04.24
Kiai Kholil
Bangkalan (Madura), siapa yang tidak kenal dengan beliau? Ulama yang mumpuni
dengan segudang ilmu dan keramatnya, keilmuannya tidak pernah diragukan, sanad-nya
sambung sampai Rasulullah ShallalLahu ‘alaihi wasalam, selain itu beliau
juga terbukti menjadi pelopor isyarat berdirinya Jam’iyah Islam terbesar di
Nusantara, bahkan dunia, yaitu Nahdlatu ‘Ulama, yang dirintis oleh santrinya,
KH Hasyim Asy’ary.
Diantara kisah
keramat Mbah Kholil Bangkalan, bahwa diceritakan suatu hari Kiai Kholil
(Bangkalan) diminta untuk memimpin tahlil di kediaman seorang warga. Sampai di
rumah pemilik hajat, Mbah Kholil memimpin doa berikut tahlil tersebut. Akan tetapi
ada yang ganjil, biasanya bacaan tahlil dibacakan berulang-ulang, untuk kali
ini berbeda dengan Mbah Kholil. Laa ilaha illallaah.. beliau
membacanya hanya sekali saja, lantas salam dan pulang.
Melihat kejadian
itu, istri pemilik hajat marah-marah ngomel-ngomel kepada suaminya. Pasalnya,
pemberian berkat untuk Kiai Kholil, dengan bacaan tahlil tidak sebanding?
Akhirnya perempuan itu meminta suaminya untuk mendatangi kediaman Kiai Kholil.
Laki-laki yang tak begitu bersahabat dengan istrinya itu akhirnya meng-iya-kan
kehendak istrinya. Sesampai laki-laki itu sowan dan dapat bertemu Mbah Kholil,
ia mengatakan:
“Maaf Kiai,
kehadiran saya kesini atas permintaan istri saya. Dia merasa ganjil dengan
tahlil yang Kiai pimpin tadi.”
“Ada apa dengan tahlil?..oh yang bacaan tahlil cuma sekali itu? Kata Kiai Kholi,
tegas!
“Iya..kiai!” Kata
pemilik hajat.
“Pantas.. ampai
rumah, aku merasa tidak enak, nasinya masih utuh, saya taruh diatas lemari. Belum
dibuka santri-santri.”
Untuk menjelaskan
keganjilan itu, Kiai Kholil mengambil timbangan, kemudian beliau menimbang
selembar kertas bertuliskan kalimat Laa ilaha illallah dengan berkat nasi pemberian pemilik hajat itu.
Subhanallâh, setelah ditimbang, ternyata nasi berkat itu lebih ringan dari selembar
kertas yang bertuliskan kalimat tahlil itu.
“Makanya, aku hanya
membacakan satu kalimat tahlil saja. Karena bacaan itu sudah mencukupi untuk
bingkisan semua ahli kuburmu dan beratnya melebihi nasi berkat yang kamu
berikan kepadaku.”
23.42
Munajat
Dikegelapan malam. Tidak seperti biasanya. Hasrat untuk
munajat kembali memuncak, nampaknya segala alasan tak diterima oleh nafsu
amarah, yang biasanya gondeli (menghalangi) untuk berbuat baik, termasuk
keinginan bermunajat dimalam itu.
Saya-pun tergopoh-gopoh membagusi wudhu-ku. Allâhu akbar. Tak ketinggalan niat didalam hati,
semat-mata shalat lillâhi ta’alâ – hanya berharap ridla Allah Yang Maha
Pemurah –, saya melanjutkan bacaan wajib, dan meninggalkan bacaan sunah
termasuk membaca doa iftitaḫ.
Bismillâh ar-rahmân ar-rahîm.., entah kenapa, hatiku mulai bergetar. Ubun-ubunku mulai terasa
dingin-memudar, seakan ada yang menunjukiku ini nikmat tuhanmu, itu nikmat
tuhanmu, dan dia menyebut berbagai macam nikmat, termasuk nikmat dapat berdiri
tegak membaca kalam at-thayyibah, diwaktu itu. Lebih jauh.., dia seakan
menghakimiku, melucuti kewibawaanku. Dan aku ingat betul, dia mengatakan “lalu
nikmat mana yang sudah engkau syukuri?”.
Hanya malu yang aku rasakan, aku mengisyaratkan
pandanganku kebawah, nampak gambar masjid yang tak begitu jelas tertutup oleh
cahaya malam. Yang aku rasakan hanya tetesan air mata yang aku tahan. Aku mengelak.
Tapi tak mampu menahan, apalagi dosa-dosa yang nampak jelas bagaikan busur panah
yang menancapi tubuh-tubuhku, sesekali aku berharap “semoga tuhan Sang Pemurah,
memberikan luasNya ampunan”.
Alhamd lil-lâh rabb al-‘âlamîn, segala puji bagi-Mu, ya.. Allah. Tuhan semesta alam. Rupanya airmata-ku
masih hangat membasahi pipi. Entah kenapa ketika teringat lafal “alhamd lil-â..h” sosok guru agung itu membayangiku, aku tak ingat lagi apa itu khusyu’
dalam shalat-ku. Pasalnya beliau mengajariku banyak hal tentang hakikat lafal
yang agung itu. Orang-orang menyebutnya Kiai alhamdulillah.
Ar-rahmân ar-rahîm.., rupanya lafal yang agung itu kembali memusuhiku. Lagi-lagi dia
menusuki jiwaku, melucuti kewibawaan yang selama ini aku agung-agungkan.
Mâlik yawm ad-dîn.., “aduhai andaisaja aku dilahirkan kembali” kalimat itu membayangi jiwaku, aku ingat
betul, bukankah itu ucapan orang-orang kafir ketika nanti di hari pembalasan “yâ laitanî qaddamtu liḫayatî..”. bukankah selama ini tuhanmu selalu tampil dalam sifat rahman rahimNya,
bukankah tuhanmu selalu tampil dalam sifat pengasih dan penyayang-Nya. lalu
bagaimana jika nanti Dia tampil dengan sifat syadîd al-‘iqâb, apakah kamu kuat menahan dahsyat siksaan-Nya. Aku tidak menghiraukan,
sesekali aku ngapusi (menipu) diriku sendiri dengan dengan keagungan
ampunan-Nya... semoga!
Iyyâka na’bud wa iyyâka nasta’în.., kembali aku terus berharap ampunan-rahmatNya. Ya Allah, aku kembali
mengetuk pintu ampunan-Mu, jika engkau menolak kunjungan-ku dalam agungnya rumah
ampunan-Mu, lalu kepada siapa aku memohon? aku akan selalu menunggu, dan tak
kan berhenti mengetuk pintu-Mu, sehingga Engkau membukakan untuk-ku, yang hina
dihadapan-Mu. Karena aku adalah hamba-Mu dan Engkau adalah Tuhan-ku.
Ihdinâ ash-shirâth al-mustaqîm.., Ya Allah, tunjukilah aku hidayah lurus-Mu. Bukan jalan orang-orang yang
Engkau murka kepadanya, dan bukan pula orang-orang yang engkau sesatkan –
menyesatkan diri pada kebenaran – ghair al-maghdûb ‘alaihim wa la ad-dlâllîn... amî..n.
Akupun melanjutkan seperti orang-orang yang sedang
shalat, mulai bertakbir, bertahmid, bershalawat, rukuk, bersujud dan seterusnya,
hingga.., salam.
Tak terasa, gambar masjid itu-pun basah oleh airmataku.
Jum’at, 11/02/2016
12.05
Hikmah maqalah penghidup
sunah (muhy as-sunnah), pembunuh bid’ah (mumit al-bid’ah), Qutb
ghauts, Syaikh Abdul Qadir al-Jilany, “Tentang Munajat”
Wahai hamba Allah (‘âbid), jadilah hamba yang cerdas (‘uqalâ’). Berusalah
– berijtihad sekuat kemampuanmu - untuk mengetahui seberapa pengabdianmu kepada
Allah -,. Mintalah kepada Allah segala hajat kebutuhanmu, pada waktu malam dan
sianghari kalian, karena doa sendiri terhitung ibadah (‘ubûdiyah), baik disegerkan
permohonanmu atau tidak. Janganlah berhenti dari bermunjat memohon kepadaNya (tatahum),
janganlah minta disegerakan (tasta’jil), dan janganlah marah-marah
dalam berdoa (tasaum). Mintalah dengan kerendahan hati, dan jika
diakhirkan pemohonanmu (taakhkhar) janganlah engkau berpaling
meninggalkan berdoa memohon kepadanya (tata’arradhû), karena
sesungguhnya Dia lebih mengetahui – Mahatau – apa yang terbaik untuk kalian.
Jalâ’ al-Khawâtir, Shahifah: 88