Ulinuha Asnawi

Catatan Ilmu Alat · Nahwu · Shorof · Alfiyah · Balaghah

NEGRIKU HARAPAN AGAMAKU DALAM KEJAYAANNYA

Tulisan ini kebanyakan pengambilannya dari tulisan Almarhum Prof. Dr. Hamka, nama beliau adalah H. Abdul Malik Karim Amrullah dalam tulisan beliau Perbendaharaan Lama. Alasan penulis tidak ada yang lain kecuali karena inilah satu-satunya referensi yang utuh yang dapat penulis jumpai. Selain itu, menulis ulang ini terasa bernostalgia kembali ke-zaman qurun awal Islam dan mencari dimana negriku waktu itu. Tulisan ini saya beri judul: Negriku Harapan Agamaku, Dalam Kejayaannya. Penulis lihat dari fakta sekarang, negara Indonesia-lah yang memilki jumlah penduduk Islam terbesar di dunia.

Di dalam catatan sejarah Tiongkok, disebutkan bahwa pada pertengahan qurun ke-tujuh, terdapat kerajaan yang bernama Holing, dan terdapat negri yang bernama Cho’-po. Seorang perempuan yang bernama Simo, adalah ratu yang memegang tampuk kekuasaan di masa itu.

Penulis sejarah Tiongkok itu juga menyebutkan, bagaimana aman dan makmurnya negri itu, di bawah perintah penguasa perempuan itu. Tanahnya subur, padinya menjadi. Upacara kerajaan berjalan lancar. Ratu dijaga, atau di iringkan oleh biti-biti prawara, kipas bulu merak bersabung kiri-kanan, dan singgasana tempat baginda bersemayam bersalutkan emas. Keris pusaka dan pedang kerajaan-pun bersalutkan emas ratna-mutu manikam. Agama yang dipeluk adalah Agama Budha.

Dengan kerjasama antara I Tsing seorang pengembara Tiongkok dan Jnabradha, yang dalam bahasa Tiongkok di tulis Yoh Na Poh T’o Lo, disalinlah buku-buku Agama Budha ke dalam bahasa anak negri.

Tentang keamanan dan kemakmuran negri Holing itu, oleh pencatat sejarah Tiongkok dituliskan; sampailah beritanya ke Ta-Cheh, sehingga tertariklah para pengembara negri Ta-Cheh mengunjungi negri Holing, untuk melakukan kerja-sama meningkatkan perniagaan antara keduanya.

Di antara tahun 674-675 Masehi sampailah satu utusan bangsa Ta-Ceh ke Holing. Kagumlah utusan Ta-Cheh itu, betapa aman negeri Holing di bawah naungan Ratu Simo. Sehingga pada suatu ketika, Raja Ta-Cheh itu mencoba mencecerkan pundi-pundi emas, namun tidak ada seorang-pun yang mengambilnya. Tiga tahun lebih emas itu tetap berada ditempatnya, sampailah putra mahkota kerajaan Holing ditempat itu, kemudian disepaklah barang pundi-pundi, dan bersimpulah emas dari dalamnya.

Perbuatan Putra Mahkota itu rupanya dipandang sebuah kesalahan besar oleh ibunya, Ratu Simo. Amatlah murka Baginda setelah mengetahui kesalahan putranya. Memberikan malu bagi kerajaan dimuka orang asing yang datang hendak menyaksikan keamanan dan kemakmuran negri. Putra Mahkota itu dipandang telah melanggar keluhuran budi.

Oleh sebab itu, kaki yang menyebak pundi-pundi emas itu wajib wajib dipotong. Bagaimanapun para menteri membujuk agar Baginda Ratu mengurungkan hukuman itu. Namun Ratu tidak menginginkan kecuali kaki putra Mahkota dipotong.

Demikianlah, ceritera yang terekam didalam catatan sejarah Tiongkok, yang menjadi penyelidikan dari masa kemasa hingga sekarang ini. Hasil penyelidikan menyatakan bahwa Cho’po adalah Joww, yang sekarang ini pulau Jawa. Kerajaan Holing adalah kerajaan Kalingga yang oleh beberapa penyelidik dikatakan pernah berdiri di Jawa Tengah. Ada pula yang beranggapan di Jawa Timur. Yang berdiri antara qurun ke-tujuh Masehi, dan memang terdapat Ratu yang bernama Sima atau Simo.

Ta-Cheh adalah Raja Arab, sebab Ta-Cheh adalah nama yang diberikan oleh orang Tiongkok untuk Bangsa Arab di zaman itu.

Setelah dilakukan penghitungan, ternyata tahun 674 Masehi adalah 42 tahun setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Beliau wafat pada kisaran tahun 632 Masehi atau tahun ke 11 setelah hijrah beliau dari Makkah ke Madinah. Jadi, tahun 674 adalah bertepatan dengan 51 tahun Hijaratul Musthafa. Dan khalifah di masa itu adalah Yazid bin Mu’awiyah, khalifah yang ke-dua dari Bani Umayyah.

Dari masa ke masa, para peneliti sejarah mencari kecocokan data, mengupayakan ketepatan potret di zaman itu. Namun tidak mengetahui siapa ‘Raja’ Arab yang datang mencecerkan pundi-pundi emas ke Holing. Akan tetapi bagi kita yang menyelami tarikh bangsa Arab, tidak diperbolehkan untuk mengatakan tidak tahu menahu. Sebab Nabi Muhammad SAW sendiri telah menentukan peraturan; apabila sekelompok musafir yang melakukan perjalanan jauh, hendaknya mereka merajakan seseorang diantara mereka yang lebih tua usianya, atau yang lebih banyak ilmunya, atau yang lebih gagah-berani meski usianya lebih muda, dan yang fasih lisannya terutama ketika dijadikan seorang imam dalam shalat.

Itulah kepala rombongan yang disebut di dalam Bahasa Arab, Amir dalam perjalanan merangkap menjadi imam shalat. Dan Amir itu juga diartikan seorang raja.

Pencatat sejarah Tiongkok yang lain mengatakan, yang mengembara di tahun 674 itu juga terdapat di Pesisir barat pulau Sumatra. Telah didapati pula satu kelompok Bangsa Arab yang membuat kampung di tepi pantai.

Catatan inilah yang mengubah pandangan orang, tentang sejarah masuknya Agama Islam ke tanah air kita. Kebanyakan orang berasumsi masuknya Agama Islam di Nusantara pada abad 11 Masehi, sekarang kita naikkan 4 abad ke-atas, yaitu abad ke-tujuh Masehi.

Tidak ada yang tercatat dalam Tarikh Islam, tentang masuknya Islam di Nusantara, sebab pengembara muslim yang datang ke-Indonesia, bukanlah ekspedisi resmi dari utusan khalifah di Damaskus atau Baghdad. Selain itu pengebaraannya bukan seseorang yang menggunakan senjata, melainkan mereka berniaga dan berdagang. Mereka datang ke tanah air kita dengan suka-rela.

Kerajaan Hindu-Budha masih begitu kuat dan kokoh; kerajaan Sriwijaya di Sumatra, kerajaan Kalingga di Jawa, dan kerajaan-kerajaan Hindu-Budha di  tempat lain masih sangat kental kekuasaannya. Oleh sebab itu para pengembara Arab yang datang dibegitu leluasa menyampaikan dakwah-nya kepada penduduk pribumi. Bahkan ketika mencecerkan pundi-pundi emas di tengah jalan, tidak ada seorangpun yang berani mengambilnya karena takut akan murka sang Ratu. Dan sang Ratu tidak ragu-ragu menjatuhkan hukuman memotong kaki putra Mahkota, ketika  mencoba menyepakkan kaki pundi-pundi emas kepunyaan orang Arab.

Pelajaran Agama Islam masih sukar diterima, akan tetapi orang Arab atau orang Islam itu masih tetap meramaikan pelayaran dan perniagaan di Selat Malaka hingga sampai ke Tiongkok. Di Kanton (daerah Tiongkok) pernah berdiri markas perdagangan orang Arab. Oleh karena itu, tersebutlah nama pulau-pulau yang terdapat di Negri kita ini dalam catatan al-Idrisi atau yang masyhur dengan nama al-Qurtubi dan pencatatn sejarah lain seperti; al-Mas’udi yang mashur Abu al-Hasan Ali ibn al-Husayn ibn Ali al-Mas'udi. Dan kemudian lebih jelas lagi oleh tulisan Ibnu Bathutah yang menuliskan satu buku khusus tentang negri Nusantara.

Di Tambah lagi belum populernya para pengembara muslim itu, akan tetapi mereka sangat dihormati karena kebersihannya, mencuci muka sekurang-kurannya 5 kali dan mandi sekuran-kurannya dua kali. Akan tetapi belum diikuti, karena raja masih dianggap Tuhan.

Meniliki sejarah ini, dapatlah kita menentukan arah sejarah masuknya Agama Islam ke Negri ini sejak qurun abadnya yang pertama. Penulis sejarah Dunia Islam dari Princeton University di Amerika sudah memegang ketentuan ini, dan masuknya Agama Islam ke Nusantara ialah di abad yang ke-tujuh, tegasnya di qurun munculnya Islam pertama.

Akan tetapi Ulama terdahulu, salah satu yang tertarik mengkaji sejarah masuknya Islam di Indonesia dan semenanjung melayu adalah Mufti kerajaan Johor Said Ali bin Taher al-Hadad, mengikuti pendapat bahwa masuknya Agama Islam di Nusantara lebih awal dari zaman khalifah Yazid bin Mu’awiyah, tepatnya di zaman kekhalifahan Khalifah yang ke-tiga Usman bin Affan radliyallahu ‘anh. Beliau menunjukkan referensi buku-buku petunjuk yang berasal dari Museum di Jakarta. Sehingga salah stu sarjana yang terkenal, Za’ba pada tahun 1956 datang ke-Jawa dan melakukan penelitian, akn tetapi tidak mendapati buku yang dijadikan referensi Mufti kerajaan Johor itu.

Malahan adalagi yang mengatakan menanatu dan juga khalifah yang ke-tiga Ali bin Abu Thalib, belakangan disebut pernah di utus oleh Nabi Muhammad Saw mengunjungi Nusantara ini. Akan tetapi pendapat ini terkesan memaksa yang secara ilmiyah belum bisa dibuktikan.

Memang dalam Tarikh Islam tidak disebutkan satu-pun ekspedisi yang dikirim ke-khalifahan resmi ke-Indonesia. Sebab yang datang ke Nusantara bukanlah ekspedisi kan tetapi personil atau beberap orang saja. Kalaw demikian, sangat dimungkinkan pendapat yang terakhir akan tetapi bukan sahabat Ali yang diutus. Akan tetapi tidak ada dari mereka yang datang di Nusantara generasi awal yang wafat di negri ini. Dari sini sangat dimungkinkan karena mereka berdatangan silih-berganti dan kembali lagi ketempat asal.

Abad XIII Penentuan Perebutan Pengaruh Terakhir

Barulah di akhir abad 13, terjadi perebutan pengaruh yang terakhir antara yang lama dengan yang baru. 1292 adalah tahun mangkatnya Kertanegara Prabu Majapahit yang pertama. Yaitu, Baginda yang menggabungkan agama Shiwa dan Budha sebagai agama kerajaan.

Prabu Wangi, Prabu Niskalawastu, dan Prabu Dawaniskala berganti-ganti sebagai penguasa di kerajaan Galuh (Jawa Barat) dalam keadaan yang tidak tentram lagi.

Akan tetapi di tahun itu juga, kepala kampung di Negri Pasai (Sekarang: Aceh), yang bernama Marah Situ, memaklumkan dirinya sebagai Sultan yang pertama dari kerajaan Islam pertama di Nusantara. Dan jika dilihat pada tahun 1500 Masehi pengaruh Hindu-Budha sudah mulai muram dan pengaruh Islam mulai gemilang. Sehingga pantaslah jika dikatakan tahun 1300 adalah awal bersy’arnya Islam dan tahun 1500 adalah tahun kejayaan Agama Islam di Nusantara.
Semoga Tulisan ini menginspirasi kita dalam menjelajah menuju lautan sejarah, besar harapan penulis ini semoga menambah kemanfaatan. Jas-Merah, kata Bapak Prsiden RI yang pertama "Jangan Lupakan Sejarah"

1 komentar:

ulinuha mengatakan...

Tes