Ulinuha Asnawi

Catatan Ilmu Alat · Nahwu · Shorof · Alfiyah · Balaghah

MUNAJAT



Munajat


Dikegelapan malam. Tidak seperti biasanya. Hasrat untuk munajat kembali memuncak, nampaknya segala alasan tak diterima oleh nafsu amarah, yang biasanya gondeli (menghalangi) untuk berbuat baik, termasuk keinginan bermunajat dimalam itu.
Saya-pun tergopoh-gopoh membagusi wudhu-ku. Allâhu akbar. Tak ketinggalan niat didalam hati, semat-mata shalat lillâhi ta’alâ – hanya berharap ridla Allah Yang Maha Pemurah –, saya melanjutkan bacaan wajib, dan meninggalkan bacaan sunah termasuk membaca doa iftita.
Bismillâh  ar-rahmân ar-rahîm.., entah kenapa, hatiku mulai bergetar. Ubun-ubunku mulai terasa dingin-memudar, seakan ada yang menunjukiku ini nikmat tuhanmu, itu nikmat tuhanmu, dan dia menyebut berbagai macam nikmat, termasuk nikmat dapat berdiri tegak membaca kalam at-thayyibah, diwaktu itu. Lebih jauh.., dia seakan menghakimiku, melucuti kewibawaanku. Dan aku ingat betul, dia mengatakan “lalu nikmat mana yang sudah engkau syukuri?”.
Hanya malu yang aku rasakan, aku mengisyaratkan pandanganku kebawah, nampak gambar masjid yang tak begitu jelas tertutup oleh cahaya malam. Yang aku rasakan hanya tetesan air mata yang aku tahan. Aku mengelak. Tapi tak mampu menahan, apalagi dosa-dosa yang nampak jelas bagaikan busur panah yang menancapi tubuh-tubuhku, sesekali aku berharap “semoga tuhan Sang Pemurah, memberikan luasNya ampunan”.
Alhamd lil-lâh rabb al-‘âlamîn, segala puji bagi-Mu, ya.. Allah. Tuhan semesta alam. Rupanya airmata-ku masih hangat membasahi pipi. Entah kenapa ketika teringat lafal “alhamd lil-â..h” sosok guru agung itu membayangiku, aku tak ingat lagi apa itu khusyu’ dalam shalat-ku. Pasalnya beliau mengajariku banyak hal tentang hakikat lafal yang agung itu. Orang-orang menyebutnya Kiai alhamdulillah.
Ar-rahmân ar-rahîm.., rupanya lafal yang agung itu kembali memusuhiku. Lagi-lagi dia menusuki jiwaku, melucuti kewibawaan yang selama ini aku agung-agungkan.
Mâlik yawm ad-dîn.., “aduhai andaisaja aku dilahirkan kembali”  kalimat itu membayangi jiwaku, aku ingat betul, bukankah itu ucapan orang-orang kafir ketika nanti di hari pembalasan “yâ laitanî qaddamtu liayatî..”. bukankah selama ini tuhanmu selalu tampil dalam sifat rahman rahimNya, bukankah tuhanmu selalu tampil dalam sifat pengasih dan penyayang-Nya. lalu bagaimana jika nanti Dia tampil dengan sifat syad al-‘iqâb, apakah kamu kuat menahan dahsyat siksaan-Nya. Aku tidak menghiraukan, sesekali aku ngapusi (menipu) diriku sendiri dengan dengan keagungan ampunan-Nya... semoga!
Iyyâka na’bud wa iyyâka nasta’în.., kembali aku terus berharap ampunan-rahmatNya. Ya Allah, aku kembali mengetuk pintu ampunan-Mu, jika engkau menolak kunjungan-ku dalam agungnya rumah ampunan-Mu, lalu kepada siapa aku memohon? aku akan selalu menunggu, dan tak kan berhenti mengetuk pintu-Mu, sehingga Engkau membukakan untuk-ku, yang hina dihadapan-Mu. Karena aku adalah hamba-Mu dan Engkau adalah Tuhan-ku.
Ihdinâ ash-shirâth al-mustam.., Ya Allah, tunjukilah aku hidayah lurus-Mu. Bukan jalan orang-orang yang Engkau murka kepadanya, dan bukan pula orang-orang yang engkau sesatkan – menyesatkan diri pada kebenaran – ghair al-maghdûb ‘alaihim wa la ad-dlâllîn... amî..n.
Akupun melanjutkan seperti orang-orang yang sedang shalat, mulai bertakbir, bertahmid, bershalawat, rukuk, bersujud dan seterusnya, hingga.., salam.
Tak terasa, gambar masjid itu-pun basah oleh airmataku.
Jum’at, 11/02/2016

Tidak ada komentar: