01.02
Al-Fuḍayl bin ‘Iyāḍ (w. 187 H)
adalah seorang ulama besar, ahli ibadah, dan tokoh zuhud yang masyhur. Ia
tinggal di Marwa sebelum akhirnya menetap di Makkah hingga wafatnya.
Ia termasuk ulama yang sempat
ditemui dan diambil faedahnya oleh Imam al-Syafi‘i sebelum Imam al-Syafi‘i
ber-mulāzamāh (berguru secara intens) kepada Imam Mālik.
Di antara guru-gurunya yang
terkenal adalah Sufyān bin ‘Uyainah, ‘Abdullāh bin al-Mubārak, dan ulama besar
lainnya.
Masa Kelam dan Taubatnya
Pada masa mudanya, Al-Fuḍayl
dikenal sebagai pembegal di daerah mafāzah (padang tandus) antara Abiward dan
Marwa.
Allah kemudian membukakan pintu
taubat baginya dengan sebab yang menggetarkan hati.
Diriwayatkan bahwa ia memiliki
seorang kekasih perempuan. Ketika suatu malam ia memanjat dinding untuk
menemuinya, tiba-tiba ia mendengar seseorang membaca firman Allah Ta‘ala:
﴿أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ
لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ﴾
“Bukankah telah datang waktunya
bagi orang-orang yang beriman untuk khusyuk hati mereka dalam mengingat Allah
dan terhadap kebenaran yang telah diturunkan?” (QS. Al-Ḥadīd: 16)
Mendengar ayat itu, Al-Fuḍayl pun
tersungkur dan berkata:
» بَلَى يَا رَبِّ، قَدْ آنَ«
“Benar, wahai Rabbku… sekaranglah
waktunya.”
Sejak saat itu ia bertaubat dengan
taubat yang tulus, meninggalkan dunia kejahatan, dan beralih menjadi hamba
Allah yang paling takut kepada-Nya.
Pujian Para Ulama
‘Abdullāh bin al-Mubārak berkata:
»مَا
عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ أَفْضَلُ مِنَ الْفُضَيْلِ بْنِ عِيَاضٍ«
“Di atas permukaan bumi ini, tidak
ada orang yang lebih utama daripada Al-Fuḍayl bin ‘Iyāḍ.”
Sedangkan Ibrāhīm bin Shammās
berkata:
“Aku mengetahui orang yang paling
faqih, paling wara‘, dan paling kuat hafalannya.
Yang paling kuat hafalannya adalah
Ibnu al-Mubārak,
yang paling wara‘ adalah Al-Fuḍayl
bin ‘Iyāḍ,
dan yang paling faqih adalah Wakī‘
bin al-Jarrāḥ.”
Penutup Maknawi
Kisah Al-Fuḍayl bin ‘Iyāḍ adalah
bukti hidup bahwa:
satu ayat Al-Qur’an bisa mengubah
jalan hidup seseorang,
taubat yang jujur mampu mengangkat
pelakunya dari kehinaan menjadi kemuliaan,
dan kedudukan di sisi Allah bukan
ditentukan oleh masa lalu, melainkan oleh kejujuran kembali kepada-Nya.
00.57
Imam al-Syāfi‘ī
(150–204 H) adalah salah satu imam
mujtahid terbesar dalam Islam. Nasab beliau bertemu dengan Rasulullah ﷺ pada ‘Abd Manāf, sehingga beliau masih
satu kabilah Quraisy dengan Nabi ﷺ.
Beliau lahir di Ghazzah
(Palestina) pada tahun 150 H, kemudian dibawa ibunya ke Makkah dan tumbuh besar
di sana.
Rihlah Ilmu di Makkah
Di Makkah, Imam al-Shāfi‘ī belajar
kepada para ulama besar, di antaranya:
Khalid bin Muslim az-Zanjī (Mufti
Makkah saat itu),
- Al-Fuḍayl bin ‘Iyāḍ,
- Sufyān bin ‘Uyainah,
- dan ulama Makkah lainnya.
Sejak kecil beliau dikenal
memiliki kecerdasan luar biasa, kekuatan hafalan, serta kedalaman pemahaman
bahasa Arab dan syair.
Rihlah ke Madinah
Pada usia sekitar 12 tahun, Imam
al-Shāfi‘ī melakukan rihlah ke Madinah dan berguru langsung kepada Imam Mālik.
Dari beliau, Imam al-Syāfi‘ī:
- menghafal kitab al-Muwaṭṭa’,
- mendalami hadis, fikih, dan adab
keilmuan,
- serta menyerap manhaj Ahl al-Ḥadīth
secara langsung.
Disebutkan bahwa pada usia 15
tahun, Imam al-Shāfi‘ī telah diberi izin untuk berfatwa, suatu hal yang sangat
jarang terjadi kecuali pada ulama besar.
Rihlah ke Yaman
Setelah itu, beliau rihlah ke
Yaman, dan mengambil ilmu dari beberapa ulama, di antaranya:
- Muṭarrif bin Māzin,
- Hishām bin Yūsuf al-Qāḍī,
- ‘Amr bin Abī Salamah,
- Yaḥyā bin Ḥassān.
Rihlah ke Irak dan Qaul Qadīm
Kemudian Imam al-Shāfi‘ī rihlah ke
Irak, pusat keilmuan rasional (ahl ar-ra’y) saat itu. Di sana beliau belajar
kepada ulama-ulama besar, seperti:
- Wakī‘ bin al-Jarrāḥ,
- Muḥammad bin al-Ḥasan al-Shaybānī,
- Ḥammād bin Usāmah,
- Ayyūb bin Suwayd ar-Ramlī,
- ‘Abd al-Wahhāb bin ‘Abd al-Majīd,
- Ismā‘īl bin ‘Ulayyah.
Pada fase ini beliau menyusun
kitab Al-Ḥujjah, yang merepresentasikan manhaj pemikirannya yang dikenal
sebagai qaul qadīm.
Pendapat-pendapat beliau mulai
diikuti, dan hadis-hadisnya diriwayatkan oleh para imam besar, di antaranya:
- Imam Aḥmad bin Ḥanbal,
- Abū Thawr,
- dan ulama lainnya.
Hijrah ke Mesir dan Qaul Jadīd
Setelah itu, Imam al-Syāfi‘ī
pindah ke Mesir. Di sana beliau melakukan banyak pembaharuan pemikiran fikih,
hasil penggabungan:
- kekuatan hadis Madinah,
- kedalaman qiyas Irak,
- dan kematangan istidlal pribadi.
Pendapat-pendapat beliau di Mesir
dikenal dengan istilah qaul jadīd.
Pada fase ini beliau menyusun
karya-karya monumentalnya:
- Kitab Al-Umm dalam fikih,
- Kitab ar-Risālah dalam ushul
fikih, yang menjadi fondasi ilmu ushul fikih klasik.
Pujian Imam Ahmad
Imam Aḥmad bin Ḥanbal berkata
tentang Imam al-Shāfi‘ī:
«كَانَ الشَّافِعِيُّ كَالشَّمْسِ لِلدُّنْيَا،
وَكَالْعَافِيَةِ لِلنَّاسِ»
“Imam al-Shāfi‘ī itu bagaikan matahari bagi dunia, dan bagaikan
obat (penyembuh) bagi manusia.”