiada mengetahui yang ghaib, kecuali Allah” jawab Hasan Basri.
Apa yang akan Anda katakan, jika ragaku telah diletakkan di bumi pemakaman, dan telah menanyaiku Munkar-Nakir, apakah aku mampu menjawab pertanyaan darinya?”
Hasan Basri menjawab:  haadza ghaib. aydlan (juga). wa laa ya’lam al-ghaib illaa allah.
Rabi’ah al-Adawiyah mengajukan pertanyaan yang ketiga: Jika manusia telah diarak, di akhirat kelak, masing-masing dari mereka menerima kitab amal perbuatannya. dan aku telah benar-benar menerima kitab amal-perbuatanku, ditangan mana aku menerimanya, apakah tangan kiri atau tangan kanan?
“haadza ghaib aydlan” jawab Hasan Basri.
Pertanyaan terakhir dari Rabi’ah al-Adawiyah “Jika telah dipanggil manusia, beberapa diantara mereka ada yang di syurga, ada yang dineraka, dimanakah aku berada diantara dua golongan ini?”
“haadza ghaib aydlan” Setelah semua pertanyaan, dijawab oleh Hasan Basri. Rabi’ah mengatakan: Seseorang yang baginya ghaib tentang empat hal ini, bagaimana dia disibukkan dengan pernikahan? Wahai Hasan. Rabi’ah melanjutkan perkataannya. akhbirnii kam juz khalaqa allah al-a’ql. kabarkan kepadaku, berapa bagian Allah Membagi akal?
‘asyrah ajzaa’, tis’ah li ar-rijaal wa waahid li an-nisaa’. sepuluh bagian. kata Hasan Bashri. yaitu; sembilan bagian diperuntukkan laki-laki dan satu bagian diperuntukkan perempuan.
Lalu, berapa bagian Allah membagi nafsu? Tanya kembali Rabi’ah.
‘asyrah ajzaa’, tis’ah li an-nisaa’ wa waahid li ar-rijaal. sepuluh bagian. jawab Hasan Basri. yaitu; sembilan bagian diperuntukkan perempuan dan satu bagian diperuntukkan laki-laki.
“Wahai Hasan” kata Rabi’ah, aku dianugrahi kemampuan menjaga sembilan bagian nafsu dengan satu bagian akal, dan engkau tidak mampu menjaga satu bagian nafsu dengan sembilan bagian akal.
Hasan Bashri. Waliyullah, Ulama’, Ahl Haqiqah diangkatan tabi’in ini menangis dari apa yang dikatakan Rabi’ah al-Adawiyah. dan Dia-pun keluar keluar dari kediaman Rabi’ah. Intahaa.
Cerita dari kedua kekasih Allah ini melukiskan keindahan tersendiri dihati keseluruhan salik, pencari jalan menuju Allah, pencela duniawi, ahl al-haqiqah, ma’rifat bilLaah, dan ahl mahabah ilalLaah. Lalu, apakah saya dan Anda sedikit tertarik untuk meniru jejak mereka atau setidaknya mencintai mereka?

Tidak ada komentar: