Ulinuha Asnawi

Catatan Ilmu Alat · Nahwu · Shorof · Alfiyah · Balaghah

Fudlail bin ‘Iyadl

Al-Fuḍayl bin ‘Iyāḍ (w. 187 H) adalah seorang ulama besar, ahli ibadah, dan tokoh zuhud yang masyhur. Ia tinggal di Marwa sebelum akhirnya menetap di Makkah hingga wafatnya.

 

Ia termasuk ulama yang sempat ditemui dan diambil faedahnya oleh Imam al-Syafi‘i sebelum Imam al-Syafi‘i ber-mulāzamāh (berguru secara intens) kepada Imam Mālik.

Di antara guru-gurunya yang terkenal adalah Sufyān bin ‘Uyainah, ‘Abdullāh bin al-Mubārak, dan ulama besar lainnya.

 

Masa Kelam dan Taubatnya

 

Pada masa mudanya, Al-Fuḍayl dikenal sebagai pembegal di daerah mafāzah (padang tandus) antara Abiward dan Marwa.

Allah kemudian membukakan pintu taubat baginya dengan sebab yang menggetarkan hati.

 

Diriwayatkan bahwa ia memiliki seorang kekasih perempuan. Ketika suatu malam ia memanjat dinding untuk menemuinya, tiba-tiba ia mendengar seseorang membaca firman Allah Ta‘ala:

 

﴿أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ﴾

“Bukankah telah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk khusyuk hati mereka dalam mengingat Allah dan terhadap kebenaran yang telah diturunkan?” (QS. Al-Ḥadīd: 16)

 

Mendengar ayat itu, Al-Fuḍayl pun tersungkur dan berkata:

 

» بَلَى يَا رَبِّ، قَدْ آنَ«

“Benar, wahai Rabbku… sekaranglah waktunya.”

Sejak saat itu ia bertaubat dengan taubat yang tulus, meninggalkan dunia kejahatan, dan beralih menjadi hamba Allah yang paling takut kepada-Nya.

 

Pujian Para Ulama

‘Abdullāh bin al-Mubārak berkata:

 

»مَا عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ أَفْضَلُ مِنَ الْفُضَيْلِ بْنِ عِيَاضٍ«

“Di atas permukaan bumi ini, tidak ada orang yang lebih utama daripada Al-Fuḍayl bin ‘Iyāḍ.”

 

Sedangkan Ibrāhīm bin Shammās berkata:

 

“Aku mengetahui orang yang paling faqih, paling wara‘, dan paling kuat hafalannya.

Yang paling kuat hafalannya adalah Ibnu al-Mubārak,

yang paling wara‘ adalah Al-Fuḍayl bin ‘Iyāḍ,

dan yang paling faqih adalah Wakī‘ bin al-Jarrāḥ.”

 

Penutup Maknawi

 

Kisah Al-Fuḍayl bin ‘Iyāḍ adalah bukti hidup bahwa:

satu ayat Al-Qur’an bisa mengubah jalan hidup seseorang,

taubat yang jujur mampu mengangkat pelakunya dari kehinaan menjadi kemuliaan,

dan kedudukan di sisi Allah bukan ditentukan oleh masa lalu, melainkan oleh kejujuran kembali kepada-Nya.


Tidak ada komentar: