Ulinuha Asnawi

Catatan Ilmu Alat · Nahwu · Shorof · Alfiyah · Balaghah

AL-HIKAM IBNU ATHAILAH| Kelanjutan Maqolah II


Assalamu’alaikum WarahmatulLahi WabarakatuH, semoga kita selalu dalam lindungan dan hidayah Allah Ta’ala. Kita lanjutkan membaca memetik kalam-kalam hikmah dari kitab al-Hikam Ibnu Athaillah Assakandary. Semoga kita dipermudah dalam memahami dan mengamalkannya. Al-‘Ilmu an-Nafi’.
BACA JUGA MAQOLAH KE-II (Pertemuan Pertama)
Kali ini pertemuan ke-2 dari maqolah al-Hikam Ibnu Athailah Assakandary:


إرادتك التجريد مع إقامة الله إياك في الأسباب من السهوة الخفية، وإرادتك الأسباب مع إقامة الله إياك في التجريد إنحطاط عن الهمة العلية.

“Keinginan Anda berada pada suatu maqom tajrid, bersamaan dengan itu Allah Ta’ala mendudukkan Anda pada maqom asbab adalah termasuk syahwat yang samar, sedangkan keinginan Anda berada pada maqom asbab, bersamaan dengan itu Allah Ta’ala mendudukkan Anda pada maqom tajrid adalah terjatuh dari himmah (kedudukan) yang tinggi.”


Dari postingan sebelumnya, kita sudah mempunya tashawwur (gambaran) apa itu tajrid ? apa itu asbab? Seberapa had-batasannya, sehingga kita mempunyai pandangan (an-nadlr) bahwa dalam syahwat yang samar termasuk su’ul adab adalah seorang santri yang belum tamam (sempurna keilmuannya) terburu-buru mendudukkan diri sebagai seorang Guru, Kiai atau bahkan Ulama, apalagi awam atau mu’alaf yang belum banyak mengetahui disiplin ilmu islam.

Ingatan kita tentang ungkapan penyarah kitab asy-Syaikh As-Syarqawi (rahimahulLah) masih segar, bahwa keterlanjuran diterimanya murid yang belum tamam (sempurna keilmuannya), bagaikan racun yang mematikan. Jauh-jauh hari Rasulullah ShallalLahu ‘alaihi wasalam, dari riwayat Abu Hurairah (radlialLahu ‘anh) mengingatkan.

وعن أبي هريرة  رضي الله عنه  قال : بينما كان النبي  صلى الله عليه وسلم يحدث إذ جاء أعرابي فقال : متى الساعة ؟ قال : " إذا ضيعت الأمانة فانتظر الساعة " . قال : كيف إضاعتها ؟ قال : " إذا وسد الأمر إلى غير أهله فانتظر الساعة " . رواه البخاري .
“Dari riwayat Abi Hurairah (radlialLahu ‘anh), bahwa ketika beliau berkhutbah, datang seorang Arab Badui menanyakan, kapan hari kiyamat? Ketika amanah disia-siakan maka pastilah datang hari kiyamat, jawab rasulullah. Bagaimana amanat disia-siakan, ya rasulullah? Jika suatu perkara diserahkan kepada selain ahlinya, tegas rasulullah.”

Al-amru/suatu perkara tersebut menurut syaikh Ali al-Qary (rahimahullah) dalam Mirqat al-Mashabih, adalah urusan kepemimpinan (amr as-Suthan), regulasi pemerintah (imarah), putusan hukum (al-qadla), serta hukum-hukum islam (al-hukumiyah). Sedangkan faktanya dari semua hal tersebut mengalami penurunan yang masif terutama lemahnya nilai-nilai Islam, akibat dari Ulama yang bukan semestinya, awam yang di’ulamakkan.

Nampaknya kita terjebak dalam urusan ini sehingga Ulama yang sesungguhnya pun menghabiskan waktu untuk menjelaskan permasalahan yang sangat serius ini kepada santri dan jama’ahnya, selain itu Ulama-ulamaan tersebut sering merebut panggung bertabrakan dalam arus sosial yang tajam. Sehingga masyarakat awam --seperti alfaqir ini-- sering bertabrakan satu samalain dalam furu’iyah, ubudiyah sosial, serta politik yang tidak sehat.

Mungkin al-Hikam menjawab permasalahan ini dengan cara tetaplah mendudukkan diri pada maqom asbab jika oleh Allah Ta’ala kalian ditakdirkan berada pada maqom asbab, dan tetaplah mendudukkan diri dimaqom tajrid jika Allah Ta’ala menghendaki kalian dimaqom tajrid.

Seseorang yang didudukkan oleh Allah Ta’ala pada maqom tajrid, kedudukan yang bi ghoiri yuhtasab, atau kedudukan tanpa banyak keterkaitan asbab. Jika ia mendudukkan dirinya pada maqom asbab maka dirinya layaknya terlempar dari kedudukan yang tinggi.

Tashawwur (gambanrannya) seperti bos yang mendudukan dirinya sebagai pekerja, guru yang mendudukkan dirinya sebagai murid, atau Ulama yang terlampaui akan tetapi mendudukakan dirinya pada maqom santri bahkan awam. Maka mereka seperti terlempar dari kedudukan yang tinggi, muru’ah serta harga dirinya tertawan oleh tingkah lakunya sendiri.
Demikian, semoga bermanfaat!
InsyaAllah, minggu depan kita lanjutkan dengan maqolah setelahnya. Betapa banyak orang yang terlihat tanpa pengaruh dimata penghuni dunia tapi diperhitungkan oleh penduduk langit, waqila disebabkan memilih selamat dari pada terlihat hebat dimata manusia. Fafham!