Ulinuha Asnawi

Catatan Ilmu Alat · Nahwu · Shorof · Alfiyah · Balaghah

KAROMAH WALI | Tahlil Kiai Kholil (Bangkalan)




Kiai Kholil Bangkalan (Madura), siapa yang tidak kenal dengan beliau? Ulama yang mumpuni dengan segudang ilmu dan keramatnya, keilmuannya tidak pernah diragukan, sanad-nya sambung sampai Rasulullah ShallalLahu ‘alaihi wasalam, selain itu beliau juga terbukti menjadi pelopor isyarat berdirinya Jam’iyah Islam terbesar di Nusantara, bahkan dunia, yaitu Nahdlatu ‘Ulama, yang dirintis oleh santrinya, KH Hasyim Asy’ary.

Diantara kisah keramat Mbah Kholil Bangkalan, bahwa diceritakan suatu hari Kiai Kholil (Bangkalan) diminta untuk memimpin tahlil di kediaman seorang warga. Sampai di rumah pemilik hajat, Mbah Kholil memimpin doa berikut tahlil tersebut. Akan tetapi ada yang ganjil, biasanya bacaan tahlil dibacakan berulang-ulang, untuk kali ini berbeda dengan Mbah Kholil. Laa ilaha illallaah.. beliau membacanya hanya sekali saja, lantas salam dan pulang.

Melihat kejadian itu, istri pemilik hajat marah-marah ngomel-ngomel kepada suaminya. Pasalnya, pemberian berkat untuk Kiai Kholil, dengan bacaan tahlil tidak sebanding? Akhirnya perempuan itu meminta suaminya untuk mendatangi kediaman Kiai Kholil. Laki-laki yang tak begitu bersahabat dengan istrinya itu akhirnya meng-iya-kan kehendak istrinya. Sesampai laki-laki itu sowan dan dapat bertemu Mbah Kholil, ia mengatakan:

“Maaf Kiai, kehadiran saya kesini atas permintaan istri saya. Dia merasa ganjil dengan tahlil yang Kiai pimpin tadi.”

“Ada apa dengan tahlil?..oh yang bacaan tahlil cuma sekali itu? Kata Kiai Kholi, tegas!

“Iya..kiai!” Kata pemilik hajat.
“Pantas.. ampai rumah, aku merasa tidak enak, nasinya masih utuh, saya taruh diatas lemari. Belum dibuka santri-santri.”

Untuk menjelaskan keganjilan itu, Kiai Kholil mengambil timbangan, kemudian beliau menimbang selembar kertas bertuliskan kalimat Laa ilaha illallah  dengan berkat nasi pemberian pemilik hajat itu. Subhanallâh, setelah ditimbang, ternyata nasi berkat itu lebih ringan dari selembar kertas yang bertuliskan kalimat tahlil itu.


“Makanya, aku hanya membacakan satu kalimat tahlil saja. Karena bacaan itu sudah mencukupi untuk bingkisan semua ahli kuburmu dan beratnya melebihi nasi berkat yang kamu berikan kepadaku.”


Tidak ada komentar: