Ulinuha Asnawi

Catatan Ilmu Alat · Nahwu · Shorof · Alfiyah · Balaghah

Hukum Atau Status Budaya Kado Pernikahan (Amplop “Buwuhan” )

Di sebagian masyarakat terbangun suatu tradisi yang menarik saat menyelenggarakan walimah kemanten, khitanan atau ulang tahun, yang mana para tetangga atau sahabat dan handai taulan mendatangi undangan acara tersebut dengan membawa dan memberikan kado atau uang “buwuhan” (istilah jawa) kepada kemanten atau penyelenggara.
Bagaimanakah tradisi buwuhan yang terjadi di masyarakat dilihat dari aspek hukum agama?
Dalam hal ini ulama terjadi perbedaan pendapat:



a. Hadiah, kado atau “buwuhan” statusnya sebagai Hibah .

b. Hadiah, kado atau “buwuhan” statusnya sebagai 
Hutang .





ﻋِﺒَﺎﺭَﺓُ ﺍﻟﺘُّﺤْﻔَﺔِ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻯ ﻳَﺘَّﺠِﻪُ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨُّﻘُﻮْﻁِ ﺍﻟْﻤُﻌْﺘَﺎﺩِ ﻓِﻲﺍْﻻَﻓْﺮَﺍﺡِ ﺃَﻧَّﻪُ ﻫِﺒَﺔٌ ﻭَﻻَ ﺃَﺛَﺮٌ ﻟِﻠْﻌُﺮْﻑِ ﻓِﻴْﻪِ ﻻِﺿْﻄِﺮَﺍﺭِ ﺑِﻪِﻣَﺎﻟَﻢْ ﻳَﻘُﻞْ ﺧُﺬْﻩُ ﻣَﺜَﻼًَ ﻭَﻳَﻨْﻮِﻯ ﺍﻟْﻘَﺮْﺽَ ﻭَﻳَﺼْﺪِﻕُ ﻓِﻲ ﻧِﻴَﺔِ ﺫَﻟِﻚَ ﻫُﻮَ ﺃَﻭْﻭَﺍﺭِﺛُﻪُ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﻫَﺬَﺍ ﻳَﺤْﻤِﻞُ ﺇِﻃْﻼَﻕُ ﺟَﻤْﻊٍ ﺃَﻧَّﻪُﻗَﺮْﺽٌ ﺃَﻯْ ﺣُﻜْﻤًﺎ ﺛُﻢَّ ﺭَﺃَﻳْﺖُ ﺑَﻌْﻀَﻬُﻢْ ﻟِﻤَﺎ ﻧَﻘُﻞْ ﻗَﻮْﻝَﻫَﺆُﻻَﺀِ . ﻭَﻗَﻮْﻝُ ﺍﻟْﺒَﻠْﻘِﻴْﻨِﻰ ﺃَﻧَّﻪُ ﻫِﺒَﺔٌ ﻗَﺎﻝَ ﻭَﻳَﺤْﻤِﻞُ ﺍْﻷَﻭَّﻝِﻋَﻠَﻰ ﻣَﺎ ﺍْﻋﺘَﻤَﺪَ ﺍﻟﺮُّﺟُﻮْﻉ ﺑِﻪِﻭَﺍﻟﺜَّﺎﻧِﻰ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺎﻟَﻢْ ﻳَﻌْﺘَﺪُّﻗَﺎﻝَ ِﻹِﺧْﺘِﻼَﻓِﻪِ ﺑِﺄَﺣْﻮَﺍﻝِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻭَﺍﻟْﺒِﻼَﺩِ ﺇﻫـــ ﻭَﺣَﺎﺻِﻠُﻪُﺃَﻧَّﻪُ ﻣَﺤَﻠُّﻪُ ﺇِﺫَﺍ ﺩَﻓَﻊَ ﻟِﺼَﺎﺣِﺐِ ﺍﻟْﻔَﺮَﺡِ ﻓِﻲ ﻳَﺪِﻩِ ﻓَﺈِﻥَّ ﺩَﻓْﻊَﻟِﻠِﺨَﺎﺗِﻦِ ﻓَﻼَﺭُﺟُﻮْﻉَ ﻭَﻓِﻲ ﺣَﺎﺷِﻴَﺔِ ﺍﻟْﺒُﺠَﻴْﺮَﻣِﻰ ﻋَﻠَﻰﺷَﺮْﺡِ ﺍﻟْﻤِﻨْﻬَﺎﺝِ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻱْ ﺗَﺤَﺮَّﺭَ ﻣِﻦْ ﻛَﻼَﻡِ ﺍﻟﺮَّﻣْﻠِﻰ ﻭَﺍﺑْﻦِﺣِﺠْﺮِ ﻭَﺣَﻮَﺍﺷِﻴْﻬِﻤَﺎ ﺃَﻧَّﻪُ ﻻَﺭُﺟُﻮْﻉَ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨُّﻘُﻮْﻁِ ﺍﻟْﻤُﻌْﺘَﺎﺩِﻓِﻲ ﺍْﻷَﻓْﺮَﺍﺡِ ﺃﻯ ﻻَﻳَﺮْﺟِﻊُ ﺑِﻪِ ﻣَﺎﻟِﻜُﻪُ ﺇِﺫَﺍ ﻭَﺿَﻌَﻪُ ﻓِﻲ ﻳَﺪِﺻَﺎﺣِﺐِ ﺍﻟْﻔَﺮَﺡِ ﺃَﻭْﻳَﺪِ ﻣَﺄْﺫُﻭْﻧِﻪِ ﺇِﻻَّ ﺑِﺸُﺮُﻭْﻁٍ ﺛَﻼَﺛَﺔٍﺃَﻥْ َﻳﺄَﺗْﻰِ ﺑِﻠَﻔْﻆِ ﻛَﺨُﺬْ ﻭَﻧَﺤْﻮِﻩِ ﻭَﺃَﻥْ ﻳَﻨْﻮِﻯ ﺍﻟﺮُّﺟُﻮْﻉَ ﻭَﻳَﺼْﺪِﻕُ ﻫُﻮَ ﺃَﻭْ ﻭَﺍﺭِﺛُﻪُ ﻓِﻴْﻬَﺎ ﻭَﺃَﻥْ ﻳَﻌْﺘَﺎﺩَ ﺍﻟﺮُّﺟُﻮْﻉَ ﻓِﻴْﻪِﻭَﺇِﺫَﺍ ﻭَﺿَﻌَﻪُ ﻓِﻲ ﻳَﺪِ ﺍﻟْﻤُﺰَﻳَّﻦِ ﻭَﻧُﺤُﻮﻩُ ﺃَﻭْ ﻓِﻲ ﺍﻟﻄَّﺎﺳَﺔِﺍﻟْﻤَﻌْﺮُﻭْﻓَﺔِﻻَﻳَﺮْﺟِﻊُ ﺇِﻻَّ ﺑِﺸَﺮْﻃَﻴْﻦِ ﺇِﺫَﻥْ ﺻَﺎﺣَﺐُ ﺍﻟْﻔَﺮَﺡِﻭَﺷَﺮْﻁِ ﺍﻟﺮُّﺟُﻮْﻉِ ﻛَﻤَﺎ ﺣَﻘَّﻘَّﻪ ﺷَﻴْﺨُﻨَﺎ ﺡ ﻑ ﺇﻫـــ
(ﺍﻋﺎﻧﺔﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ ﺝ 3 ﺹ 51)

Artinya : adapun ungkapan yang terdapat dalam kitab tuhfah yaitu : pendapat yang dianggap kuat tentang hadiah perkawinan (kado/uang) yaitu sebagai hibah (pemberian), keumuman masyarakat menghutangi dan tidak mengatakan “Ambillah”. Atas dasar( menghutangi atau mengatakan ambillah) golongan ulama memutlakkan sebagai hutang, kemudian saya melihat sebagian ulama yang lain seperti Imam Bulqini berpendapat sebagai Hibah (Pemberian). Dan mereka juga berkata, bisa diarahkan ke hutang apabila adatnya hadiah dikembalikan lagi, dan diarahkan ke hibah ketika adatnya tidak dikembalikan.
I’anah At-Thalibin, Juz 3 hal 51.

Penjelasan :
Status Hadiah, kado atau “buwuhan” sebagai hibah bilamana si Pemberi Hadiah, kado atau “buwuhan” tidak berniat untuk menghutangi kepada penyelenggara walimah.

Status Hadiah, kado atau “buwuhan” sebagai hutang, bilamana si Pemberi menyerahkan kepada yang di hiasi (Seperti penganten) atau ditempat yang disediakan dan terjadi adat kebiasaan uang Hadiah, kado atau “buwuhan” dikembalikan lagi.

Tidak ada komentar: